Denpasar - Sejumlah daerah di Indonesia yang pernah mendapat pengaruh dari kerajaan Majapahit, mewarisi berbagai ragam bentuk keris dengan kekhasan masing-masing yang awalnya berfungsi sebagai senjata tikam dalam berperang.
         
"Kekhasan keris pusaka dari masing-masing daerah itu menyangkut penampilan, fungsi, teknik garapan dan peristilahan," kata Guru Besar Fakultas Sasra Universitas Udayana Prof I Nyoman Weda Kusuma di Denpasar, Kamis.
         
Ketika tampil sebagai pembicara dalam sarasehan  "Penguatan keris sebagai representasi pusaka dan peradaban bangsa" yang digelar dalam kaitan Hari Tumpek Landep yang dirayakan Sabtu (30/6), ia menilai, penggunaan keris hingga kini masih tersebar di masyarakat.
         
Masyarakat yang masih menggunakan keris di daerah bekas pengaruh kerajaan Majapahit antara lain Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, semenanjung Thailand selatan dan Filipina selatan.
         
Weda Kusuma menjelaskan, kekayaan dan keragaman keris Nusantara sampai saat ini belum diketahui secara pasti, karena tidak ada sumber-sumber tertulis yang deskriptif dari masa sebelum abad ke-15.
         
Meskipun penyebutan istilah keris telah tercantum dalam prasasti abad kesembilan masehi, namun kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan atas analisis figur di relief candi.
         
Keris yang awalnya berfungsi sebagai senjata tikam golongan belati, yakni berujung runcing dan tajam kedua sisinya kini mempunyai banyak fungsi budaya di kawasan Indonesia bagian barat dan tengah.
         
Dari segi bentuk mempunyai kekhasan yang mudah dibedakan dengan senjata tajam lainnya, karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar. Bahkan sering kali bilahnya berliku-liku.
         
Keris memiliki pamor yakni guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam itu memiliki kemiripan dengan keris adalah badik, pada masa lalu berfungsi untuk berperang, sekaligus benda pelengkap upacara. (I006)


Pewarta :
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026