Kudus, (ANTARA Sulteng) - Pengrajin batik tulis di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dituntut kreatif dalam menciptakan motif batik terbaru guna mengatasi kasus penjiplakan yang sering terjadi, kata Pemilik Sanggar Muria Batik Kudus Yuli Astuti.

"Sebetulnya, kami sudah berupaya mendapatkan hak cipta atas beberapa motif batik tulis khas Kudus dengan mendaftarkan ke Kementerian Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia untuk meminimalkan kasus penjiplakan," ujarnya di Kudus, Senin.

Akan tetapi, lanjut dia, dari 15 motif batik yang didaftarkan ke Kemenkumham untuk mendapatkan hak cipta sejak Januari 2010, yang diterima hanya sebagian motif.

Motif batik khas Kudus yang diterima tersebut, kata dia, merupakan hasil inovasi sendiri, sedangkan motif batik klasik khas Kudus tidak bisa mendapatkan hak cipta.

Untuk mendapatkan hak cipta atas motif batik klasik tersebut, katanya, hambatannya terjadi para proses pembuatan narasi filosofinya mengalami kesulitan.

"Jika Pemkab Kudus yang mengurusnya, tentunya memungkinkan karena tidak diklaim oleh perorangan, tetapi institusi," ujarnya.      

Menurut dia, upaya menghadapi kasus penjiplakan, salah satunya para pengrajin batik dituntut kreatif dan inovatif dalam menghasilkan motif batik terbaru.

"Jika kita selalu membuat desain batik tulis yang baru dan sesuai tren terbaru, tentunya para penjiplak akan mengalami kesulitan untuk mengikutinya," ujarnya.

Kasus penjiplakan motif batik, kata dia, tidak perlu disikapi secara berlebihan, karena bisa dijadikan spirit untuk membuat motif batik terbaru.

Apalagi, kata dia, untuk melakukan upaya hukum, dimungkinkan sulit ditempuh oleh pengrajin dengan skala UMKM karena keterbatasan biaya dan waktu yang harus diluangkan untuk mengurusi persoalan tersebut.

Ia mengakui penjiplakan motif batik tulis bisa merugikan pengrajin batik karena harga jual produk batik cetak di pasaran jauh lebih murah dibandingkan dengan produk batik tulis.

Meski demikian, dia mengaku, tetap optimistis pangsa pasar batik tulis tidak akan terlalu terpengaruh dengan batik cetak karena pangsa pasarnya berbeda.  

Selain itu, lanjut dia, motif batik tulis yang dijiplak tidak akan berlangsung lama karena pengrajin batik tulis sudah termotivasi untuk menciptakan motif batik yang baru sesuai dengan tren motif terbaru.

Dengan kejadian tersebut, dia justru terpacu untuk terus berkarya dan berinovasi dalam membuat motif batik tulis yang baru dan sesuai selera pasar. (ANT)