Denpasar (antarasulteng.com) - Isak tangis dan emosi pecah dari para guru SDN 12 Kesiman, Sanur, Denpasar, Bali, ketika kantong berwarna oranye dikeluarkan oleh polisi dari sebuah rumah di Jalan Sedap Malam Nomor 26 Denpasar, Rabu.

"Angeline...Angeline," panggil seorang guru wanita dan anak-anak dari sekolah itu sembari menangis sesenggukan menatap kantong jenazah tersebut membelah kerumumanan warga.

Di dalam kantong itulah tubuh mungil Angeline, bocah berusia delapan tahun yang sebelumnya dikabarkan hilang sejak Sabtu (16/5) terbujur kaku.

Tubuhnya kemudian diangkut ke dalam mobil ambulance untuk dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, guna keperluan otopsi.

"Kami menemukan ada kekerasan pada tubuh korban yang utamanya di daerah wajah dan leher berupa kekerasan tumpul," kata dr Ida Bagus Putu Alit, tim dokter forensik RSUP Sanglah.

Indikasi bocah itu tewas karena mengalami kekerasan pun mencuat di balik misteri kematian Angeline.

Mengapa Angeline yang dilaporkan hilang oleh ibu angkatnya, Margaret, ternyata ditemukan dikubur di halaman belakang rumahnya? dan siapa pula yang tega melakukan hal itu?.

Tanya demi tanya seakan tidak berhenti muncul dari masyarakat Indonesia dan menjadi tugas pihak kepolisian menjawab sebab musabab kematian murid SD kelas 2-B itu.

Penemuan jasad gadis cilik itu berawal dari kecurigaan petugas kepolisian yang selama beberapa hari terakhir melakukan penyelidikan terhadap kasus hilangnya Angeline.

Polisi kembali menyisir ulang rumah tersebut pada Rabu siang sekitar pukul 11.30 WITA.

Di halaman belakang rumah yang ditanami pohon pisang dan terdapat kandang-kandang ayam itu, polisi mendapati gundukan tanah yang tidak beraturan dan ditutupi sampah.

Sebelum menemukan jasad Angeline, polisi membongkar dua gundukan tanah yang berada di ujung tembok halaman belakang rumah itu.

Hingga akhirnya polisi membongkar gundukan ketiga ditutupi sampah yang berada di depan kandang-kandang ayam dan menemukan jasad Angeline.

Polisi bersama tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar dan instansi terkait lainnya mengangkat jasad Angeline sekitar pukul 12.30 WITA.

"Kami maksimalkan hasil pengolahan di lokasi kediaman Angeline. Akhirnya kami putuskan untuk memeriksa kembali. Dengan upaya maksimal, kami akhirnya menemukan bahwa Angeline dalam keadaan telah meninggal dunia," kata Kepala Polda Bali Inspektur Jenderal Polisi Ronny Sompie.

Saat ditemukan, kondisi jasad Angeline dalam keadaan tertelungkup terbungkus selimut atau "bed cover" pada kedalaman kurang dari dua meter.

Polisi juga mendapati jeratan tali menyerupai tali gorden di leher korban.

Angeline yang ditemukan tengah memeluk boneka berwujud wanita korea, menambah pilu kematian bocah malang itu.

Sesaat kemudian, polisi menggelar olah tempat kejadian perkara yang dilakukan tim Identifikasi, Tim Laboratorium Forensik dan Inafis Polda Bali mencatat dan mendokumentasikan setiap sudut di kediaman korban yang berada di pinggir jalan raya itu.

Petugas memasang garis polisi di rumah yang sebagian tertutup pohon besar tersebut untuk mengamankan lokasi dari pihak yang tidak berkepentingan
   
Keluarga diperiksa

Saat polisi mendapati jasad Angeline, tidak ada satupun anggota keluarga angkat bocah malang itu di kediaman tersebut.

Ternyata keluarga angkat korban kini tengah diperiksa oleh penyidik Satuan Reserse Kriminal Umum Kepolisian Resor Kota Denpasar.

Mereka yang diperiksa yakni Margaret, ibu angkat berserta dua saudara angkat Angeline.

Selain itu, polisi juga memeriksa Agus yang merupakan pembantu rumah tangga, dua penghuni kos yang tinggal di kediaman tersebut dan petugas satuan pengamanan (satpam) yang disewa khusus oleh Margaret sejak beberapa hari lalu untuk menjaga rumah tersebut.

Mereka diperiksa terkait penemuan jasad Angeline di halaman belakang rumah tersebut. Meski demikian, polisi belum bisa menyimpulkan siapa pelaku pembunuhan Angeline termasuk belum adanya penetapan status tersangka.

"Kami belum tahu siapa yang menjadi penyebab kematian Angeline tetapi orang yang dekat Angelie semua harus kita periksa baik sebagai saksi maupun sebagai calon tersangka apabila mengarah kepada yang bersangkutan yang layak menjadi penyebab kematian," ucap mantan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri itu.

Penuh Kejanggalan

Angeline dikabarkan hilang pada Sabtu (16/5) di depan rumahnya di Jalan Sedap Malam Denpasar sekitar pukul 15.00 WITA.

Namun penasehat hukum pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah, menilai banyak kejanggalan yang meliputi sejak Angeline dilaporkan hilang hingga ditemukan tewas.

Sejak awal, aktivis anak itu bahkan menyatakan keyakinannya jika bocah tersebut hilang karena dibunuh bukan karena diculik atau menghilang karena melarikan diri.

Indikasi itu, lanjut dia, berangkat dari minimnya petunjuk dan saksi dari warga sekitar yang menandakan atau melihat bocah cantik itu diculik orang lain.

Pun jika ia melarikan diri dari rumah, ia yakin Angeline akan ditemukan oleh orang lain dan dilaporkan kepada pihak berwajib.

"Kemungkinan apakah anak ini dihilangkan, atau dikubur atau dibunuh itu ada sebenarnya, dugaan ke arah sana itu ada," ucapnya ketika menemui Kepala Polsek Denpasar Timur Komisaris Polisi I Gede Redastra pada Senin (1/6).

Dugaan Siti itupun benar adanya karena sepuluh hari kemudian polisi menemukan jasad korban dikubur di halaman belakang rumahnya.

Kabar hilangnya bocah bertubuh kurus itu pun terus menyebar melalui media sosial. Bahkan sejumlah lembaga swadaya masyarakat lokal dan asing yakni Yayasan Sahabat Bali dan "Savechildhoods" yang berkedudukan di Inggris juga turut mencari bocah itu pada Rabu (3/6).

Beberapa komunitas masyarakat mulai dari ibu-ibu warga negara asing, turis mancanegara, pecinta motor gede, hingga teman-teman sekolah Angeline ikut bergabung menjadi sukarelawan menyebarkan brosur berisi foto dan identitas bocah berambut panjang itu.

Brosur itu disebarkan di sepanjang jalan raya yang kerap kali dilalui Angeline saat berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer.

Bahkan pada saat itu, Margaret dan kedua kakak angkatnya juga turut berjalan kaki menyebarkan brosur berhadiah hingga Rp40 juta apabila menemukan Angeline.

Acara tersebut dibuka oleh Kapolda Bali Inspektur Jenderal Ronny Sompie dan Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait yang turut berjalan kaki membagikan brosur Angeline.

Tak hanya itu, "orang pintar" pun juga turut dikerahkan mencari bocah itu secara tidak nyata.

Semasa hidupnya, di kalangan guru-guru di SDN 12 Kesiman Sanur, Angeline dikenal merupakan sosok yang pendiam dan jarang bergaul dengan teman-temannya.

Putu Sri Wijayanti, Wali Kelas 2-B menjelaskan bahwa Angeline memiliki kepribadian tertutup dan terkadang tidak mengikuti pelajaran tepat waktu karena sering terlambat datang ke kelas.

Menurut dia, Angeline kerap terlambat karena harus memberi makan ayam peliharaan Margaret sebelum ke sekolah dan harus berjalan kaki ke sekolah.

Bahkan, ia bersama guru lainnya sempat memandikan bocah malang itu karena penampilannya yang kotor dan bau kotoran ayam.

"Saya pernah memandikan dia di sekolah. Kasihan, badannya kotor," ucapnya.

Melihat kondisi itu, pihak sekolah sebelumnya berencana mendatangi kediaman Angeline untuk menemui orangtua angkatnya setelah pelaksanaan Ujian Nasional.

Meluasnya pemberitaan oleh awak media, juga sampai ke telinga Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi dan Menteri Perempuan dan Anak, Yohana Yembise yang secara terpisah mengunjungi kediaman Angeline.

Namun pejabat pembantu Presiden Joko Widodo itu gagal menemui keluarga terutama Margaret padahal Yohana mengaku telah memberi tahu pihak keluarga terkait kunjungannya itu sebagai bentuk kepedulian negara atas kabar hilangnya Angeline.

Menteri Yohana pun mengaku kecewa dan meminta polisi untuk menahan sang ibu angkat.

"Saya kecewa dan saya menaruh curiga kepada ibu itu. Seharusnya anak hilang, ibu itu ada di rumah. Saya minta kepada pihak kepolisian agar mereka ditahan," ucap Yohana saat mengunjungi kediaman Angeline pada Sabtu (6/6).

Hingga kini polisi masih mengungkap kematian Angeline, walaupun dari hasil otopsi menyebutkan bahwa bocah itu mengalami kekerasan akibat terkena benda tumpul hingga menyebabkan ia tewas.

Masyarakat Indonesia pun kini menunggu "jawaban" polisi atas pertanyaan-pertanyaan itu, mengungkap siapa pelaku dan motif pembunuhan yang melatarbelakangi akhir hidup Angeline yang tragis.(KR-WGN)

Pewarta : Dewa Wiguna
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2024