Permintaan global baterai litium melonjak lima kali lipat pada 2030
Kamis, 16 Februari 2023 8:01 WIB
Foto Dokumen: Paket baterai lithium terlihat di stan Lexus selama pameran otomotif Auto China 2016 di Beijing, China, 29 April 2016. ANTARA/REUTERS/Damir Sagolj
New York (ANTARA) - Permintaan global untuk baterai lithium diperkirakan akan melonjak lebih dari lima kali lipat pada tahun 2030, kata aliansi publik-swasta Li-Bridge pada Rabu (15/2/2023), karena lebih banyak orang memilih kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Permintaan baterai lithium di Amerika Serikat diperkirakan akan tumbuh lebih dari enam kali lipat dan diterjemahkan menjadi 55 miliar dolar AS per tahun pada akhir dekade ini, tetapi negara tersebut diperkirakan masih bergantung pada impor untuk pasokannya, tambah laporan itu.
Li-Bridge berupaya mempercepat pengembangan rantai pasokan yang kuat untuk baterai berbasis litium dan koordinasi dipimpin oleh Argonne National Laboratory yang didanai oleh Departemen Energi AS.
Permintaan kendaraan listrik (EV) telah melonjak selama beberapa tahun terakhir, karena konsumen yang sadar iklim membeli mobil dengan powertrain listrik, di tengah melonjaknya harga bahan bakar fosil.
Baterai lithium yang akan memberi daya pada berbagai kendaraan selama beberapa tahun ke depan juga akan sangat penting untuk sistem militer dan elektronik konsumen, medis, dan industri.
Menurut laporan Li-Bridge, dalam kondisi saat ini perusahaan dan pekerja AS akan menangkap kurang dari 30 persen nilai sel yang dikonsumsi di dalam negeri.
"Kurangnya rantai pasokan baterai lithium yang substansial di Amerika Serikat dan kurangnya akses yang aman ke bahan energi menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional dan ekonomi AS," kata Li-Bridge.
Baca juga: Indonesia tertunda peluang menjadi pemain global industri baterai
Baca juga: Menteri Investasi: Tesla akan investasi ekosistem baterai dan mobil listrik
Baca juga: Menteri Investasi inginkan Indonesia dikenal negara produsen baterai listrik
Permintaan baterai lithium di Amerika Serikat diperkirakan akan tumbuh lebih dari enam kali lipat dan diterjemahkan menjadi 55 miliar dolar AS per tahun pada akhir dekade ini, tetapi negara tersebut diperkirakan masih bergantung pada impor untuk pasokannya, tambah laporan itu.
Li-Bridge berupaya mempercepat pengembangan rantai pasokan yang kuat untuk baterai berbasis litium dan koordinasi dipimpin oleh Argonne National Laboratory yang didanai oleh Departemen Energi AS.
Permintaan kendaraan listrik (EV) telah melonjak selama beberapa tahun terakhir, karena konsumen yang sadar iklim membeli mobil dengan powertrain listrik, di tengah melonjaknya harga bahan bakar fosil.
Baterai lithium yang akan memberi daya pada berbagai kendaraan selama beberapa tahun ke depan juga akan sangat penting untuk sistem militer dan elektronik konsumen, medis, dan industri.
Menurut laporan Li-Bridge, dalam kondisi saat ini perusahaan dan pekerja AS akan menangkap kurang dari 30 persen nilai sel yang dikonsumsi di dalam negeri.
"Kurangnya rantai pasokan baterai lithium yang substansial di Amerika Serikat dan kurangnya akses yang aman ke bahan energi menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional dan ekonomi AS," kata Li-Bridge.
Baca juga: Indonesia tertunda peluang menjadi pemain global industri baterai
Baca juga: Menteri Investasi: Tesla akan investasi ekosistem baterai dan mobil listrik
Baca juga: Menteri Investasi inginkan Indonesia dikenal negara produsen baterai listrik
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Andriy Karantiti
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia siap jadi produsen kendaraan listrik dan industri baterai lithium
26 July 2020 15:03 WIB, 2020
Luhut: Hilirisasi nikel bisa jadikan Indonesia pemain utama baterai lithium
26 July 2020 0:02 WIB, 2020
Saat bertemu Mendag AS, Luhut sampaikan dunia kini mulai terintegrasi
07 November 2019 9:20 WIB, 2019
OPINI - Tol Tambu-Kasimbar dan baterai lithium, magnit baru investasi Sulawesi Tengah
18 August 2019 19:37 WIB, 2019