Parigi, Sulteng (ANTARA) - Bupati Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), Erwin Burase segera membuat program pemutaran film edukasi kepada peserta didik untuk peningkatan kualitas pendidikan.

"Kami ingin generasi penerus memiliki pemahaman dan pengetahuan yang kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan, maka salah satu agenda yang kami susun melalui program pemutaran film yang bernuansa edukasi terkait sejarah bangsa Indonesia maupun film yang mendidik lainnya," kata Erwin Burase di Parigi, Minggu.

Ia menjelaskan sekitar era 70-an hingga 90-an pemerintah sering memutar film-film edukasi kepada masyarakat. Saat ini program tersebut kembali diterapkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik lewat tayangan visual.

"Parigi Moutong punya auditorium sebagai fasilitas yang representasi untuk pemutaran film. Kami bersama Dinas Pendidikan akan mengatur teknisnya dengan harapan program ini secepatnya bisa terwujud," ujarnya.

Ia mengemukakan pemutaran film juga tidak hanya sekedar edukasi, tetapi juga sebagai sarana rekreasi bagi siswa/siswi supaya mereka lebih fokus belajar, meski di tengah tantangan globalisasi saat ini. Program tersebutdipercaya dapat memberikan manfaat posisi bagi peserta didik.

"Program ini kami terapkan untuk satuan pendidikan SD dan SMP di bawah naungan Pemkab Parigi Moutong," ucap Erwin.

Lebih lanjut ia menjelaskan sektor pendidikan menjadi salah satu sasaran prioritas Pemkab Parigi Moutong yanng dituangkan ke dalam visi dan misi pembangunan daerah.

Pemerintah setempat memiliki empat pilar utama dalam pembangunan yakni bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pemantapan reformasi birokrasi.

Pada 24 Juli 2025 Pemkab Parigi Moutong telah meluncurkan seragam sekolah gratis untuk 15.440 peserta didik baru SD dan SMP, berupa baju kemeja putih dan celana/rok beserta topi dan dasi yang disalurkan secara bertahap dengan total anggaran Rp3,8 miliar lebih dari APBD Parigi Moutong.

"Ini salah satu bentuk komitmen kami terhadap bidang pendidikan, membantu meringankan beban orang tua siswa sekaligus meningkatkan kepercayaan diri peserta didik mengikuti aktivitas pendidikan di sekolah," ucapnya.

Ia menambahkan saat ini rata-rata lama sekolah di Parigi Moutong masih sekitar 8,2 tahun, angka itu masih jauh dari standar wajib belajar 13 tahun. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kolaborasi lintas sektor guna memperkuat pendidikan di daerah.

"Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dilihat dari tiga faktor yakni pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak. Untuk menunjang sektor pendidikan, ke depan kami juga menyiapkan sepatu dan alat tulis gratis kepada siswa," katanya.


Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor : Andilala
Copyright © ANTARA 2026