Jakarta (ANTARA) - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menekankan pentingnya sinergisitas dengan pemerintah dan penguatan kemandirian organisasi untuk menghadapi agenda strategis olahraga nasional pada 2026, di tengah dinamika kebijakan dan tantangan pembinaan prestasi.

Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman merefleksikan dinamika sepanjang 2025 yang dinilainya penuh tekanan, terutama akibat implementasi Permenpora Nomor 14.

“Dinamika tahun 2025 sangat tinggi. Tekanan dari Permenpora Nomor 14 benar-benar memberikan tantangan besar, namun kita tetap solid dan berpikir rasional,” ujar Marciano dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

 

 

Marciano menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir yang mencabut peraturan tersebut. Menurutnya, langkah itu membuka ruang sinergitas yang lebih kuat antara Kemenpora dan KONI untuk mempercepat peningkatan prestasi olahraga nasional.

Dalam pemaparan capaian prestasi, Marciano menyoroti hasil SEA Games Thailand yang menunjukkan peningkatan peringkat dan perolehan medali Indonesia melampaui target. Kontingen Indonesia menutup ajang tersebut dengan raihan 91 emas, 111 perak, dan 131 perunggu, yang disebutnya sebagai buah kerja keras cabang olahraga.

“Ke depan, KONI Pusat harus berkontribusi lebih banyak,” kata Marciano. Dia menegaskan arah kebijakan organisasi olahraga harus mendukung pembinaan dan prestasi atlet.

Dia juga menekankan pentingnya kemandirian melalui penyelenggaraan multievent nasional berbasis kemitraan. Kolaborasi dengan Djarum Foundation pada PON Bela Diri 2025, kerja sama dengan PT Bayan Resources Tbk lewat KONI-Bayan Championship, serta Jakarta Martial Arts Extravaganza bersama PT Chandra Asri disebut sebagai contoh model kemandirian yang perlu dilanjutkan.

Marciano menyebut 2026 sebagai tahun krusial dengan agenda besar, termasuk rencana PON Bela Diri di Sulawesi Utara dan PON Pantai di Jakarta, serta penentuan tuan rumah PON XXIII/2032 melalui Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa KONI 2026. Hingga kini, pendaftaran calon tuan rumah baru diikuti oleh Banten-Lampung.

Selain itu, KONI juga memfokuskan persiapan PON XXIII/2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas, Marciano membuka kemungkinan sebagian pertandingan digelar di luar NTT-NTB apabila venue belum tersedia.

Penguatan organisasi juga menjadi perhatian, mulai dari penyelesaian administrasi secara tuntas, pengembangan kerja sama konkret dengan perguruan tinggi, hingga rencana pelaksanaan coaching clinic bagi pelatih dan wasit dengan menghadirkan narasumber berkualitas.

Wakil Ketua Umum II KONI Pusat Mayjen TNI Purn Soedarmo menekankan perlunya sinergitas dengan pemerintah, khususnya terkait penganggaran kontingen.

“Dalam penyelenggaraan PON Bela Diri, PON Pantai, PON Indoor, dan PON Remaja harus menghadirkan atlet-atlet provinsi sehingga KONI harus membuat kalender yang sinergis dengan Kemendagri,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal KONI Pusat Drs Tb Lukman Djajadikusume, MEMOS, menambahkan adanya minat Kota Solo untuk menjadi tuan rumah PON Remaja serta rencana rotasi pengurus dan staf KONI Pusat sebagai bagian dari penguatan organisasi ke depan.

 

 


Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Andriy Karantiti
Copyright © ANTARA 2026