Jakarta (ANTARA) - Konservasi Alam dan Lingkungan Indonesia Raya (KALIRA) mengajak masyarakat di tanah air untuk mengadopsi "zero waste lifestyle" sebagai langkah nyata menuju kualitas hidup yang lebih berkelanjutan di tengah ancaman krisis sampah.
"Kami mengajak masyarakat memulai langkah sederhana menuju zero waste lifestyle. Ini bukan lagi sekadar tren, melainkan aksi nyata yang perlu segera dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup. Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten," kata Ketua Komunitas KALIRA Waskita Rini dikutip di Jakarta, Sabtu.

Waskita lalu menyampaikan mengangkat tema "Zero Waste Lifestyle: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar". Inisiatif dari komunitas sosial yang berfokus pada lingkungan hidup itu menjadi bagian dari program Indonesia ECO Jamboree 2026, yang bertujuan memperluas kesadaran publik terhadap pengelolaan sampah dari sumbernya.

Diketahui, konsep "zero waste lifestyle" menekankan pendekatan gaya hidup yang mengedepankan pengurangan limbah melalui 5 Prinsip Dasar, yakni menolak (refuse), mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), mengolah kembali (recycle), dan mengompos (rot).

Pendekatan itu menekankan perubahan kebiasaan sehari-hari, mulai dari menolak produk yang tidak diperlukan, mengurangi konsumsi, menggunakan kembali barang, mendaur ulang material, hingga mengompos limbah organik sebagai upaya sederhana namun berdampak nyata dalam menjaga lingkungan.

Sebagai bentuk implementasi, KALIRA menghadirkan Eco Craft Display, yakni pameran karya dan inovasi ramah lingkungan yang menampilkan kreativitas komunitas, pelajar, UMKM hijau, serta pengrajin lokal di Ruang Utama Perpustakaan Nasional Jakarta pada 4–6 Februari 2026.

Selain itu, rangkaian kegiatan juga mencakup seminar nasional dan berbagai inisiatif edukasi publik untuk memperkuat pemahaman serta praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Waskita, pendekatan itu menjadi semakin relevan mengingat permasalahan sampah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Pertumbuhan jumlah penduduk, pola konsumsi yang tidak berkelanjutan, serta minimnya pengelolaan sampah dari sumbernya memperparah kondisi lingkungan.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK 2024 mencatat timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton, dengan 63,3 persen atau 20,5 juta ton terkelola, sementara 35,67 persen atau 11,3 juta ton belum tertangani.

Menurut Peneliti Ahli Utama Bidang Persampahan Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sri Wahyono, langkah sederhana seperti mengolah sampah di rumah merupakan fondasi perubahan besar.

"Sampah plastik, organik, dan rumah tangga berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan, kerusakan ekosistem, serta risiko kesehatan manusia. Permasalahan ini juga berkaitan erat dengan krisis iklim, yaitu setiap satu ton sampah padat diperkirakan setara dengan 1,7 ton emisi CO₂, sehingga pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam mendukung target penurunan emisi Indonesia sebesar 31,89 persen pada 2030," kata dia.