Kapal listrik berkapasitas 2.000 ton meluncur di Guangzhou
Selasa, 14 November 2017 15:05 WIB
Rancangan kapal pembangkit listrik tenaga nuklir yang akan menerangi Laut China Selatan | ( Twitter)
Beijing (antarasulteng.com) - Kapal listrik berkapasitas 2.000 ton diluncurkan di Guangzhou, Ibu Kota Provinsi Guangdong, China.
Media resmi setempat, Selasa, mengklaim kapal yang pertama kali diluncurkan pada Sabtu (11/11) itu sebagai kapal listrik berkekuatan besar pertama di dunia.
Panjang kapal yang mencapai 70,5 meter dengan bobot 600 ton itu dapat berlayar hingga 80 kilometer setelah baterainya diisi ulang selama dua jam, demikian laporan People`s Daily.
Kapal tersebut mampu mengangkut batu bara termal di alur Sungai Mutiara. Kapal itu digerakkan oleh baterai litium seberat 26 ton yang mampu menghasilan daya 2.400 kilowatt per jam.
Sebagaimana kapal-kapal yang sudah meninggalkan bahan bakar fosil, kapal tersebut juga bebas emisi, termasuk karbon, sulfur, dan PM2,5 sehingga dapat digunakan mengangkut penumpang, demikian laman chinanews.com mewartakan.
"Jenis kapal seperti ini mempertimbangkan keserasian antara manusia dan alam serta mampu melindungi kualitas air dan biotanya. Hal ini bisa ditiru oleh kapal-kapal lainnya," kata Wang Yongchen, pemerhati lingkungan di Beijing, sebagaimana dikutip Global Times.
Terkait adanya perubahan pola tersebut, Pemerintah Provinsi Hunan pada 2015 telah menarik seluruh kapal penumpang dan kargo agar ada perbaikan pada sistem pengolahan limbah guna melindungi kualitas air sungai, demikian laporan Hunan Daily.(skd)
Media resmi setempat, Selasa, mengklaim kapal yang pertama kali diluncurkan pada Sabtu (11/11) itu sebagai kapal listrik berkekuatan besar pertama di dunia.
Panjang kapal yang mencapai 70,5 meter dengan bobot 600 ton itu dapat berlayar hingga 80 kilometer setelah baterainya diisi ulang selama dua jam, demikian laporan People`s Daily.
Kapal tersebut mampu mengangkut batu bara termal di alur Sungai Mutiara. Kapal itu digerakkan oleh baterai litium seberat 26 ton yang mampu menghasilan daya 2.400 kilowatt per jam.
Sebagaimana kapal-kapal yang sudah meninggalkan bahan bakar fosil, kapal tersebut juga bebas emisi, termasuk karbon, sulfur, dan PM2,5 sehingga dapat digunakan mengangkut penumpang, demikian laman chinanews.com mewartakan.
"Jenis kapal seperti ini mempertimbangkan keserasian antara manusia dan alam serta mampu melindungi kualitas air dan biotanya. Hal ini bisa ditiru oleh kapal-kapal lainnya," kata Wang Yongchen, pemerhati lingkungan di Beijing, sebagaimana dikutip Global Times.
Terkait adanya perubahan pola tersebut, Pemerintah Provinsi Hunan pada 2015 telah menarik seluruh kapal penumpang dan kargo agar ada perbaikan pada sistem pengolahan limbah guna melindungi kualitas air sungai, demikian laporan Hunan Daily.(skd)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Pendidikan & Iptek
Lihat Juga
DSLNG latih guru penggerak Banggai kuasai pembelajaran berbasis kecerdasan buatan
28 January 2026 10:55 WIB
Rektor UIN Datokarama Palu perjuangkan hak generasi muda peroleh pendidikan
25 January 2026 18:45 WIB
Pemkab Poso perkuat sinergi dengan pusat untuk pengembangan pendidikan tinggi
16 January 2026 20:13 WIB