Sigi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), segera menuntaskan 6.048 orang anak tidak sekolah di daerah tersebut pada tahun 2026.
"Jadi memang persoalan anak tidak sekolah ini di Kabupaten Sigi masih cukup tinggi di Sulawesi Tengah," kata Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae saat ditemui awak media di Marawola Sigi, Minggu.
Ia mengemukakan pihaknya sudah melakukan verifikasi dan validasi kembali di lapangan sehingga jumlah anak tidak sekolah dari 6.048 anak itu berkurang menjadi 4.000 anak.
"Anak tidak sekolah di Kabupaten Sigi terbesar itu pada wilayah Sigi Biromaru dan Marawola disebabkan merupakan daerah perbatasan dengan Kota Palu," ucapnya.
Ia menuturkan agar penanganan anak tidak sekolah di daerah itu menjadi tugas seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pendidikan, Dukcapil, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Dinas PMD.
"Pentingnya keterlibatan pemerintah kecamatan, desa hingga RT dan RW termasuk organisasi masyarakat dalam berkolaborasi meningkatkan mutu pendidikan anak di Kabupaten Sigi,"sebutnya.
Rizal menjelaskan salah satu faktor anak tidak sekolah disebabkan masalah ekonomi, psikologis seperti broken home, anak bekerja sebagai butuh tani, termasuk terjadinya kesalahan saat pendataan akibat sekolah ke luar daerah namun belum terlapor.
Menurut dia, sebagian anak tidak sekolah tersebut sudah menikah dan bekerja sehingga hak pendidikan itu tetap harus diberikan untuk mendukung visi besar Indonesia Emas 2045.
"Harapannya ke depan seluruh pihak bisa memetakan untuk penanganan anak tidak sekolah di Kabupaten Sigi seperti melalui jalur non formal yakni PKBM, Paket A, Paket B, hingga Paket C," kata dia.
Diketahui pemerintah daerah sudah menyalurkan bantuan seragam sekolah gratis di Kabupaten Sigi sebanyak 2.306 paket untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Sebanyak 806 paket untuk jenjang SMP dan 1500 paket bantuan seragam gratis untuk jenjang SD selama tahun 2025.
