KKP Siapkan Rp150 Miliar Untuk Implementasikan SLIN
Kamis, 14 Februari 2013 8:32 WIB
Direktur Pemasaran Dalam Negeri Ditjen P2HP Kementerian Kelautan dan Perikanan Ir Sadullah Muhdi, MBA (ANTARANews/Rolex Malaha)
Palu, (antarasulteng.com) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengalokasikan anggaran sebesar Rp150 miliar untuk membiayai berbagai kegiatan persiapan implementasi konsep Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN).
"Kita akan mulai penerapan konsep SLIN ini di koridor Kendari-Banggai-Ambon yang akan berpusat di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kendari," kata Direktur Pemasaran Dalam Negeri Ditjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian KP Sadullah Muhdi yang dihubungi melalui telepon genggamnya dari Kendari, Kamis.
Sadullah Muhdi yang mengaku sedang berada di Buton, Sulawesi Tenggara, untuk meninjau berbagai persiapan menyangkut implementasi konsep SLIN itu menyebutkan bahwa PPN Kendari dipilih sebagai uji coba pertama karena elemen-elemen dasar di daerah itu sudah tersedia.
Elemen-elemen dasar yang dibutuhkan tersebut menyangkut kelembagaan baik di tingkat nelayan penangkap maupun pengumpul, unit pengolahan ikan (UPI), serta sarana dan prasarana seperti gudang pendingin, pabrik es dan transportasi.
"Kita tinggal menyentuh beberapa hal saja seperti membangun `cold storage` kapasitas besar dan menyediakan sarana transportasi yang lebih besar dan sistem ini diharapkan sudah bisa `running` akhir tahun 2013 nanti," katanya.
Muhdi mengatakan bahwa pada akhir pekan ini, ia akan memimpin diskusi lanjutan fokus grup konsep SLIN di Kendari yang akan dihadiri oleh para pelaku bisnis perikanan dari hulu (nelayan menangkap ikan) sampai hilir (pengusaha industri pengolahan).
"Kami akan mencoba membahas dan menyepakati harga yang akan diberlakukan di setiap tingkatan bila konsep SLIN ini diterapkan nanti. Setelah disepakati, ketentuan harga itu akan dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman yang akan mengikat semua pihak selama mekanisme SLIN ini berjalan," ujarnya.
Komoditas perikanan yang akan ditangani dalam uji coba implementasi SLIN ini, kata Muhdi adalah ikan layang, kembung, dan sardine yang akan disuplai dari kawasan Kendari dan Banggai (Sulteng), serta ikan tuna, tongkol, cakalang (TTC) dari Ambon (Maluku).
Sasaran yang ingin dicapai dalam uji coba penerapan SLIN ini adalah mendapatkan jaminan serapan produksi nelayan, stabilitas harga pada tingkat yang menguntungkan semua pihak (hulu dan hilir), jaminan mutu dan suplai ikan untuk bahan baku untuk industri pengolahan.
Karena itu, ujar Muhdi, dalam diskusi nanti, pelaku usaha hulu dan hilir diharapkan menyepakati besaran harga setiap jenis ikan di setiap tingkatan baik pada saat musim puncak panen maupun pada saat paceklik, tentu dengan selisih harga yang tidak ekstrim.
Dewasa ini, kata Muhdi, selisih harga ikan pada saat musim puncak panen dan paceklik terlalu tinggi sehingga tidak sehat dalam bisnis perikanan serta merugikan kepentingan masyarakat dimana konsumsi ikan harus terus ditingkatkan.
Ia memberi contoh di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Sulawesi Tengah, pada saat musim panen, harga ikan di tingkat nelayan di PPI hanya Rp2.500-an per kilogram, sedangkan saat paceklik bisa melonjak sampai Rp15.000 per kg.
"Kalau konsep SLIN berjalan, diharapkan harga ikan akan berada pada tingkat Rp6.500 per kilogram saat musim panen dan Rp10.000 saat paceklik sehingga semua pihak baik di hulu dan hilir tetap diuntungkan dan stabilitas suplai ikan tetap terjaga karena sistem penyanggaan (buffer stok) dalam konsep SLIN ini akan berjalan dengan baik," ujarnya.(R007/skd)
"Kita akan mulai penerapan konsep SLIN ini di koridor Kendari-Banggai-Ambon yang akan berpusat di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kendari," kata Direktur Pemasaran Dalam Negeri Ditjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian KP Sadullah Muhdi yang dihubungi melalui telepon genggamnya dari Kendari, Kamis.
Sadullah Muhdi yang mengaku sedang berada di Buton, Sulawesi Tenggara, untuk meninjau berbagai persiapan menyangkut implementasi konsep SLIN itu menyebutkan bahwa PPN Kendari dipilih sebagai uji coba pertama karena elemen-elemen dasar di daerah itu sudah tersedia.
Elemen-elemen dasar yang dibutuhkan tersebut menyangkut kelembagaan baik di tingkat nelayan penangkap maupun pengumpul, unit pengolahan ikan (UPI), serta sarana dan prasarana seperti gudang pendingin, pabrik es dan transportasi.
"Kita tinggal menyentuh beberapa hal saja seperti membangun `cold storage` kapasitas besar dan menyediakan sarana transportasi yang lebih besar dan sistem ini diharapkan sudah bisa `running` akhir tahun 2013 nanti," katanya.
Muhdi mengatakan bahwa pada akhir pekan ini, ia akan memimpin diskusi lanjutan fokus grup konsep SLIN di Kendari yang akan dihadiri oleh para pelaku bisnis perikanan dari hulu (nelayan menangkap ikan) sampai hilir (pengusaha industri pengolahan).
"Kami akan mencoba membahas dan menyepakati harga yang akan diberlakukan di setiap tingkatan bila konsep SLIN ini diterapkan nanti. Setelah disepakati, ketentuan harga itu akan dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman yang akan mengikat semua pihak selama mekanisme SLIN ini berjalan," ujarnya.
Komoditas perikanan yang akan ditangani dalam uji coba implementasi SLIN ini, kata Muhdi adalah ikan layang, kembung, dan sardine yang akan disuplai dari kawasan Kendari dan Banggai (Sulteng), serta ikan tuna, tongkol, cakalang (TTC) dari Ambon (Maluku).
Sasaran yang ingin dicapai dalam uji coba penerapan SLIN ini adalah mendapatkan jaminan serapan produksi nelayan, stabilitas harga pada tingkat yang menguntungkan semua pihak (hulu dan hilir), jaminan mutu dan suplai ikan untuk bahan baku untuk industri pengolahan.
Karena itu, ujar Muhdi, dalam diskusi nanti, pelaku usaha hulu dan hilir diharapkan menyepakati besaran harga setiap jenis ikan di setiap tingkatan baik pada saat musim puncak panen maupun pada saat paceklik, tentu dengan selisih harga yang tidak ekstrim.
Dewasa ini, kata Muhdi, selisih harga ikan pada saat musim puncak panen dan paceklik terlalu tinggi sehingga tidak sehat dalam bisnis perikanan serta merugikan kepentingan masyarakat dimana konsumsi ikan harus terus ditingkatkan.
Ia memberi contoh di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Sulawesi Tengah, pada saat musim panen, harga ikan di tingkat nelayan di PPI hanya Rp2.500-an per kilogram, sedangkan saat paceklik bisa melonjak sampai Rp15.000 per kg.
"Kalau konsep SLIN berjalan, diharapkan harga ikan akan berada pada tingkat Rp6.500 per kilogram saat musim panen dan Rp10.000 saat paceklik sehingga semua pihak baik di hulu dan hilir tetap diuntungkan dan stabilitas suplai ikan tetap terjaga karena sistem penyanggaan (buffer stok) dalam konsep SLIN ini akan berjalan dengan baik," ujarnya.(R007/skd)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Capres Anies: Lumbung Ikan Nasional terealisasi di Maluku jika terpilih
16 January 2024 7:26 WIB, 2024