
Jembatan Palu 4 kembali beroperasi percepat konektivitas

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah mengatakan Jembatan Palu 4 dan elevated road yang kembali beroperasi setelah rekonstruksi pascabencana 2018 merupakan infrastruktur strategis guna memperlancar konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Bagi pemerintah dan masyarakat Kota Palu, Jembatan Palu 4 merupakan ruas yang sangat strategis yang sebelumnya dimiliki Kota Palu, karena itu keberadaannya diharapkan mampu mengurai dan mempercepat alur transportasi dari wilayah barat dan timur Kota Palu,“ katanya Wali Kota Palu Hadianto Rasyid pada kegiatan Open Traffic Jembatan Palu 4 dan elevated road di Palu, Jumat.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk lembaga internasional Japan International Cooperation Agency (JICA), pemerintah pusat, serta seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, khususnya warga yang terdampak rekonstruksi akibat penyesuaian sejumlah ruas jalan sehingga sebagian lahan mereka terdampak proyek.
Menurut dia, proses pembebasan lahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga pembangunan kembali jembatan dan jalan layang dapat rampung sesuai target.
“Dengan kembali beroperasinya Jembatan Palu 4 setelah rekonstruksi yang dilakukan pemerintah dan elevated road yang juga telah selesai dikerjakan, tentunya menjadi harapan bersama bahwa ini akan mampu memicu pergerakan ekonomi yang lebih baik di Kota Palu,” katanya.
Menurut dia, pemerintah daerah tidak akan mampu membangun fasilitas tersebut sendiri karena keterbatasan anggaran, dengan nilai pembangunan sekitar Rp300 miliar sehingga penting untuk menjaga dan merawatnya agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh seluruh warga.
Hadianto juga menjelaskan kawasan tersebut tidak diperuntukkan bagi pejalan kaki maupun pesepeda, sehingga pemerintah kota telah menyiapkan konsep master plan pengembangan agar potensi wilayah tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.
Rencana penataan kawasan itu dijadwalkan mulai dikerjakan tahun ini dalam dua tahap, dengan harapan area tersebut berkembang menjadi kawasan yang aktif, aman, dan produktif.
Ia juga mencontohkan pengalaman Jepang yang tetap membangun kembali kawasan terdampak gempa dan tsunami menjadi wilayah berpotensi.
“Karena itu, konsep resiliensi yang dimaksud adalah kota yang mampu beradaptasi dengan kondisi dan keadaannya,” ujarnya.
Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sulteng Bambang S Razak mengatakan Jembatan Palu 4 bukan hanya jalur penghubung antarwilayah, tetapi menjadi simbol kebangkitan, harapan dan semangat persatuan masyarakat pascagempa, tsunami, dan likuifaksi 2018.
“Kehadiran kembali kedua infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar arus transportasi, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat konektivitas masyarakat,” ujarnya.
Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
