Adat Perkawinan Khas Palembang Kian Langka
Rabu, 30 Mei 2012 20:22 WIB
Ilustrasi (FOTO ANTARA/Oky Lukmansyah)
Palembang - Upacara adat perkawinan khas Palembang makin langka di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini seiring dengan masuknya budaya asing dan meningkatnya kebutuhan hidup, kata Ketua Seksi Kebudayaan Dinas Pariwisata Dadang Irawan, Rabu.
"Upacara adat perkawinan yang sering dipakai masyarakat saat ini sudah mengarah ke cara-cara nasional atau modern. Sudah sangat jarang yang benar-benar menerapkan tata cara perkawinan adat Palembang karena dipandang rumit dan menguras biaya," ujarnya.
Tata cara perkawinan yang berkembang di masyarakat saat ini lebih mengutamakan kepraktisan sesuai dengan tuntunan kehidupan modern.
"Seharusnya, tiga bulan menjelang akad nikah pihak keluarga calon pengantin pria dan wanita melakukan acara mutus kato atau mutus rasan. Tapi, budaya ini sudah luntur dan terkadang hanya bersifat interen keluarga tanpa suatu perayaan," ujarnya.
Kemudian, setelah menemukan kata sepakat akan dilakukan pemberian aneka sembilan bahan pokok (sembako) dari keluarga pengantin pria sebagai buah tangan ke rumah calon besannya.
"Kegiatan ini pun sering ditiadakan karena sudah digabungkan dengan acara akad nikah. Hingga acara madik sebagai pembukanya sampai acara munggah sebagai puncak dari keseluruhan rangkaian prosesi adat juga sudah bergeser, atau tidak sesempurna sebelumnya," katanya.
Ia sangat menyayangkan hal itu mengingat Sumsel memiliki upacara adat perkawinan yang berbeda-beda dan sangat beragam. Namun masyarakat lebih menyukai memakai tata cara yang sudah umum dalam beberapa tahun terakhir.semuanya hampir serupa," katanya.
Dinas Pariwisata Sumsel membaca gejala lunturnya upacara adat perkawinan itu sejak beberapa tahun terakhir, sehingga menelurkan beberapa program pelestarian budaya itu.
"Kami mendorong pelestarian budaya-budaya lokal dengan aktif menggelar workshop, festival, hingga bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumsel," ujarnya. (pso-039)
"Upacara adat perkawinan yang sering dipakai masyarakat saat ini sudah mengarah ke cara-cara nasional atau modern. Sudah sangat jarang yang benar-benar menerapkan tata cara perkawinan adat Palembang karena dipandang rumit dan menguras biaya," ujarnya.
Tata cara perkawinan yang berkembang di masyarakat saat ini lebih mengutamakan kepraktisan sesuai dengan tuntunan kehidupan modern.
"Seharusnya, tiga bulan menjelang akad nikah pihak keluarga calon pengantin pria dan wanita melakukan acara mutus kato atau mutus rasan. Tapi, budaya ini sudah luntur dan terkadang hanya bersifat interen keluarga tanpa suatu perayaan," ujarnya.
Kemudian, setelah menemukan kata sepakat akan dilakukan pemberian aneka sembilan bahan pokok (sembako) dari keluarga pengantin pria sebagai buah tangan ke rumah calon besannya.
"Kegiatan ini pun sering ditiadakan karena sudah digabungkan dengan acara akad nikah. Hingga acara madik sebagai pembukanya sampai acara munggah sebagai puncak dari keseluruhan rangkaian prosesi adat juga sudah bergeser, atau tidak sesempurna sebelumnya," katanya.
Ia sangat menyayangkan hal itu mengingat Sumsel memiliki upacara adat perkawinan yang berbeda-beda dan sangat beragam. Namun masyarakat lebih menyukai memakai tata cara yang sudah umum dalam beberapa tahun terakhir.semuanya hampir serupa," katanya.
Dinas Pariwisata Sumsel membaca gejala lunturnya upacara adat perkawinan itu sejak beberapa tahun terakhir, sehingga menelurkan beberapa program pelestarian budaya itu.
"Kami mendorong pelestarian budaya-budaya lokal dengan aktif menggelar workshop, festival, hingga bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumsel," ujarnya. (pso-039)
Pewarta :
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pesta rakyat rangkaian pernikahan putra Gubernur Jabar berakhir ricuh dan tiga tewas
18 July 2025 18:21 WIB
Pemkab Sigi dan WIA sosialisasi bahaya pernikahan dini bagi perempuan
18 November 2024 12:15 WIB, 2024
Pengadilan Agama Buol sosialisasi pentingnya pernikahan resmi tercatat negara
19 October 2024 17:37 WIB, 2024
Kantor Imigrasi Banggai: Pasangan perkawinan campuran bisa pakai Visa E31A
24 July 2024 19:16 WIB, 2024
Terpopuler - Wisata & Budaya
Lihat Juga
Pepadi Apresiasi Wali Kota Bandarlampung lestarikan budaya Indonesia
23 February 2020 11:31 WIB, 2020
Potensi rugi akibat berkurangnya wisman China mencapai 2,8 miliar dolar
13 February 2020 17:24 WIB, 2020
Wapres dorong dunia pariwisata dapat berinovasi sikapi dampak corona
10 February 2020 16:03 WIB, 2020