Ada 1.000 Malware per Hari di Android
Jumat, 21 Juni 2013 12:07 WIB
(REUTERS)
Jakarta (antarasulteng.com) - Para peneliti anti-virus mobile di Fortinet telah menemukan
1.000 malware per hari yang menginfeksi 150.000 sampel Android yang
diteliti.
Apakah mobile malware benar-benar merupakan ancaman?
Peneliti senior anti-virus mobile FortiGuard di Fortinet, Axelle Apvrille, menyatakan, dalam banyak kasus tagihan seluler bisa menjadi membengkak dari yang diperkirakan karena adanya SMS atau traffic Internet yang mengandung malware.
"Pembaca yang kritis tentu akan bertanya:'Benar, tapi kenapa saya belum pernah terkena kasus seperti itu?," kata Apcrille dalam siaran pers yang diterima ANTARA News baru-baru ini.
Menurutnya, ada beberapa kemungkinan jawaban untuk pertanyaan seperti itu. Pertama, mungkin karena ketidaktahuan. Gejala-gejala serangan malware sangat sulit diidentifikasi.
"Pada kebanyakan kasus, tagihan Anda bisa menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan karena adanya SMS atau traffic internet yang mengandung malware. Traffic internet Anda bulan ini adalah 300Kb. Apakah hal itu normal atau tanda bahwa perangkat android Anda telah terinfeksi?" kata Apvrille memberi contoh.
Kedua, karena kondisi geografis. Penyebaran malware tidak sama di setiap negara. Biasanya, para pencipta malware menargetkan negara tertentu karena sesuai dengan model bisnis mereka, bahasa, penggunaan angka premium, atau secara kebetulan mereka mengunggah malware di suatu pasar yang terkenal di negara tersebut.
"Sebagai contoh, baru-baru ini kami mendeteksi keberadaan Android/Smsilence.A!tr.spy, yang menargetkan end-user Jepang dan Korea. Apabila Anda tinggal di AS atau Eropa, dapat dipastikan bahwa Anda tidak akan terkena serangan tersebut," Apvrille menjelaskan.
Apvrille berpesan, bila Anda menggunakan ponsel hanya untuk panggilan telepon, itu berarti Anda tidak membutuhkan smartphone Android.
Apakah mobile malware benar-benar merupakan ancaman?
Peneliti senior anti-virus mobile FortiGuard di Fortinet, Axelle Apvrille, menyatakan, dalam banyak kasus tagihan seluler bisa menjadi membengkak dari yang diperkirakan karena adanya SMS atau traffic Internet yang mengandung malware.
"Pembaca yang kritis tentu akan bertanya:'Benar, tapi kenapa saya belum pernah terkena kasus seperti itu?," kata Apcrille dalam siaran pers yang diterima ANTARA News baru-baru ini.
Menurutnya, ada beberapa kemungkinan jawaban untuk pertanyaan seperti itu. Pertama, mungkin karena ketidaktahuan. Gejala-gejala serangan malware sangat sulit diidentifikasi.
"Pada kebanyakan kasus, tagihan Anda bisa menjadi lebih tinggi dari yang diperkirakan karena adanya SMS atau traffic internet yang mengandung malware. Traffic internet Anda bulan ini adalah 300Kb. Apakah hal itu normal atau tanda bahwa perangkat android Anda telah terinfeksi?" kata Apvrille memberi contoh.
Kedua, karena kondisi geografis. Penyebaran malware tidak sama di setiap negara. Biasanya, para pencipta malware menargetkan negara tertentu karena sesuai dengan model bisnis mereka, bahasa, penggunaan angka premium, atau secara kebetulan mereka mengunggah malware di suatu pasar yang terkenal di negara tersebut.
"Sebagai contoh, baru-baru ini kami mendeteksi keberadaan Android/Smsilence.A!tr.spy, yang menargetkan end-user Jepang dan Korea. Apabila Anda tinggal di AS atau Eropa, dapat dipastikan bahwa Anda tidak akan terkena serangan tersebut," Apvrille menjelaskan.
Apvrille berpesan, bila Anda menggunakan ponsel hanya untuk panggilan telepon, itu berarti Anda tidak membutuhkan smartphone Android.
Pewarta : Suryanto
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia jadi target kedua terbesar ransomware di Asia Tenggara H1 2020
03 September 2020 7:07 WIB, 2020