Malware Serang Smartphone
Kamis, 27 Juni 2013 10:01 WIB
(ANTARA News/Grafis)
Washington (antarasulteng.com) - Tahun lalu para pengguna ponsel pintar menghadapi bombardemen
malware yang utamanya menyasar perangkat-perangkat bersistem operasi
Android buatan Google, demikian hasil survei Juniper Networks Mobile
seperti dikutip AFP.
Serangan itu juga mulai menyasar jejaring-jejaring perusahaan yang dikreasi untuk keperluan intelijen.
Pada periode 12 bulan sampai Maret 2013, serangan malware ke perangkat mobile naik 614 persen, dengan 92 persennya menyasar target="_blank">
Itu tak mengherankan mengingat 75 persen pangsa pasar ponsel pintar secara global memang didominasi Android. Platform terbuka dengan aturan yang lebih longgar membuat serangan malware lebih ganas.
"Android tak memiliki sistem pemeriksaan seketat platform-platform rivalnya seperti iOS pada Apple dan BlackBerry," kata Karim Toubba, wakil presiden Juniper. "Namun realitasnya semua sistem operasi rentan serangan."
Toubba mengadakan skema dominan serangan malware itu berbentuk pesan teks sms yang menginfeksi ponsel pintar dan lalu secara diam-diam mengirimkan pesan baru ke layanan sms premium berbayar.
Layanan yang mirip digunakan untuk pemungutan suara bagi sebuah program televisi ini bisa menarik untung 10 hingga 50 sen dolar AS (Rp980 - Rp4.900) per sms.
Serangan itu juga mulai menyasar jejaring-jejaring perusahaan yang dikreasi untuk keperluan intelijen.
Pada periode 12 bulan sampai Maret 2013, serangan malware ke perangkat mobile naik 614 persen, dengan 92 persennya menyasar target="_blank">
Itu tak mengherankan mengingat 75 persen pangsa pasar ponsel pintar secara global memang didominasi Android. Platform terbuka dengan aturan yang lebih longgar membuat serangan malware lebih ganas.
"Android tak memiliki sistem pemeriksaan seketat platform-platform rivalnya seperti iOS pada Apple dan BlackBerry," kata Karim Toubba, wakil presiden Juniper. "Namun realitasnya semua sistem operasi rentan serangan."
Toubba mengadakan skema dominan serangan malware itu berbentuk pesan teks sms yang menginfeksi ponsel pintar dan lalu secara diam-diam mengirimkan pesan baru ke layanan sms premium berbayar.
Layanan yang mirip digunakan untuk pemungutan suara bagi sebuah program televisi ini bisa menarik untung 10 hingga 50 sen dolar AS (Rp980 - Rp4.900) per sms.
Pewarta :
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Indonesia jadi target kedua terbesar ransomware di Asia Tenggara H1 2020
03 September 2020 7:07 WIB, 2020