
Ekonomi Sulteng Tumbuh 11,18 Persen

Kita cukup bangga karena pertumbuhan ini lebih tinggi dari angka nasional dan juga mencapai angka dua digit (di atas 10 persen), namun belum bisa dikatakan puas karena angka kemiskinan belum mengalami penurunan signifikan.
Palu, (antarasulteng.com) - Perekonomian Sulawesi Tengah tumbuh signifikan yakni mencapai 11,18 persen (yoy) selama triwulan III (April-Juni) 2013, naik dibanding triwulan sebelumnya 10,8 persen.
"Kita cukup bangga karena pertumbuhan ini lebih tinggi dari angka nasional dan juga mencapai angka dua digit (di atas 10 persen), namun belum bisa dikatakan puas karena angka kemiskinan belum mengalami penurunan signifikan," kata Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola di Palu, Rabu.
Longki mengaku masih masih belum puas karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut belum memberikan dampak yang signifikan terhadap pengentasan kemiskinan.
Namun demikian ia berharap pertumbuhan ini dapat dipertahankan di atas 10 persen pada triwulan-tribulan mendatang dan berjanji akan semakin mengusahakan keamanan dan kemudahan kepada para pengusaha untuk meningkatkan kinerjanya.
"Mudah-mudahan dengan beroperasinya PLTA Poso yang akan mensuplai puluhan mega watt listrik tahun ini akan menjadi salah satu faktor pendukung untuk terus menggeliatnya investasi di daerah ini," ujarnya.
Dalam laporan kajian ekonomi Sulawesi Tengah yang diterbitkan Bank Indonesia Perwakilan Palu, disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan ini terutama ditopang oleh kelompok konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 4,33 persen, diikuti kelompok investasi dan ekspor dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,02 persen dan 2,59 persen.
Sementara di sisi sektoral, sektor pertambangan dan penggalian memberi kntrobusi terbesar yakni 4,62 persen menyusul sektor pertanian, dan sektor bangunan masing-masing memberi sumbangan sebesar 2,11 persen dan 1,38 persen.
"Tetap tingginya kinerja sektor pertambangan (nikel) menjelang pelarangan ekspor bahan mentah tambang pada tahun 2014, besarnya realisasi investasi PMA dan PMDN baik bangunan maupun non bangunan, serta panen raya padi dan kakao, menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi daerah ini," tulis laporan tersebut.
Sementara pada triwulan III 2013 (Juli-September) ekonomi SUlteng diperkirakan tumbuh sebesar 10,36 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan II.
Mulai masuknya masa tanam pada triwulan III dan kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM merupakan faktor yang memperlambat kinerja konsumsi rumah tangga sehingga akan memperlemah kinerja ekonomi.
Akan tetapi di sisi lain, faktor-faktor seperti perayaan keagamaan, serta semakin ekspansifnya peranan perbankan dalam menyalurkan kredit konsumsi menjadi pendorong kinerja konsumsi rumah tangga.
Dana yang akan diinvestasikan PT Donggi Senoro di kilang minyak terpadu di Kabupaten banggai serta persiapan berbagai investasi dalam rangka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu akan menyebabkan kinerja kelompok investasi masih tumbuh tinggi ke depan.
Sedangkan terkait inflasi, BI Palu melaorkan bahwa berdasarkan perkembangan inflasi pada triwulan II-2013, diperkirakan Kota Palu pada triwulan III-2013 mengalami inflasi tahunan (yoy) sebesar 5,20 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 6,78 persen.
Kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000/liter untuk premium dan Rp1.000/liter untuk solar mendorong kenaikan harga berbagai barang dan jasa yang puncaknya terjadi pada bulan Juli 2013.
Pada periode tersebut, inflasi bulanan Kota Palu menyentuh level 4,59 persen atau tertinggi dalam kurun waktu satu dekade terakhir.(SKD)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor:
Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
