Logo Header Antaranews Sulteng

Polisi Dilema Saat Atasi Bentrok

Jumat, 8 November 2013 13:53 WIB
Image Print
Sarifuddin Sudding (FOTO ANTARASulteng/Riski Maruto)

Palu (antarasulteng.com) - Anggota Komisi III DPR RI Sarifuddin Sudding mengatakan polisi saat ini mengalami dilema saat mengatasi bentrok antarwarga, terutama di wilayah Sulawesi Tengah.

"Di satu sisi polisi ingin menegakkan hukum, di sisi lainnya polisi justru dianggap melanggar HAM saat menangani bentrok," kata Sarifuddin di Palu, Jumat.

Menurutnya, penanganan konflik di masyarakat seharusnya tidak dilakukan secara parsial oleh institusi tertentu, melainkan harus melibatkan seluruh pemangku kebijakan.

Dia juga meminta pemangku kebijakan menelusuri penyebab bentrok antarwarga agar bisa dicari langkah-langkah penyelesaiannya.

"Bisa jadi konflik disebabkan oleh kurangya lapangan kerja, masalah sosial dan budaya sehingga itu bisa diselesaikan oleh pemangku kebijakan di daerah ini," kata Sarifuddin.

Dia juga meminta kinerja kepolisian untuk bisa dievaluasi agar langkah ke depannya lebih baik.

Baru-baru ini bentrok antarwarga terjadi di Kota Palu dan menyebabkan lima rumah hangus terbakar, dan sejumlah warga luka-luka.

Selain bangunan terbakar, sebuah mobil dan rumah yang berada di Jalan Padajankaya juga rusak dilempari sekelompok orang tak dikenal.

Bahkan, rumah tersebut juga dijarah massa sambil melempari kaca jendela dan mobil yang diparkir.

Saat bentrok terjadi, puluhan warga mempersenjatai dengan senjata tajam, senapan angin dan ketapel.

Bentrok antarwarga di Kota Palu telah terjadi beberapa kali karena dipicu alasan yang belum jelas.

Selain itu kejadian serupa juga pernah terjadi di Kabupaten Sigi, tetangga Kota Palu.

Warga juga meminta aparat keamanan untuk lebih tegas menindak pelaku bentrok karena telah mengganggu ketertiban dan keamanan di masyarakat.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026