Jelang normal baru, benarkah racikan jamu tak lagi diminati?

id jamu,konsumsi jamu normal baru,kunyit asam,empon-empon

Jelang normal baru, benarkah racikan jamu tak lagi diminati?

Ilustrasi jamu (ANTARA/Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Racikan jamu mulai dari kunyit asam hingga empon-empon seperti yang disukai Presiden Joko Widodo begitu populer beberapa waktu terakhir seiring pandemi COVID-19, salah satunya untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh melawan penyakit.

Namun, memasuki masa normal baru benarkah jamu tak lagi diminati masyarakat di tanah air?

Dari sisi permintaan, salah satu produsen jamu, Retno Hemawati yang mengusung label Sejiwa mengatakan jumlah pesanan jamu justru meningkat ditambah varian lain semisal jeruk nipis madu dan telang nipis belakangan ini.

Pesanan untuk esok hari saja di kawasan Bekasi saja sudah melebihi 25 buah botol, atau sedikit melebihi permintaan dua bulan terakhir. Menurut dia, sama seperti saat Ramadhan pembelinya memilih varian racikan bahan alami yang menyegarkan.

"Peningkatan di bulan pertama dalam dua bulan terakhir sebelum Ramadhan ya. Untuk kunyit asam dan empon-empon masing-masing bisa nembus sampai 20-an per hari. Ini sudah mulai naik lagi kok," kata Retno saat dihubungi ANTARA, Kamis.

Sementara itu, dari sudut konsumen beberapa orang mengaku masih rutin mengonsumsi jamu hingga hari ini. Ita Purnamasari, salah satunya. Pegawai di KLHK ini menuturkan masih rajin mengonsumsi kunyit asam, beras kencur dan terkadang racikan daun sirih.

"Agar nafsu makannya baik dan haidnya lancar, tidak berbau," tutur dia yang sudah sejak setahun lalu meminum jamu.

Ita biasanya mengandalkan tukang jamu yang lewat di kawasan tinggalnya karena lebih mudah ketimbang meracik sendiri.

Hal senada juga diungkapkan Choirida Ema. Perempuan berjilbab yang bekerja di kawasan Jakarta itu mengatakan terbiasa mengonsumsi kunyit asam dan beras kencur.

Walau sempat berhenti, dia kembali rajin meminum jamu saat pandemi COVID-19 untuk membantu menjaga sistem imunnya.

"Seminggu paling 2-3 kali. Awalnya sih minum karena tadinya parno sama corona. Memang aku doyan saja sama dua jamu itu," ujar Ema.

Di sisi lain, Sandra Firnawati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat mengaku mengonsumsi jejamuan khususnya berbahan kunyit karena ajakan sang suami.

"Kunyit itu andalan suami. Jadi, kalau di rumah ada yang sakit, sakit apapun, pasti langsung disuruh bikin air kunyit. Kadang dimodifikasi ditambah jahe, cengkeh, kayu manis, kapulaga, ketumbar, bunga lawang dan pasti pakai jeruk nipis dan madu," kata dia.

Biasanya dia meminum jamu sehari sekali atau dua kali sehari, sebelum sarapan dan sebelum tidur.

Di masa pandemi COVID-19, jamu masih menjadi andalan Sandra kala anaknya sakit. Seperti beberapa waktu lalu, putra tertuanya sakit batuk pilek dan dia diberi ramuan kunyit, jahe ditambah jeruk nipis dan madu.

"Karena anak sakit, jadi rutin. Bikin sekitar setengah liter lebih (sepanci kecil) untuk anak selama seharian. Adik-adiknya juga dikasih tapi enggak sebanyak kakaknya," ujar Sandra.

Pakar kesehatan, salah satu Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania pernah mengatakan jamu memiliki sejumlah manfaat untuk tubuh antara lain menguatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi peradangan dan kadar lemak tubuh.

"Sebenarnya hampir semuanya bagus ya. Intinya jamu kan banyak mengandung zat antioksidan, penguat sistem imun, mengurangi peradangan di tubuh, mengurangi kadar lemak, menstabilkan tekanan darah. Jamu kunyit asam, beras kencur bagus, sereh sama lemon bagus," kata dia.

Empon-empon seperti yang rutin dikonsumsi Presiden Joko Widodo misalnya, bagus untuk kesehatan karena sifat antioksidan di dalamnya dan membuat metabolisme tubuh lebih efisien Kemudian, jahe bisa mengurangi pegal-pegal, mencegah mual dan perut kembung.
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar