
Gemercik Kawasan Wisata Religi Sambut Ramadhan

Ramadhan 1433 Hijriyah tinggal menghitung hari. Bulan suci penuh berkah telah telah kembali setelah dinanti hampir satu tahun lamanya.
Berbagai persiapan dilakukan masyarakat untuk menyambut bulan penuh rahmat tersebut, termasuk di kawasan wisata religi di Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah.
Kawasan wisata religi ini terletak di Kecamatan Palu Barat, tepatnya di Jalan SIS Aljufri.
Di beberapa ruas jalan tersebut saat ini telah berdiri tenda-tenda milik para penjual busana Muslim atau aneka keperluan lain yang berhubungan dengan puasa dan Lebaran.
Tenda-tenda tersebut dipasang lebih lebar dari bulan Ramadhan sebelumnya. Maklum, saat ini musim hujan telah memasuki Kota Palu.
Hampir setiap hari, hujan mengguyur kota yang berpenduduk 310 ribu jiwa ini.
"Mudah-mudahan dengan mulainya musim hujan, tidak mengurangi pengunjung," kata Ifath, salah seorang pemilik tenda.
Sejak Senin (16/7), kawasan wisata religi di Jalan SIS Aljufri mulai dipadati penjual menjelang puasa Ramadhan 2012.
Para pedagang dibantu sejumlah pekerja mulai mendirikan tenda untuk tempat berjualan.
Di sisi jalan sepanjang sekitar 200 meter, trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki disulap menjadi tempat berjualan.
Ifath, seorang penyewa tempat berjualan, mengaku sudah memesan tempat berjualan beberapa bulan sebelum Ramadhan.
"Mumpung tidak hujan, saya harus selesaikan membuat tenda hari ini," katanya.
Ifath mengaku akan menjual busana muslim berikut perlengkapan ibadah menyambut Ramadhan dan Lebaran 2012.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ifath mengaku juga akan menjual kurma dan sajian khas lebaran lainnya.
Saat ini terdapat sekitar 30 tempat berjualan yang tersedia.
Ahmad, pekerja yang sedang mendirikan tenda, mengatakan untuk menyewa sebuah tempat berjualan dibutuhkan uang sebesar Rp750 ribu yang berlaku satu bulan penuh. Satu petak memiliki luas sekitar 2x2 meter.
Ahmad mengatakan, seseorang harus sudah membayar uang sewa untuk mendapatkan petak berjualan karena banyak warga yang berminat berjualan di lokasi tersebut.
Dia mengatakan, pasar khusus ramadhan itu akan beroperasi sehari sebelum puasa Ramadhan.
"Namun kalau ada yang sudah siap berjualan hari ini, silahkan saja karena tidak ada aturan resmi," ujarnya.
Kebiasaan warga berjualan di sekitar Jalan SIS Aljufri dimulai sejak belasan tahun silam mengingat di lokasi tersebut banyak terdapat warga keturunan Arab.
Masyarakat sendiri tidak mengetahui siapa yang mulai berjualan pada setiap menjelang bulan Ramadhan.
Para penjual biasanya menyediakan baju muslim, peci, mukena, jilbab, dan perlengkapan sholat lainnya.
Namun seiring banyaknya pengunjung, pedagang juga menyediakan makanan khas lebaran dan sirup atau menu berbuka puasa.
Di sekitar Jalan SIS Aljufri juga terdapat makam SIS Aljufri yang merupakan penyebar agama Islam di Kota Palu dan Sulawesi.
Makam tersebut berada di sekitar Masjid Alkhairaat yang ramai dikunjungi masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan.
Sejarah SIS Aljufri
Jalan SIS Aljufri diambil dari tokoh penyebar Islam asal Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan agama Islam di Sulawesi pada tahun 1930-an.
Jalan SIS Aljufri sendiri memiliki panjang sekitar 1,5 kilometer.
SIS Aljufri adalah kepanjangan dari Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.
Usai menempuh perjalanan menyebarkan agama Islam bertahun-tahun, SIS Aljufri yang juga dikenal dengan panggilan Guru Tua wafat di Palu pada 1969 dengan usia 79 tahun.
Peninggalan Guru Tua yang bertahan hingga kini adalah perguruan Islam Alkhairaat yang terletak di Jalan SIS Aljufri.
Hingga saat ini Alkhairaat menjadi organisasi Islam terbesar di timur Indonesia dengan memiliki sekitar 1.700 sekolah, dan ratusan unit usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pemerintah Kota Palu sendiri sudah menetapkan wilayah sekitar Jalan SIS Aljufri sebagai kawasan wisata religi pada 2010.
Di sekitar Jalan SIS Aljufri banyak terdapat warga keturunan Arab, serta masih ada yang merupakan keturunan langsung Guru Tua.
Kopi Arab
Selain wisata sejarah SIS Aljufri, ada sebuah Masjid yang juga berada di Jalan SIS Aljufri. Masjid bernama An Nur itu siap menyediakan minuman berbuka puasa berupa kopi khas timur tengah.
Komunitas keturunan Arab di Masjid An Nur itu pada setiap bulan Ramadhan mempertahankan kebiasaan mereka dengan menenggak kopi hangat saat berbuka puasa.
Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, terdapat ratusan pengunjung masjid An Nur yang ingin berbuka dengan minuman khas tersebut. Saat ini para pengunjung tidak saja dari warga keturunan Arab, banyak juga masyarakat sekitar.
Jamaah masjid pada umumnya setia menanti saat berbuka puasa sambil membaca kitab suci Al Quran.
Sekitar 15 menit menjelang berbuka puasa, kopi jahe mulai dituang ke gelas setiap pengunjung masjid.
Kopi jahe tersebut masih mengeluarkan asap karena langsung diambil dari kuali besar di atas tungku api yang menyala redup.
Bahkan suara kopi saat dituang kopi ke dalam cangkir terdengar seperti gemercik air keran masjid yang menyentuh lantai.
Setiap hari pengurus masjid menyiapkan kopi jahe sebanyak 2,5 kilogram yang bisa menjadi sekitar 200 gelas untuk berbuka puasa.
Tantangan Wisata
Secara umum wisata religi Jalan SIS Aljufri berupa wisata belanja busana muslim, menu berbuka puasa, wisata sejarah Guru Tua, serta wisata adat warga keturunan Arab.
Namun di balik keindahan dan pesona kawasan wisata religi tersebut terdapat tantangan yang harus dicarikan solusi.
Saat ini di sisi jalan SIS Aljufri hampir selalu muncul luapan air akibat dari sistem drainase yang tidak berfungsi normal.
Genangan air itu tentu saja mengganggu pengunjung kawasan wisata religi, apalagi musim hujan sudah mulai berlangsung.
Bahkan genangan air hujan bercampur air selokan setinggi sekitar 10 cm itu mengganggu masyarakat yang akan berbelanja.
Bulan Ramadhan 1433 Hijriah sudah di depan mata, kawasan wisata religi juga siap menyambut. Namun percikan air di sejumlah lokasi di Jalan SIS Aljufri dinilai juga mengganggu masyarakat. (R026)
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
