
Menjaga Ketahanan Pangan Sulteng

"Pemerintah pusat pada tahun 2015 telah mengkuncurkan bantuan untuk menyukseskan program upaya khusus peningkatan produksi dan produktivitas padi, jagung, dan kedelai di Sulteng senilai lebih dari Rp300 miliar," kata Kepala Dinas Pertanian Sulteng, T
Palu, (Antarasulteng.com) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada 2015 ini menargetkan hasil produksi padi di daerah itu sebanyak 1,326 juta ton.
"Ini bukan sekadar target, melainkan harus tercapai guna mendukung dan menyuskseskan program swasembada pangan nasional pada tahun 2017," kata Kepala Dinas Pertanian Sulteng Trie Iriany Lamakampali, Sabtu.
Untuk mencapai target itu, tidaklah terlalu sulit bagi Sulteng karena sejak 1984 telah mencapai swasembada beras.
Dari tahun ke tahun, produksi petani rata-rata mengalami penaikan, kecuali pada musim panen (MP) 2014, produksi padi petani Sulteng sedikit menurun karena adanya kemarau panjang selama tiga bulan.
Selain itu, adanya serangan hama yang menyebabkan petani di sejumlah daerah mengalami gagal panen.
Pada tahun 2013, produksi padi di Sulteng mencapai 1,3 juta ton dan 2014 turun menjadi 1,2 juta ton.
Meski turun pada tahun 2014, Pemprov Sulteng optimistis pencapain produksi pada tahun ini akan meningkat sesuai dengan target. Bahkan, tidak menutup kemungkinan melebihi target yang diharapkan pemerintah.
Sulteng yang sejak beberapa tahun silam telah mencapai swasembada beras tidak terlepas dari adanya program transmigrasi.
Provinsi Sulteng pada era 1980-an merupakan salah satu daerah di Tanah Air sebagai penerima transmigrasi terbesar.
Kebanyakan yang ditransmigrasikan ke sejumlah daerah di Sulteng berasal dari Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
Realtif banyak sawah dibuka di daerah ini. Alhasil, kata Trie, Sulteng berhasil mencapai swasembada beras.
Tidak bisa dipungkiri, ada warga transmigrasi di daerah itu relatif banyak lahan persawahan. Misalnya, di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong merupakan lumbung beras terbesar di Sulteng.
Hingga kini, kedua daerah tersebut masih sebagai penyanggah beras, baik untuk kebutuhan masyarakat Sulteng maupun nasional.
Begitu pula, di Kabupaten Banggai. Di Kabupaten Banggai, terutama di Dataran Toili juga merupakan sentra produksi beras kedua terbesar di Sulteng.
Di Dataran Toili relatif banyak warga transmigrasi yang berasal dari Pulau Jawa dan juga Bali.
Kehadiran para transmigrasi benar-benar telah menjadikan provinsi yang kini dihuni sekitar 1,6 juta jiwa dan sebagian besar adalah petani menjadi salah satu provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebagai pemasok beras nasional.
Trie mengatakan bahwa Gubernur Sulteng Longki Djanggola dalam setiap pertemuan terus-menerus meminta agar seluruh instansi terkait untuk bersinergi dalam upaya menjaga ketahanan pangan di daerah ini.
Selain menjaga ketahan pangan, khususnya beras, juga meningkatkan produksi jagung dan kedelai karena hingga kini Sulteng belum juga mencapai swasembada jagung dan kedelai. Padahal, kata Trie, jujur Sulteng memiliki lahan yang potensial dan relatif cukup luas untuk mengembangkan komoditas jagung dan kedelai.
Kedua komoditas pangan tersebut sangat cocok dikembangkan di seluruh kabupaten dan kota di Sulteng.
Tanah yang ada sangat subur dan cocok bagi pengembangan jagung dan kedelai. Namun, sampai saat ini petani di Sulteng belum begitu bergairah mengembangkan kedua komoditas pangan itu karena selama ini para petani terfokus pada padi sawah dan juga komoditas perkebunan kakao.
Tidak bisa disalahkan sebab para petani selalu tergiur dengan harga. Harga kakao yang makin membaik di pasaran telah mendorong petani beralih menanam kakao.
Harga kakao di pasaran saat ini berkisar Rp28 ribu per kilogram. Sementara itu, harga beras di pasaran terendah Rp8.000,00/kg dan tertinggi Rp10.000,00/kg, sedangkan harga jagung di pasaran Rp5.000/kg dan kedelai mencapai Rp8.000/kg.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, harga jagung maupun kedelai dalam kurun dua tahun terakhir ini terbilang relatif cukup bagus.
Sebelumnya, harga jagung di pasaran berkisar Rp2.000,00/kg dan kedelai Rp5.000,00/kg.
Bantuan
Dalam rangka mendukung program upaya khusus peningkatan produksi dan produktivitas tiga komoditas pangan, yaitu padi, jagung, dan kedelai, pemerintah pusat maupun provinsi mengalokasikan dana dari APBN dan APBD untuk perbaikan irigasi, pengadaan alat pertanian, benih, pupuk, dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) para petani.
Pemerintah pusat pada tahun 2015 telah mengkuncurkan bantuan untuk menyukseskan program upaya khusus peningkatan produksi dan produktivitas padi, jagung, dan kedelai di Sulteng senilai sekitar Rp300 miliar.
Selain itu, Pemprov Sulteng juga menyediakan anggaran dari APBD untuk mendukung dan menyukseskan program swasembada pangan di Sulteng yang diharapkan tercapai pada tahun 2017 sesuai dengan harapan pemerintah pusat.
Trie tidak memerincinya, kecuali mengatakan bahwa perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap program swasembada pangan nasional maupun ketahanan stok pangan di daerah, termasuk Sulteng, relatif sangat besar sehingga perlu disambut gembira dan ditindak lanjuti secara serius para petani.
Pada tahun 2015, Dinas Pertanian Sulteng memprogramkan sebanyak 30 desa penyedia benih padi.
Selama ini, petani di Sulteng relatif sering kesulitan mendapatkan benih unggul karena harus didatangkan dari luar daerah.
Sulteng sampai sekarang ini masih mendatangkan benih dari luar daerah. Padahal, seharusnya jika bisa menyediakan benih sendiri, akan lebih menghemat anggaran dan juga tidak akan terlambat pada musim tanam (MT).
Menurut dia, jika program desa benih terealisasi, petani Sulteng tidak akan lagi terlambat mendapat pasokan benih unggul pada setiap kali MT.
"Ini yang akan kami lakukan, yaitu untuk langkah awal 30 desa penyedia benih unggul di Sulteng," katanya.
Secara nasional pada tahun ini pemerintah pusat menargetkan membangun sekitar 1.000 desa benih di Tanah Air, termasuk Sulteng.
Selain mengenjot produksi padi, Pemprov Sulteng juga berupaya meningkatkan produksi jagung.
Pada tahun 2015, Sulteng mendapat bantuan bibit jagung sebanyak 800.000 kg untuk dikembangkan pada lahan seluas 40.000 hektare tersebar di 12 kabupaten dan kota.
Begitu pula, Sulteng mendapat bantuan bibit kedelai untuk dikembangkan pada areal lahan seluas 6.500 hektare.
Daerah-daerah pengembangan kedelai adalah Kabupaten Buol, Sigi, Banggai Laut, dan Kota Palu.
Guna meningkatkan produksi pangan Sulteng, pemerintah pusat juga mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 77.800 ton. Alokasi pupuk bersubsidi ini terdiri atas beberapa jenis, antara lain pupuk urea 30.000 ton, NPK 29.700 ton, ZA 11.000 ton, SP36 4.000 ton, dan organik 3.800 ton.
Pagu pupuk tersebut tidak hanya diperuntukan bagi lima subsektor, yakni tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Dari lima subsektor yang mendapat alokasi pupuk bersubsidi terbesar adalah tanaman pangan sekitar 70 persen.
Salah satu dari beberapa faktor yang memengaruhi peningkatan produksi dan produktivitas tanaman adalah pupuk.
Pupuk harus tersedia secara memadai sehingga petani tidak kesulitan saat menghadapi MT.
Jika pupuk tersedia dan petani melakukan pemupukan berimbang atau lengkap sesuai dengan petunjuk, hasil panennya meningkat.
Begitu pula, produktivitas tanaman meningkat dari sebelumnya hanya 4,5 ton menjadi 5,1 ton per hektare.
Peran Bulog
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Sulteng Mar`uf mengatakan bahwa pihaknya siap menampung seluruh produksi petani pada musim panen (MP) 2015 ini.
Petani tidak perlu khawatir masalah pemasaran hasil panen karena Bulog selain membeli gabah/beras, juga jagung dan kedelai.
Tugas pokok Bulog adalah sebagai stabilisator harga gabah dan beras. Ketika harga gabah/beras anjlok, Bulog harus turun lapangan membeli produksi petani sesuai dengan standar harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Begitu pula, kata dia, ketika harga beras di tingkat pengecer naik, Bulog juga harus melakukan operasi pasar (OP) dengan menjual beras sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Jadi, Bulog membantu petani saat harga gabah/beras anjlok, juga membantu masyarakat saat harga beras di pasaran naik.
Mar`uf mengatakan bahwa pada tahun ini Bulog akan membeli beras petani sebanyak 36.000 ton.
Akan tetapi, jika rencana pembelian itu telah terealisasi, Bulog tidak langsung menghentikan pembelian.
"Biasanya Bulog merevisi kembali target pembelian disesuaikan dengan masa panen," kata dia.
Mar`uf juga menjamin stok pangan Sulteng, khususnya beras mencukupi kebutuhan masyarakat.
Bulog saat ini masih memiliki stok beras di gudang selama dua bulan ke depan.
Sulteng sesuai dengan data BPS setempat setiap tahun mengalami surplus beras hingga sekitar 270.000 ton.(BK03)
Pewarta : Oleh Anas Masa
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
