Logo Header Antaranews Sulteng

Sulteng Datangkan Beras Luar Saat Panen Raya

Senin, 11 Mei 2015 12:11 WIB
Image Print
Ilustrasi: kegiatan bongkar beras impor di pelabuhan (ANTARANews)

Palu, (antarasulteng.com) - Dua truk penuh muatan karung beras tampak parkir di depan Gudang Bulog di Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, Sulawesi Tengah.

Setelah kedua truk berwarna merah itu masuk gudang, sejumlah buruh segera berlompatan ke atasnya untuk menurunkan karung-karung putih bertuliskan `Bolog` yang baru diambil di Pelabuhan Pantoloan.

"Ini semua beras yang didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur," kata salah seorang karyawan di gudang Bulog itu.

Jumlah beras di gudang yang terletak di jalur trans Sulawesi ini sebenarnya masih sangat banyak. Sebagian besar, merupakan produksi petani di tiga kabupaten yaitu Donggala, Parigi Moutong dan Sigi.

Namun Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Sulteng Abdul Gani mengatakan terpaksa mendatangkan beras dari luar karena realisasi pengadaan beras di daerah ini sangat minim.

"Hingga pekan kedua Mei 2015, Bulog Sulteng baru menyerap sekitar 1.800 ton beras petani Sulteng, padahal Bulog Sulteng membutuhkan stok beras pada 2015 ini sebanyak 36 ribu ton," kata dia.

Kebutuhan beras sebanyak itu antara lain untuk memenuhi penyaluran raskin, cadangan beras bencana alam dan mendukung kegiatan operasi pasar jika harga beras di pasaran bergerak naik.

Karena realisasi pengadaan berjalan sangat seret dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Bulog Sulteng harus mendatangkan pasokan beras dari daerah-daerah yang hasil pengadaannya besar.

Selama ini, lanjut Gani, saat hasil pengadaan lokal kecil dan stok beras di gudang Bulog semakin menipis, maka kedua daerah itu yang selalu mengirim beras ke Sulteng.

Dia mengatakan kebijakan Bulog Sulteng mendatangkan beras sebanyak 3.000 ton dari Surabaya dan 2.000 ton dari Sulsel semata-mata guna mengamankan stok.

Pada 2013 dan 2014, Bulog Sulteng tidak mendapat pasokan beras dari luar, karena hasil pengadaan yang dilakukan Bulog cukup besar.

Misalkan di 2013 realisasi pengadaan mencapai 47 ribu ton namun pada 2014 menurun hasil pengadaan sekitar 25 ribu ton.

Selama dua tahun itu, Bulog Sulteng bisa memenuhi sendiri kebutuhan masyarakat. "Tapi pada 2015 ini, Bulog dengan sangat terpaksa harus mendatangkan beras dari luar untuk memenuhi kebutuhan penyaluran akibat dari hasil pengadaan yang sangat minim.

Tetap berusaha

Meski Bulog masih sangat sulit menyerap hasil panen petani karena banyaknya pedagang dari Manado dan Gorontalo datang membeli beras di sejumlah kabupaten di Sulteng, namun Bulog tetap berusaha keras membeli dengan harga patokan yang ditetapkan pemerintah.

Dia mengaku sulit bersaing dengan para pedagang luar, sebab harga pembelian mereka jauh lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP).

Bulog membeli beras petani sesuai dengan standar HPP yaitu Rp7.300/kg. Sementara para pedagang dari Manado dan Gorontalo membeli beras langsung ke petani dengan harga Rp7.500 sampai Rp7.600/kg.

Selisih harga yang cukup mencolok tersebut, sangat menyulitkan Bulog untuk bisa membeli beras produksi petani karena petani lebih suka menjual kepada pedagang.

Berbagai cara dilakukan Bulog guna menyerap sebanyak mungkin hasil panen petani. Cara yang dilakukan Bulog antara lain dengan menjalin kemitraan dengan pemilik penggilingan padi.

"Kami sudah memiliki sejumlah mitra di setiap kabupaten dan kota di Sulteng untuk mendukung kegiatan Bulog," kata Gani.

Bahkan, Bulog Sulteng sudah punya satgas khusus yang diterjunkan membeli beras petani. Anggota Satgas Bulog adalah karyawan, juga dari mitra.

Rata-rata mitra Bulog adalah pengusaha penggilingan padi. "Tapi karena harga beras dibeli pedagang luar lebih tinggi, petani biasanya menjual kepada pedagang dari pada satgas Bulog," katanya.

Hal itu diakui oleh Suleman dan Rais, mitra Bulog Sulteng yang juga tergabung dalam satgas Bulog.

Suleman yang berdomisili di Kota Palu dan mempunyai sawah dan penggilingan padi mengaku hingga kini masih sulit membeli beras petani, sebab harga dipatok pedagang jauh di atas HPP.

Petani tidak mau menjual beras kepada Bulog, karena harga pembelian pedagang luar lebih tinggi.

"Kami (pemilik penggilingan) tidak bisa memaksa petani untuk menjual beras kepada satgas Bulog yang ditempatkan di sejumlah penggilingan," kata dia.

Pemilik penggilingan hanya mengambil jasa saja. Selama ini, kalau petani menggiling gabah sebanyak 10 kaleng, maka jasa kepada pemilik penggilingan hanya satu kaleng.

"Itu saja yang merupakan jatah pemilik penggilingan," katanya.

Biasanya, pemilik penggilingan menawarkan kepada petani untuk menjual beras kepada satgas Bulog, tetapi umumnya enggan kalau kondisi harga masih tinggi seperti dewasa ini.

Hal senada disampaikan Rais bahwa mereka sulit membeli beras petani karena kalah bersaing dengan pedagang luar.

"Kami dengar harga beras di Manado dan Gorontalo berkisar Rp9 ribu sampai Rp10 ribu/kg," kata dia dan menambahkan dengan kondisi harga seperti itu, pedagang otomatis mendapat keuntungan cukup besar.

Baik Rais maupun Suleman mengaku sangat sulit bagi Bulog untuk mencapai target pengadaan beras 2015.

"Kalau harga beras dipatok pedagang luar tetap seperti itu, Bulog dipastikan tidak akan bisa memenuhi target pembelian," kata dia.

Karena itu wajar sekali kalau Bulog Sulteng harus mendatangkan beras dari Surabaya dan Sulsel guna mengamankan stok beras di gudang yang setiap bulan rata-rata menyaluran kepada masyarakat miskin sekitar 3.000 ton. (skd)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026