Kisah para pengawal perbatasan RI - Timor Leste

id kisah para pengawal batas negeri,Satgas pamtas RI-RDTL,NTT

Kisah para pengawal perbatasan RI - Timor Leste

Sejumlah prajurit Satgas Pamtas Yonarmed 6/3 Kostrad sedang berjaga di pos penjagaan di Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021). ANTARA/Bernadus Tokan

Kota Kupang (ANTARA) - Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) secara resmi merdeka dan menjadi sebuah negara pada 20 Mei 2002, setelah referendum yang diselenggarakan pada 30 Agustus 1999 menghasilkan 78,5 persen rakyat memilih memisahkan diri dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejak menjadi sebuah negara merdeka, empat wilayah Indonesia yang terletak di bagian barat Pulau Timor, yakni Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Kupang secara otomatis menjadi wilayah yang berbatasan darat dengan Negara Timor Leste, selain perbatasan laut dengan Australia.

Dalam hubungan dengan itu, sejak tahun 2014 Pemerintah Indonesia melalui TNI mulai menempatkan satuan-satuan tugas pengamanan perbatasan (satgas pamtas) untuk menjaga keamanan di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara.

Satgas Pamtas RI-RDTL pertama yang ditugaskan menjaga keamanan di sepanjang wilayah perbatasan RI-RDTL adalah dari satuan Batalion Infanteri (Yonif) 312.

Pada 2021 ini, Pemerintah Indonesia menempatkan dua satuan tugas di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste yakni Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif 742/SWY dan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarmed 6/3 Kostrad.

Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif 742/SWY yang dikomandani Letnal Kolonel Inf Bayu Sigit Dwi Untoro dengan 400 personel tersebar pada 20 pos penjagaan di wilayah perbatasan Kabupaten Belu sepanjang 128,8 km.

Sedangkan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarmed 6/3 Kostrad dikomandani Letnan Kolonel Arm Andang Radianto dengan jumlah personel pendukung sebanyak 400 orang.

Para personel TNI ini menempati 21 pos penjagaan, tersebar pada tiga kabupaten, yakni Kabupaten Kupang, Malaka, dan Timor Tengah Utara (TTU) dengan panjang garis perbatasan yang diawasi sekitar 147 km.

Tugas pokok Satgas Pamtas RI-RDTL selama 9 bulan atau 270 hari adalah menegakkan kedaulatan negara di daerah perbatasan, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik tahun 1945.

"Selain itu, harus melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan. Dalam rangka membantu tugas Kolakops Korem 161/Wira Sakti," kata Perwira Penerangan Satgas Yonarmed 6/3 Kostrad Letda Arm Panji Putra Bagaskara.
Seorang prajurit Satgas Pamtas Yonarmed 6/3 Kostrad sedang mengajarkan membaca kepada seorang murid sekolah dasar di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/10/2021). ANTARA/Bernadus Tokan

Tugas pokok satgas pamtas ini kemudian dijabarkan dalam bentuk mencegah pelanggaran hukum di wilayah perbatasan, mencegah pasar gelap dan penyelundupan, melaksanakan giat pembinaan teritorial melalui anjangsana, karya bakti, tenaga pendidik dan sosialisasi patok batas negara.


Bukan masalah

Satgas Pamtas Yonarmed 6/3 Kostrad memiliki 21 pos tempur yang membentang dari daerah Oepoli di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara sampai dengan Kabupaten Malaka di daerah Ailala.

Tiap-tiap pos memiliki kendala masing-masing. Ada pos yang memiliki kendala listrik, air, hingga bangunan pos yang rusak, namun hal tersebut tidak menjadi kendala bagi prajurit Satgas Yonarmed 6/3 Kostrad.

Meskipun masih ada 7 pos, yakni Pos Manamas, Pos Nelu, Pos Oelbinose, Pos Naekake, Pos Oepoli Pantai, Pos Haslot, dan Pos Fatuha yang belum ada aliran listrik PLN, namun prajurit penjaga pos berupaya menggunakan solar cell.

Danpos Oelbinose Serka Lazalia menuturkan, meskipun pos penjagaan belum dialirkan listrik dari PLN, kami berusaha dengan menggunakan sumber listrik yang ada yaitu solar cell.

"Solar cell memang tidak bisa digunakan 24 jam, tetapi karena hubungan dengan masyarakat di sekitar pos yang sangat baik, sehingga apabila kami sewaktu-waktu membutuhkan listrik dari rumah warga, mereka bersedia membantu," katanya.

Ada pula pos-pos yang masih memiliki kendala sumber air, yakni Pos Kalan, Pos Napan, Pos Oelbinose, Pos Naekake, Pos Haslot, Pos Fatuha, dan Pos Ailala.

Ada beberapa pos yang tidak memiliki sumber air, belum adanya mesin pompa air, maupun sudah menggunakan pipa, tetapi kondisi pipa sering rusak akibat terlindas kendaraan ataupun hewan ternak.

Karena itu, pos-pos melaksanakan upaya dengan mengambil air bersih secara manual di tempat sumber air terdekat di dekat pos ataupun membeli air bersih.

Danpos Ailala Letda Arm Ananda mengungkapkan, kondisi kesulitan air di Pos Ailala sudah terjadi sejak pos ini dibangun, tetapi tidak menjadi kendala bagi prajurit untuk beraktivitas.

"Kami dapat mengambil air dari sumber air yang dekat, kurang lebih jarak 500 meter dari pos, sehingga kondisi kekurangan air tidak menjadikan alasan bagi kami untuk berbuat yang terbaik bagi daerah ini," kata Letda Arm Ananda.


Banyak Sukanya

Komandan Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif 742/SWY Letnan Kolonel Inf Bayu Sigit Dwi Untoro mengatakan lebih banyak sukanya ketimbang dukanya selama menjalankan tugas sebagai penjaga keamanan di wilayah perbatasan negara RI-RDTL.

"Sebenarnya lebih banyak sukanya daripada dukanya sih, selama bertugas di garis depan. Kalau sukanya kami merasa benar–benar menjadi seorang tentara yaitu dengan kami menjalankan tugas," katanya.

Di sinilah sebenarnya tugas pokok seorang prajurit TNI dalam menjaga NKRI tetap berdiri tegak, kokoh, NKRI harga mati. Di sinilah tugas kami sebenarnya, katanya lagi.

"Ini kebanggaan kami dan sukanya kami. Kemudian kami banyak mengembangkan segala inovasi yang tadinya kami tidak tahu bagaimana cara kami berkomunikasi dengan masyarakat, dan bagaimana kami yang bukan sedarah tapi kami bisa diterima. Di sini pola pikir kami akan berkembang," katanya pula.

Menurut dia, setelah diterima oleh masyarakat dan melihat kondisi kehidupan masyarakat, setiap prajurit mulai merasa tergerak untuk berpikir apa yang harus dilakukan untuk membantu masyarakat.

"Jadi setelah kami mencoba mendekat, kami menyelami ternyata ada beberapa hal yang bagaimana ini kami harus membantu mereka. Ini yang mungkin sukanya kami. Jadi pola pikir kami berkembang," katanya.

Karena itu, katanya lagi, apabila kita mampu untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, maka itu adalah suka yang paling sangat luar biasa bagi seorang prajurit.

Kalau dukanya memang terutama pandemi COVID-19 ini, karena harus meninggalkan keluarga dan tidak boleh kembali selama bertugas, kecuali istri atau anak mengalami sakit keras.

"Saya sendiri mengalami satu keluarga positif COVID-19, bahkan yang membantu di rumah meninggal dunia. Itu dukanya karena kami tidak bisa menjenguk, kami tidak bisa melihat, kami tidak bisa menjaga," katanya pula.

Kemudian ada beberapa prajuritnya yang kehilangan orangtuanya, karena masalah pandemi COVID-19.
 


Namun, dia sendiri melihat, semangat morilnya seluruh anggota sampai dengan hari ini, sepertinya tidak punya duka. Mereka dengan senang dan semangat tetap melakukan kegiatan-kegiatan patroli maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.

Contohnya mereka melakukan kegiatan operasi untuk menangkap kegiatan ilegal, dan di akhir masa purna tugas ini mereka masih mau patroli mengecek lagi patok jangan sampai nanti serah terima tidak sesuai dengan kenyataannya.

Selain kegiatan anjangsana, masih banyak lagi yang dilakukan oleh para prajurit di perbatasan RI-RDTL.

"Dari situ saya melihat bahwa prajurit saya ternyata masih semangat. Jadi kalau melihat dukanya sebenarnya sangat sedikit," kata Kolonel Inf Bayu Sigit Dwi Untoro.


Tetap solid

Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan aparat TNI yang bertugas di kawasan perbatasan dengan negara asing merupakan penyangga utama bagi negara Indonesia dalam menjaga keutuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

"Kita berharap TNI terus menjaga kedaulatan negara, terutama di daerah-daerah kawasan perbatasan dengan negara asing, seperti di wilayah NTT-Timor Leste karena TNI merupakan penyangga utama dalam menjaga kedaulatan NKRI," kata Gubernur terkait peran TNI yang pada 5 Oktober 2021 ini merayakan HUT ke-76.

Ia mengatakan keberadaan unsur TNI menjadi kekuatan utama dalam sistem pertahanan negara yang mampu menjaga keutuhan wilayah NKRI.

"Kita berharap dengan HUT ke-76 pada 2021, TNI tetap solid, karena TNI merupakan kekuatan utama bagi negara ini dalam pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya pula.

Gubernur Laiskodat menambahkan peran TNI yang bertugas menjaga keamanan wilayah-wilayah perbatasan di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) selama ini sangat baik, sehingga kondisi keamanan di kawasan perbatasan NTT dengan Timor Leste tetap dalam kondisi yang aman.

"Pemerintah Provinsi NTT mengapresiasi peran TNI yang selama ini bertugas menjaga keamanan di kawasan perbatasan dengan Timor Leste yang mampu menjalankan misi dengan sukses," katanya pula.

Kisah dari para prajurit TNI yang bertugas di wilayah perbatasan RI-Timor Leste ini menunjukkan peran personel TNI untuk menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan, dengan suka dan duka dialami mereka, namun tugas dari negara tetap harus dijalankan dengan baik dengan segala risikonya.

Mereka adalah penjaga dan pengawal negara kita di garda depan wilayah perbatasan RI-Timor Leste yang berjuang demi keutuhan NKRI.
 
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2021