Menyulap gang sempit jadi kebun anggur

id Munjul,Urban farming,Pertanian kota,Anggur,Dubes ukraina

Menyulap gang sempit jadi kebun anggur

Tanaman anggur di Gang Obor Patma RW 06 Kelurahan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (23/10/2021). ANTARA/Yogi Rachman

Jakarta (ANTARA) - Menginjakkan kaki di Gang Obor Patma RW 06 Kelurahan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, seolah tak ada bedanya dengan kondisi permukiman padat penduduk lainnya di Ibu Kota.

Namun jalanan sempit di tiap lorong gang yang hanya muat dilalui satu mobil itu tampil beda karena disulap menjadi kebun anggur yang memiliki nilai ekonomis untuk warga sekitar.

Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 06 sebagai pengelola kebun anggur tersebut memanfaatkan rangka baja ringan dengan panjang enam meter dan tinggi tiga meter sebagai pondasi untuk tanaman merambat tersebut.

Total ada sekitar 15 lokasi kebun anggur tersebar di gang-gang RW 06 Kelurahan Munjul. Kehadiran kebun anggur tersebut selain memiliki nilai ekonomis juga membuat lingkungan RW 06 menjadi lebih hijau dan asri.

Ketua RW 06, Iwan mengatakan, kebun anggur yang berada di lorong gang itu sudah ada sejak September 2020 dengan menggunakan dana swadaya masyarakat.

Iwan menjelaskan, dalam penanaman dan pemeliharaan kebun anggur itu juga bekerja sama dengan Komunitas Anggur Jakarta (KAJ).

"Penanaman anggur disini berhasil karena ada kolaborasi dengan Komunitas Anggur Jakarta, kita dipandu, sebelumnya saya pernah coba tanam cuma tidak sesuai SOP dan gagal," kata Iwan.
 
Suasana Gang Obor Patma RW 06 Kelurahan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (23/10/2021). ANTARA/Yogi Rachman

Dari Ukraina
Iwan menjelaskan setidaknya ada lima varietas anggur asal Ukraina yang dikenal karena kualitasnya ditanam di wilayahnya, yakni angelica, ninel, julian, caroline dan baikonur.

Tak hanya itu, RW 06 Munjul juga menanam anggur varietas Amerika seperti banana, jupiter dan taldun.

"Paling bagus jenis ninel, mudah, semua orang bisa tanam, tahan cuaca apapun," ujar Iwan.

Pembina Komunitas Anggur Jakarta, Yatno Gondrong mengatakan, menanam anggur memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibandingkan dengan tanaman buah lainnya.

Lahan sempit masih dapat dimanfaatkan untuk menanam anggur asal sinar matahari dapat masuk dengan sempurna tanpa terhalang.

"Untuk anggur ini 60 sampai 70 persen harus kena sinar matahari. Harus. Bisa juga melalui hidroponik, bisa. Kendalanya mungkin di media tanam. Karena anggur ini beda dengan tanaman lain," tutur Yatno.

Tanaman anggur memiliki kadar air hingga 70 persen. Hal itu membuat tanaman tersebut tidak perlu rutin disiram karena dapat menyebabkan pembusukan akar.


Waktu penyiraman yang ideal untuk tanaman anggur, yaitu dua hari sekali agar media tanamnya tidak terlalu basah. Sementara untuk pemberian pupuk interval waktunya, yaitu setiap dua Minggu sekali.

Sebagai tanaman merambat, anggur butuh media untuk tumbuh. Penggunaan baja ringan bisa menjadi pilihan pondasi seperti apa yang dilakukan oleh PKK RW 06 Kelurahan Munjul.

"Tapi bisa dengan bambu atau lainnya. Kalau baja ringan itu ketahanan cukup lama, kalau bambu sering tambal sulam. Kalau untuk biaya rangka baja ringan 3X6 meter sekitar Rp2,5 juta," ujar Yatno.

Anggur dapat berbuah setelah tujuh bulan ditanam. RW 06 Kelurahan Munjul bisa memanen hingga 25 kilogram anggur.

Hasil panen itu sebagian dijual kepada warga sekitar dan juga sebagian diolah kembali menjadi sajian seperti jus hingga keripik yang terbuat dari anggur.

"Jus buah anggur itu lumayan, omzet mereka itu perlu satu bulan bisa mencapai di angka Rp7 juta, digalang secara bersama nanti mungkin ada pembagian-pembagian berapa persen," kata pria yang berdomisili di Duren Sawit tersebut.

Agrowisata
Keberhasilan warga RW 06 Kelurahan Munjul dalam menanam anggur di lorong-lorong gang permukiman mendapat apresiasi dari Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin yang secara khusus menyempatkan diri hadir dalam acara panen sekaligus memberikan bantuan bibit.

Vasyl mengaku tak percaya bahwa warga RW 06 Kelurahan Munjul dapat membudidayakan tanaman anggur meski dengan keterbatasan lahan yang ada.

Sekretaris Kota Jakarta Timur, Fredy Setiawan juga memuji keberhasilan RW 06 Kelurahan Munjul dalam menerapkan konsep pertanian kota (urban farming) di ibu kota.

Ini membuktikan bahwa pertanian perkotaan di Jakarta bukanlah sebuah hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan Fredy mengungkapkan bahwa Kelurahan Munjul diwacanakan menjadi tujuan agrowisata di Jakarta Timur.

"Kalau memang ini menjadi kampung agrowisata dan bisa dikembangkan, kita akan lakukan koordinasi dengan pihak terkait," kata Fredy.

Untuk mewujudkan wacana itu, tentu tidak hanya sarana dan prasarana saja yang diperlukan. Tapi juga infrastruktur yang lain dan ini melibatkan seluruh SKPD.


Kepala Suku Dinas (Sudin) Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (KPKP) Jakarta Timur Ali Nurdin bahkan menyebut wilayah RW 06 Kelurahan Munjul dengan potensi tanaman anggur hasil pertanian kota sudah dapat menjadi destinasi agrowisata.

Secara visual wilayah ini sudah menjadi agrowisata. Masyarakat bisa datang ke sini belajar menanam anggur dan lihat hasilnya di sini.

Nantinya akan bersinergi karena tidak jauh dari sini ada Agrowisata Cilangkap. Kemudian yang lain itu semuanya akan bersinergi.

Dia akan akan berkoordinasi dengan Sudin Pariwisata juga kaitannya dengan agrowisata ini.

Sudin KPKP Jakarta Timur juga berkomitmen mendukung masyarakat yang ingin mengembangkan konsep pertanian perkotaan di wilayahnya masing-masing melalui pembinaan dan pendampingan.

"Pembinaan kita adalah bagaimana mendampingi disampaikan ada kaitannya dengan pasar. Kemudian untuk produk olahan, pengurusan segala macam, kita yang sampai ke BPOM. Kita dampingi dan akan kita fasilitasi sehingga masyarakat cukup membuat produk kita yang ke sana," kata Ali.

Pertanian perkotaan selain menjadi solusi hadirnya lahan hijau di tengah padatnya Ibu Kota juga membawa dampak ekonomi dan kesehatan bagi warga sekitar.

Karena itu, perlu adanya dukungan dari pemerintah kota dan pemerintah provinsi dalam menciptakan lahan-lahan pertanian perkotaan baru di Jakarta.