Logo Header Antaranews Sulteng

Upaya Sulteng Kendalikan Harga Beras

Minggu, 17 Januari 2016 18:36 WIB
Image Print
Ilustrasi--Penimbunan Beras (antaranews)

Palu, (antarasulteng.com) - Provinsi Sulawesi Tengah setiap tahunnya mengalami surplus beras sekitar 200.000 ton, termasuk pada musim panen (MP) 2015, meski selama 6 bulan dilanda musim kemarau panjang.

Walau demikian, ternyata surplus beras sama sekali tidak menjamin bahwa harga beras di pasaran tetap stabil dan terkendali.

Meski pada MP 2015, produksi petani mengalami peningkatan sehingga Sulteng surplus beras. Akan tetapi, memasuki awal 2016 harga beberapa kebutuhan masyarakat justru cenderung mengalami penaikan.

Seperti yang terjadi pada kebutuhan pokok. Harga beras, misalnya, di pasaran seluruh kabupaten dan kota di Sulteng sejak dua pekan terakhir ini melonjak relatif tajam.

Misalnya, di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng, harga beras dijual para pedagang di pasar-pasar tradisional maupun modern rata-rata mengalami penaikan relatif cukup tinggi.

Bukan hanya beras premium (beras kualitas terbaik) yang mengalami penaikan, melainkan juga beras medium. Harga beras medium yang sebelumnya bertahan relatif cukup lama pada kisaran Rp8.000,00 per kilogram, kini naik tajam menjadi Rp9.000,00/kg.

Begitu pula, beras premium dari Rp10 ribu/kg, kini naik menjadi Rp12 ribu/kg.

Naiknya harga beras membuat masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, mulai mengeluh dan berpikir keras bagaimana agar bisa mengatasi penaikan harga beras di pasaran, terutama mengatur keuangan, sehingga bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama sebulan.

Karena selain harga beras, kata Ny. Marli Cahyadi (36), warga di bilangan Tatura Selatan itu, juga ada beberapa komoditas lain yang mengalami penaikan.

Kebutuhan lain yang juga naik relatif cukup tinggi, kata Ny. Marlyn adalah tomat. Harga tomat sekarang ini dijual pedagang di pasar-pasar mencapai Rp12 ribu/kg. Padahal, harga tomat sebelumnya paling tingi sebesar Rp8.000,00/kg.

Kenaikan itu, menurut dia, jelas sangat terasa dan membaratkan masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.

"Kalau masyarakat atas, kemungkinan tidak terlalu merasakan dampaknya," katanya.

Namun, bagi masyarakat menengah ke bawah, kenaikan harga beras dan tomat di pasaran akan sangat berdampak terhadap keuangan rumah tangga.

Hal senada juga disampaikan Ny. Made, warga yang berdomisili di bilangan Kelurahan Birobuli Selatan. Dia juga mengatakan bahwa kenaikan harga beras di pasaran dalam beberapa pekan ini relatif sangat terasa, khusus bagi masyarakat kecil.

"Saya terus terang terasa sekali membeli beras karena harganya naik hingga Rp1.000,00/kg," katanya.

Menurut dia, kalau kenaikannya harga berkisar Rp100--Rp200/kg, tidak akan terasa berat. "Akan tetapi, kalau kenaikannya sampai Rp1.000,00/kg seperti sekarang ini, jelas memberatkan masyarakat kecil," katanya.

Kendalikan Harga

Kedua ibu rumah tangga itu mendesak pemerintah untuk segera melakukan upaya mengendalikan atau menstabilkan kembali gejolak harga, khususnya beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Memang selain beras, masih relatif banyak bahan makanan nonberas. Akan tetapi, selama ini masyarakat susah sekali jika tidak makan nasi. Nasi masih merupakan makanan utama masyarakat, kata Ny. Marlyn dan Ny. Made.

Oleh karena itu, keduanya meminta pemerintah untuk melakukan langkah-langkah konkret agar harga beras di pasaran bisa normal kembali.

Ironisnya, kata mereka, Sulteng selama ini tercatat sebagai daerah penghasil beras, tetapi harga beras di pasaran justru lebih mahal daripada harga beras di daerah lain.

Pemerintah perlu mencari tahu apa penyebab harga beras naik, padahal Sulteng selama ini surplus beras dalam jumlah besar.

Jangan sampai kenaikan harga karena ulah para pedagang dengan sengaja menaikkan harga untuk mencari keuntungan besar, kata kedua ibu rumah tangga itu.

Apalagi, kata mereka, stok beras di pasar relatif cukup banyak, tetapi harga naik.

Menurut mereka, jika ada pedagang yang sengaja menimbun stok dan menaikkan harga secara sepihak, yang bersangkutan harus ditindak.

Pemerintah harus melakukan sidak ke pasar-pasar agar bisa mengetahui secara pasti dan akurat penyebab dari kenaikan harga beras dan kebutuhan lainnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng Abubakar Almahdali membenarkan harga beberapa kebutuhan, terutama beras dan tomat, di pasaran mengalami penaikan relatif cukup signifikan.

Hasil pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di seluruh kabupaten dan kota di Sulteng, khususnya beras semua jenis naik.

Kenaikan di tiap kabupaten dan kota di Sulteng bervariasi.

Belum Panen

Berdasarkan pantauan, kenaikan harga beras di pasaran dikarenakan panen belum berlangsung. Selain itu, harga beras di tingkat produsen juga mengalami penaikan.

"Kalau sebelumnya harga beras di tingkat produsen berkisar Rp7.500,00/kg, kini sesuai dengan informasi dari Bulog bahwa harga beras di tingkat petani sekarang ini sudah mencapai Rp8.000,00/kg," katanya.

Menurut dia, hal itu yang menyebabkan harga beras di tingkat pengecer di pasar-pasar di semua kabupaten dan kota, termasuk di Palu bergerak naik dan kini untuk beras medium dijualpedagang mencapai Rp9.000,00/kg dan premium Rp12 ribu/kg.

Dalam rangka mengendalikan kenaikan harga beras, Pemprov Sulteng, kata Abubakar melalui Perum Bulog telah melaksanakan operasi pasar (OP) beras di setiap daerah di provinsi ini.

Pemerintah melalui Bulog, kata dia, telah mengantisipasinya dengan meminta bantuan Bulog di setiap kabupaten dan kota di Sulteng menggelar OP sebagai salah satu bentuk dari intervensi pasar.

Dengan harapan, harga beras di pasaran tidak makin bergerak naik karena memang panen belum berlangsung. "Kita sekarang ini menghadapi masa paceklik," kata dia.

Abubakar menjamin kalau sudah ada panen, harga beras di pasaran normal kembali.

Namun untuk mencegah agar harga beras tidak naik lagi, Pemprov melalui Bulog sudah melakukan OP dengan menjual beras sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Sulteng Abdul Gani membenarkan telah menggelar OP di beberapa kabupaten dan kota di provinsi ini.

"Bulog sejak dua pekan ini telah menggelar OP di Kabupaten Tolitoli, Poso, Banggai, dan Palu," katanya.

Bulog menjual beras kepada masyarakat melalui kegiatan OP untuk wilayah Palu Rp8.000,00/kg, Kabupaten Donggala dan Poso masing-masing Rp8.100,00/kg.

HET beras OP, kata dia, tidak sama karena dilihat dari kondisi daerah masing-masing, terutama jangkauan alat transportasi.

Karena ada daerah di Sulteng yang relatif cukup jauh dan hanya bisa dijangkau lewat jalur laut sehingga dalam menetapkan HET beras OP tentu tidak akan sama antara satu daerah dan lainnya.

Kegiatan OP sebagai salah satu upaya dari pemerintah daerah di Provinsi Sulteng untuk mengendalikan harga beras di pasaran.

"Kita semua beraharap dengan intervensi pasar paling tidak mencegah agar harga beras tidak lagi naik dan memberikan kesempatan bagi masyarakat menengah ke bawah bisa membeli beras yang dijual Bulog di titik-titik OP yang ada di setiap daerah," kata Abdul Gani.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026