
Sesepu: Warga Tionghoa Harus Kompak Dan Harmonis

Kita harus bisa hidup rukun dan damai dimana saja, termasuk di Kota Palu, Ibu kota Provinsi Sulteng
Palu, (antarasulteng.com) - Sesepu warga Tionghoa di Palu, Sulawesi Tengah, Mulyadi Candra dalam pesan Tahun Baru Imlek mengajak warga keturunan Tionghoa di Kota Palu untuk selalu kompak dan hidup hormanis di tengah-tengah masyarakat yang majemuk.
"Kita harus bisa hidup rukun dan damai dimana saja, termasuk di Kota Palu, Ibu kota Provinsi Sulteng," katanya dalam pesan Tahun Baru Imlek di Wihara Karuna Dipa Palu, Senin.
Mulyadi mengatakan sebagai warga Tionghoa hendaknya tetap menjaga kekompakan dan keharmonisan antarsesama di kalangan warga Tionghoa, keluarga maupun masyarakat.
Menurut dia, tujuan dari Tahun Baru Imlek bagi warga Tionghoa untuk mewariskan tradisi dan budaya Tiongkok kepada anak cucu kita.
Juga untuk memperkenalkan kepada suku lainnya yang ada di setiap negara dan daerah, termasuk di Palu dan kabupaten lain di Sulteng.
Tahun baru Imlek 2567 menandai dimulainya tahun monyet. Kalender Tionghua adalah penanggalan yang menggunakan baik perputaran matahari dan perputaran bulan (lunisolar).
Bila dihitung berdasarkan kalender masehi, tahun baru Imlek selalu jatuh di antara bulan Januari dan Februari.
Untuk tahun 2016, perayaan Tahun Baru Imlek jatuh pada pada hari Senin, 8 Februari.
Tahun baru Imlek biasanya dirayakan dengan makan malam bersama dengan keluarga, aktivitas membersihkan rumah untuk menyapu bersih "kemalangan" tahun lalu dan menyambut "nasib baik" di tahun yang baru.
Selain itu perayaan Imlek tidak lepas dengan pemberian angpao atau amplop merah.
Angpao biasanya diberikan oleh yang sudah menikah kepada yang masih belum menikah.
Dia juga berterima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres No.19/2002 dan mulai dirayakan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2003.
Selain di Indonesia, tahun baru Imlek juga merupakan hari libur nasional di Brunei, Filipina, Korea, Malaysia, Mauritius, Singapura, Tiongkok, Thailand dan Vietnam.
Jumlah orang Tionghoa di Indonesia sekarang ini sekitar dua juta jiwa.
Bahkan, kata Mulyadi Suku Tionghoa merupakan suku terbesar ketiga di Tanah Air setelah Jawa dan Sunda.
Ia berharap di Tahun Baru Imlek, ekonomi Indonesia semakin lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya.
Apalagi bertepatan dengan pemberlakuan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana produk-produk dari luar bebas masuk dan dipasarkan, termasuk di Palu.
Menurut dia, MEA merupakan peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Indonesia bagaimana menangkap peluang dengan baik dan bagaimana pula menciptakan produk-produk yang berkualitas sehingga bisa bersaing dan laku di pasaran.
Sementara Ketua DPC MaGHABUDHI Palu Kumala Dhani mengatakan yang memimpin Puja Bhakti Upacarika Tahun Baru Imlek 2016 adalah Romo Ruminto S,AG.
Sedangkan bertindak selaku Bhikhu adalah Candrakaro Mahathera.
Kegiatan lain menyambut Tahun Baru Imlek di Palu hanya memberikan bingkisan sosial bagi 14 keluarga warga Tionghoa yang kurang mampu.
Upacara persembayangan di Wihara kemudian dilanjutkan dengan atraksi budaya Tionghoa yakni barongsai yang mendapat perhatian banyak masyarakat setempat.
Ikut terlibat dalam menjaga keamanan di Wihara Karuna Dipa, tempat pelaksanaan upacara Tahun Baru Imlek selain petugas dari Polres Palu, juga Forum Pemuda Kaili (FPK) Kota Palu.
Pelaksanaan Tahun Baru Imlek 2016 di Palu berjalan aman dan lancar.
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
