Sumbangsih Indonesia untuk UNESCO

id unesco

Ilustrasi-UNESCO Award of Excellence for Handicrafts 2012

London (antarasulteng.com) - Kantor Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) di Paris, Prancis, mengadakan resepsi menampilkan hasil dari sumbangan Indonesia ke UNESCO berupa delapan proyek yang dibiayai melalui Program Indonesia Funds-In-Trust (IFIT).

Duta Besar/Deputi Wakil Tetap RI untuk UNESCO Tb. A. Fauzi Soelaiman kepada ANTARA News, Minggu, mengatakan bahwa Program IFIT merupakan bagian dari kontribusi Indonesia mengatasi kesulitan finansial yang dialami UNESCO saat Amerika Serikat (AS) menghentikan pembayaran kontribusi negaranya karena Palestina diterima sebagai anggota UNESCO pada 2011. 

Ia mengatakan, total kontribusi Indonesia pada saat itu senilai 10 juta dolar AS, dengan enam juta dolar AS untuk dana darurat, dan empat juta dolar AS dialokasikan untuk Program IFIT.

Kedelapan proyek IFIT yang dilakukan antara tahun 2012 sampai dengan 2017, antara lain Forum Global Media, Visi Baru Kota Tua, Solusi Ekologi dan Ekohidrologi untuk Manajemen Berkelanjutan.

Pembangun Model Kota Mempromosikan Sekolah Adiwiyata Ramah Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Berpendapatan Rendah untuk Masa Depan Indonesia Yang Berkelanjutan.

Hasil dari proyek itu disajikan dalam bentuk poster yang dipasang dalam ruangan acara untuk dapat dibaca pengunjung. Selain itu, hasilnya diterangkan secara singkat oleh Staf senior dari Kantor UNESCO di Jakarta Ardito Kodijat.

Resepsi dihadiri Wakil Direktur Jendral UNESCO Getachew Engida dari Ethiopia; Ketua Badan Eksekutif UNESCO Michael Worbs (Jerman), dan sejumlah Duta Besar/Delegasi Tetap UNESCO dari berbagai negara beserta staf di Paris.

Fauzi Soelaiman menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program UNESCO, dan terus membina kerja sama dengan UNESCO.

Kontribusi Indonesia dalam Program IFIT merupakan bagian dari komitmen Indonesia terhadap program UNESCO, ujarnya.

Keputusan Indonesia mencalonkan diri sebagai anggota Badan Eksekutif UNESCO Periode 2017--2021, menurut dia, merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk berkontribusi secara nyata bagi UNESCO, khususnya melalui partisipasi aktif sebagai anggota salah satu badan pemerintahan di UNESCO.

Deputi Dirjen UNESCO menyampaikan apresiasinya atas kontribusi Indonesia yang dipandang sangat membantu UNESCO dalam menjalankan program kerjanya pada saat mengalami kesulitan finansial, khususnya program kerja di Indonesia.

Hasil Program IFIT itu ditampilkan dalam bentuk Workshop di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Maret 2017.

Kali ini hasilnya ditampilkan di depan Sekretariat UNESCO beserta Dubes/Wakil Tetap negara- sahabat. Setelah sambutannya, banyak pengunjung yang mendekati Ardito Kodijat untuk belajar mengelola maupun mencari kesempatan untuk mendapatkan program sejenis.

Pada acara resepsi juga dipromosikan budaya Indonesia dengan menampilkan tarian tradisional Bali oleh kelompok tari Joged Nusantara asuhan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris dan promosi kuliner makanan khas Indonesia, seperti sate ayam, nasi goreng, rempeyek dan berbagai masakan.

Brosur dan informasi Indonesia yang mencalonkan diri sebagai angora Badan Eksekutif UNESCO disertakan dalam kantong cinderamata yang dibagikan kepada undangan. Pemilihan anggota Badan Eksekutif ini akan berlangsung tanggal 8 November 2017 saat Sidang Umum UNESCO.(skd)
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar