
IBL All Indonesian 2025 dan kebangkitan basket lokal

Jakarta (ANTARA) - Ada yang berbeda dengan mini turnamen bola basket khusus pemain lokal IBL All Indonesian Cup 2025, jika dibandingkan dengan kompetisi serupa tahun lalu ataupun liga musim reguler tahun ini.
Pada edisi tahun lalu, IBL All Indonesian tampak sebatas kompetisi jeda musim yang ditujukan untuk memberikan menit bermain kepada para pemain lokal yang memiliki waktu sempit untuk merasakan kompetisi IBL musim reguler. Namun, dalam IBL All Indonesian 2025, banyak agenda dan dinamika yang ada di balik kompetisi jeda musim ini.
Pertama, dari sisi PP Perbasi yang memiliki agenda tersendiri dalam kompetisi IBL All Indonesian 2025, yaitu seleksi sekaligus pemanasan bagi para pemain lokal yang dirancang untuk menyongsong SEA Games Thailand Desember mendatang.
Menurut Sekjen Perbasi Nirmala Dewi kejuaraan ini menjadi ajang pemanasan untuk pemain lokal, sekaligus pemantauan talenta berbakat dari para pebasket muda Indonesia untuk meningkatkan prestasi Timnas Basket.
Mini turnamen yang mengkhususkan hanya pemain lokal yang bertanding di IBL All Indonesian 2025, sejalan dengan regulasi terbaru dari SEA Games 2025 yang melarang tiap negara menggunakan pemain naturalisasi ataupun keturunan. Tanpa keberadaan pemain naturalisasi, kompetisi ini menjadi kunci bagi federasi untuk merumuskan skuat Timnas yang sepenuhnya lokal.
Dari 13 tim peserta pada babak penyisihan Grup A dan Grup B, tersisa empat tim yaitu Satria Muda Pertamina Bandung, Hangtuah Jakarta, Pelita Jaya Jakarta, dan Dewa United Banten. Jika dibandingkan dengan IBL All Indonesian 2024, komposisi ini hampir sama. Yang berbeda hanya minus Prawira Bandung yang memang tidak berpartisipasi dalam kompetisi, digantikan oleh Hangtuah Jakarta.
Jika dibandingkan dengan musim reguler IBL 2025, komposisi tim empat besar juga hampir serupa. Hanya RANS Simba Bogor yang digantikan oleh Hangtuah Jakarta di semifinal mini turnamen ini.
Satria Muda muncul sebagai kekuatan tradisional yang kembali tampil menonjol. Tak hanya karena nama besar, tetapi juga karena penguatan signifikan dari akuisisi PT Persib Bandung Bermartabat terhadap Satria Muda yang turut membawa tiga pemain eksPrawira, termasuk Yudha Saputera dan Pandu Wiguna. Keberadaan mereka memberikan kedalaman teknis dan mental yang memberi keuntungan kompetitif di atas lapangan.
Pelita Jaya, skuad yang selalu konsisten di empat besar, menunjukkan stabilitas tinggi dalam performa dan strategi. Dengan atau tanpa pemain asing, mereka membuktikan kualitas klub dan tradisi sebagai tim papan atas.
Sementara itu, Hangtuah Jakarta adalah nama yang mulai melesat musim ini. Pada IBL musim reguler, Hangtuah memang mengalami kebangkitan di bawah asuhan pelatih Widayat Wahyu Jati. Pelatih yang punya panggilan akrab Coach Cacing itu berhasil membawa Hangtuah menembus babak playoff di tahun pertama kepelatihan satu musim penuh.
Bersama dengan RANS Simba Bogor dan Kesatria Bengawan Solo, Hangtuah menjadi tim semenjana yang mulai diperhitungkan kekuatannya untuk meramaikan persaingan gelar juara. Kebangkitan ini menunjukkan regenerasi yang menjanjikan, memberikan sinyal kuat bahwa kekuatan basket nasional kini lebih merata dan berenergi baru.
Yang tak kalah berbeda adalah Dewa United Banten. Juara IBL 2025 memilih mengambil pendekatan berani, yaitu menurunkan mayoritas pemain muda dengan hanya menyisakan Dio Tirta Saputra sebagai pemain inti dari Dewa United di musim reguler. Manajemen sengaja mengistirahatkan nama besar seperti Arki Dikania Wisnu, Hardianus, dan Kaleb Ramot Gemilang, dan Rio Disi.
Manajer Dewa United Banten Zaki Iskandar menegaskan bahwa keputusan ini adalah strategi jangka panjang untuk regenerasi pemain Dewa United. Dan strategi manajemen klub juara IBL 2025 sepertinya mulai terlihat hasilnya, dengan Dewa United berhasil melaju ke babak final untuk menantang lawan berat, Satria Muda.
Pemain-pemain muda Dewa United Banten ini menunjukkan kualitas mereka ketika mengalahkan tim sekelas Pelita Jaya dengan pemain-pemain langganan Timnas Basket Indonesia dengan skor akhir 71-63. Tertinggal hampir sepanjang laga dan defisit mencapai 12 angka, Dewa United berhasil membalikkan keadaan di kuarter keempat dan keluar sebagai pemenang.
Kini, pemain muda Dewa United harus menghadapi tantangan berat lainnya untuk melawan para pemain senior yang sudah terbiasa dan bermental juara dalam skuad Satria Muda.
Performa yang meledak
Tidak berhenti sampai pada kualitas tim. Turnamen IBL All Indonesian 2025 menunjukkan bahwa para pebasket lokal bisa memiliki performa yang bisa menyaingi para pemain naturalisasi, atau pemain asing sekalipun.
Di mini turnamen ini, pemain lokal bisa mencetak sampai 29 poin. Menyentuh angka 17 sampai 20 poin juga jadi hal yang banyak ditemui dalam setiap pertandingan IBL All Indonesian 2025. Para pebasket lokal bermain lebih agresif, tajam, dan sangat menarik menjadi tontonan.
Kualitas ini sungguh jauh berbeda dengan yang terlihat di IBL musim reguler, di mana setiap tim memberikan panggung paling luas kepada pemain asing untuk menentukan arah permainan. Sementara para pemain lokal sebagian besar hanya diplot sebagai pelengkap, pemain cadangan, atau pemain pengganti di sisa menit-menit akhir pertandingan. Sehingga, para pebasket asli Indonesia ini tampak kesulitan untuk mengembangkan kemampuannya di IBL musim reguler.
Ya, betul memang atmosfer dan industri bola basket Indonesia mulai meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lebih banyak basis penggemar, fanatisme baru di setiap laga kandang, namun perlu juga menyeimbangkan pengembangan kualitas pebasket lokal guna menunjang prestasi Tim Nasional Basket Indonesia di level internasional.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Perbasi yang baru memantau para pebasket lokal untuk keperluan kompetisi level Asia Tenggara di ajang IBL All Indonesian 2025, bukan di IBL musim reguler. Lantaran terbatasnya pilihan pemain lokal yang bisa dilihat, IBL musim reguler menjadi panggung slam dunk para mantan pemain NBA.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
