Program inovasi Untad dorong kemandirian ekonomi petani kakao

id Universitas Tadulako,UNTAD Palu,Faperta Untad,ProgramTransformasi Teknologi dan Inovasi ,Pengabdian Masyarakat,Petani Kakao

Program inovasi Untad dorong kemandirian ekonomi petani kakao

Ketua Tim Pelaksana Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) Universitas Tadulako Flora Pasaru (tengah) bersama petani kakao di Desa Desa Bahagia, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

Palu (ANTARA) -

Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) Universitas Tadulako Palu mendorong kemandirian ekonomi, untuk petani kakao di Desa Bahagia, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Ketua tim pelaksana PTTI Flora Pasaru menjelaskan program itu melatih petani mengembangkan pupuk organik dari limbah kulit kakao, fermentasi biji kakao sesuai standar, hingga pembuatan produk minuman cokelat dan olahan turunan lainnya.

“Kegiatan difokuskan pada pemberdayaan petani dan peternak melalui penerapan teknologi tepat guna, untuk meningkatkan produktivitas, mutu, dan nilai tambah kakao di wilayah tersebut,” katanya di Palu, Selasa.

Program PTTI Untad itu merupakan bagian dari dukungan DPPM Diktisaintek RI tahun 2025 yang mendanai pelaksanaan program berbasis riset terapan di berbagai daerah. Program itu diketuai Flora Pasaru dengan anggota Burhanuddin Haji Nasir dan Dance Tangkesalu.

Flora yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Untad itu menjelaskan Desa Bahagia dikenal sebagai salah satu sentra pertanian dan peternakan di Kecamatan Palolo dengan komoditas utama kakao. Namun, kondisi lapangan menunjukkan berbagai kendala yang menghambat produktivitas. Sebagian besar tanaman kakao berumur tua, tidak terawat, serta rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Pemupukan tidak berimbang dan pemangkasan yang tidak rutin turut menurunkan hasil panen.

Selain itu, penanganan pascapanen kakao masih dilakukan secara tradisional. Fermentasi kerap diabaikan atau tidak memenuhi standar, pengeringan hanya mengandalkan terpal, serta kegiatan sortasi dan grading jarang dilakukan.

Akibatnya, mutu biji kakao rendah dan tidak memenuhi standar ekspor. Harga jual pun rendah karena petani lebih memilih menjual hasil panen kepada tengkulak demi kebutuhan harian.

Dia mengungkapkan beberapa warga sebenarnya telah mencoba mengolah kakao menjadi bubuk cokelat atau minuman sederhana, tetapi jumlahnya masih terbatas. Minimnya keterampilan, fasilitas, dan akses pasar membuat inisiatif tersebut belum berkelanjutan.

Selain bertani, sebagian masyarakat juga memelihara sapi, kambing, dan unggas sebagai usaha tambahan. Namun, sistem pemeliharaan masih bersifat tradisional dengan ketergantungan tinggi pada pakan hijauan alami musiman. Limbah ternak belum dimanfaatkan optimal, padahal berpotensi menjadi pupuk organik maupun biogas yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa limbah kakao bisa diolah menjadi pakan ternak, sementara kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kebun kakao. Dengan begitu, sistem pertanian mereka menjadi lebih berkelanjutan,” ungkapnya.

Kegiatan PTTI Untad dilakukan bersama dua kelompok masyarakat, yaitu Kelompok Tani “Bunga Kakao 2” yang dipimpin oleh Jumri dan Kelompok Ternak “Karya Mandiri” di bawah pimpinan Amrin. Dalam pelatihan, tim memperagakan cara membuat pupuk organik dari kulit kakao melalui proses fermentasi, serta memperkenalkan teknologi fermentasi biji kakao sesuai standar mutu nasional agar hasil panen memiliki kualitas ekspor.

Pewarta :
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.