Rendahnya pengetahuan hingga stigma menjadi hambatan pengobatan TBC

id TBC,cegah tbc,pengobatan tbc

Rendahnya pengetahuan hingga stigma menjadi hambatan pengobatan TBC

Arsip foto - Dokter menunjukkan hasil rontgen thorax warga saat pelaksanaan skrining Tuberculosis (TBC) gratis di RPTRA Gondangdia, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Nastiti Kaswandani menyampaikan faktor yang membuat pasien tuberkulosis (TBC) memulai pengobatan, salah satunya rendahnya literasi pengetahuan tentang penyakit tersebut.

Menurut dia, rendahnya pengetahuan tentang pentingnya pengobatan TBC membuat pasien atau orang tua belum sepenuhnya waspada atau menyadari bahaya penyakit tersebut.

"TBC itu bisa menyebabkan kematian, kecacatan, kalau pada anak bisa menyebabkan potensi gangguan tumbuh kembang yang terganggu. Itu mereka biasanya belum paham sehingga seperti seolah-olah meremehkan penyakit TBC ini,” kata Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp., kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Dokter yang praktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu mengatakan stigma juga masih menjadi faktor meski sudah menyadari pentingnya pengobatan TBC.

"Karena stigma dia malu kalau terdeteksi TBC sehingga kadang dokter itu mengambil istilah yang sebetulnya kurang tepat, dianggap ini flek. Padahal itu sebenarnya tidak ada istilah flek kalau dalam kamus medis, adanya TBC,” kata dia menambahkan.

Faktor lain yang membuat biasanya menunda pengobatan adalah kekhawatiran yang berlebihan terhadap efek samping obat, seperti takut obat TBC dapat berdampak pada liver.

"Itu sering kali menjadi penghambat, padahal hanya sedikit saja yang mengalami permasalahan dan permasalahan itu sifatnya sementara,” ujar dokter yang tergabung dengan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.

Gangguan liver saat pengobatan TBC menurut Nastiti bersifat sementara dan organ tersebut bisa kembali normal dengan penyesuaian atau jika obat dihentikan sementara.

"Jadi, harusnya tidak usah khawatir dengan hal itu (gangguan liver)," kata Nastiti.

Pengobatan TBC memakan waktu yang cukup panjang, minimal selama enam bulan.

Kementerian Kesehatan menambah anggaran khusus guna mendukung percepatan deteksi tuberkulosis (TBC) pada 2026, yang difokuskan untuk perluasan akses layanan skrining dan diagnosis TB, terutama di daerah yang kasusnya tinggi.


Pewarta :
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.