
Ekspor perkebunan tancap gas di awal 2026
Kamis, 12 Februari 2026 10:30 WIB

Jakarta (ANTARA) - Ekspor sektor perkebunan diproyeksikan tumbuh kuat pada awal 2026, seiring menguatnya kinerja sepanjang 2025.
Optimisme ini tercermin dari performa sejumlah komoditas unggulan, seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, teh, dan karet yang mencatat tren peningkatan signifikan. Ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya pada Januari–Desember 2025 mencapai US$24,42 miliar, meningkat 21,83 persen dibandingkan 2024.Lonjakan ini tidak hanya dipicu kenaikan volume ekspor sekitar 9 persen secara tahunan, tetapi juga didukung harga sawit global yang relatif tinggi. Permintaan yang tetap solid dari pasar utama, seperti Tiongkok, India, dan negara-negara Asia lainnya, membuat sawit kembali menegaskan posisinya sebagai penyumbang devisa terbesar sektor perkebunan.
Bahkan, di akhir 2025, ekspor CPO melonjak signifikan, seiring menguatnya harga minyak nabati dunia yang berlanjut hingga awal 2026.
Kopi menjadi kisah sukses berikutnya. Setelah sempat melemah pada 2023, kinerja ekspor kopi Indonesia bangkit tajam pada 2024 dan berlanjut hingga 2025. Volume ekspor pada 2024 mencapai 316,7 ribu ton dengan nilai US$1,64 miliar, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan Amerika Serikat dan Eropa sebagai pasar utama. Tren ini makin menguat pada 2025, ditopang panen yang membaik dan harga kopi global yang tinggi, bahkan sempat mencatat lonjakan nilai ekspor bulanan yang sangat signifikan.
Menariknya, pertumbuhan ekspor kopi tidak hanya didorong volume, tetapi juga peningkatan nilai tambah melalui kopi specialty. Produk arabika premium dari Gayo, Toraja, dan Kintamani semakin diminati pasar global, memberikan premium price dan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia dengan prospek cerah memasuki 2026.
Kakao muncul sebagai “bintang baru” yang paling mencolok pada 2025, terutama berkat dorongan hilirisasi. Pergeseran dari ekspor biji mentah ke produk olahan, seperti cocoa butter dan cocoa powder langsung tercermin pada lonjakan nilai ekspor. Dalam periode Januari–September 2025 saja, ekspor kakao dan olahannya mencapai US$2,8 miliar, melonjak hampir 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan cokelat global yang meningkat, khususnya di Eropa, Australia, dan Asia, bertemu dengan kapasitas industri pengolahan domestik yang kian matang.
Kinerja ekspor kelapa Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan lonjakan yang sangat kuat, dengan nilai ekspor kelapa dan produk olahannya mencapai sekitar US$2,48 miliar pada periode Januari–Oktober 2025, melonjak 58 persen dibanding periode sebelumnya. Peningkatan ini, terutama didorong melonjaknya permintaan dari pasar Asia, khususnya Tiongkok, yang menjadi pembeli terbesar dan menyerap lebih dari 17 persen total nilai ekspor kelapa Indonesia. Ekspor kelapa utuh, bahkan tumbuh hingga 122 persen secara tahunan, seiring meningkatnya pengapalan untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut, sementara negara tujuan lain, seperti Malaysia, Singapura, Belanda, dan Thailand, juga mencatat permintaan yang solid.
Memasuki awal 2026, prospek ekspor kelapa makin optimistis dengan peluang perluasan pasar ke kawasan nontradisional, seperti Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika, seiring upaya pemerintah dan pelaku usaha mendorong hilirisasi.
Sementara itu, kinerja karet dan teh menunjukkan dinamika yang lebih menantang. Ekspor karet relatif stabil sepanjang 2025, meski tertekan penurunan harga global dan tantangan pasokan akibat faktor iklim. Permintaan industri otomotif dunia masih menopang ekspor, namun lemahnya hilirisasi menjadi pekerjaan rumah utama. Di sisi lain, teh justru menghadapi tren penurunan struktural akibat menyusutnya produksi dan luas kebun, ironis di tengah pasar teh global yang terus tumbuh.
Modal kinerja ini memberi titik tolak yang cukup kuat memasuki 2026, sekaligus menegaskan pentingnya kebijakan produktivitas, hilirisasi, dan keberlanjutan agar momentum ekspor dapat terus terjaga.
Pendorong utama
Kinerja ekspor pertanian Indonesia menjelang 2026 ditopang kuat oleh permintaan global yang tetap solid di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Kebutuhan akan pangan, minuman, dan bahan baku agroindustri terbukti relatif tahan guncangan, dengan pasar tradisional, seperti Tiongkok, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, tetap menjadi penyerap utama.
Pada saat yang sama, pasar nontradisional mulai menunjukkan peran strategis, tercermin dari lonjakan ekspor ke Afrika dan Asia Tengah sepanjang 2025. Tren pemulihan pascapandemi, pertumbuhan populasi, serta perubahan gaya hidup global memberi dorongan tambahan bagi komoditas unggulan yang didukung pula oleh harga internasional yang relatif stabil di level tinggi.
Penguatan ekspor tersebut semakin dipercepat oleh kebijakan pemerintah yang proaktif. Perluasan akses pasar melalui berbagai perjanjian dagang, seperti RCEP dan Indonesia–Australia CEPA, serta penjajakan kesepakatan baru dengan mitra nontradisional, membuka peluang besar bagi produk perkebunan bernilai tambah.
Di dalam negeri, deregulasi ekspor, digitalisasi layanan perdagangan, promosi aktif melalui pameran dan misi dagang, serta dorongan hilirisasi mulai membuahkan hasil nyata. Lonjakan ekspor produk olahan kakao dan turunan sawit menandai pergeseran struktur ekspor dari bahan mentah ke produk bernilai lebih tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di segmen pasar premium.
Dari sisi domestik, stabilitas produksi dan dukungan sektor hulu melengkapi fondasi pertumbuhan ekspor. Produksi komoditas utama relatif terjaga, pasokan dalam negeri aman, dan nilai tukar rupiah yang kompetitif mendukung daya saing harga di pasar global.
Kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi industri, membuat rantai pasok ekspor semakin efisien dan responsif. Dikombinasikan dengan manfaat perjanjian dagang, kebijakan fiskal yang adaptif, serta karakter sektor pangan yang relatif resilien, faktor-faktor ini menjadi mesin utama yang menopang proyeksi pertumbuhan ekspor pertanian Indonesia pada awal 2026.
Meski prospeknya cerah, ekspor komoditas pertanian Indonesia menghadapi tantangan strategis yang semakin kompleks di pasar global. Hambatan tidak lagi semata soal tarif dan kuota, tetapi bergeser ke regulasi non-tarif yang kian ketat, mulai dari standar teknis, hingga isu keberlanjutan. Penerapan European Union Deforestation-free Regulation (EUDR), misalnya, menuntut kepastian bahwa produk, seperti sawit, kakao, kopi, dan karet, bebas deforestasi dan dapat ditelusuri dari kebun, hingga pelabuhan. Di luar itu, persyaratan sanitasi-fitosanitasi, residu pestisida, dan sertifikasi keberlanjutan menjadi “pintu seleksi” utama di pasar tujuan.
Tantangan berikutnya datang dari faktor alam dan logistik yang memengaruhi keandalan pasokan. Perubahan iklim membuat pola cuaca kian sulit diprediksi, meningkatkan risiko kekeringan, curah hujan ekstrem, serta serangan hama dan penyakit yang menekan produktivitas kopi, kakao, karet, dan sawit. Dampaknya bukan hanya pada volume, tetapi juga konsistensi pasokan untuk memenuhi kontrak ekspor.
Di saat yang sama, tingginya biaya logistik dan keterbatasan infrastruktur masih menggerus daya saing harga. Jarak sentra produksi ke pelabuhan, keterbatasan fasilitas pascapanen, antrean muat, hingga ketersediaan kontainer kerap menambah biaya dan risiko penurunan mutu. Tantangan-tantangan ini harus dituntaskan agar momentum ekspor 2026 benar-benar berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kesejahteraan petani dan ekonomi nasional.
*) Kuntoro Boga Andri adalah Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian
Pewarta : Kuntoro Boga Andri *)
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
