Logo Header Antaranews Sulteng

Mendes: Desa BRILiaN perkuat daya saing dan ekonomi desa

Kamis, 7 Mei 2026 14:00 WIB
Image Print
Tangkapan layar Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto memberi sambutan secara daring dalam Kick Off Desa BRILiaN 2026 yang digelar secara hibrida di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto (ANTARA) - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengatakan program Desa BRILiaN 2026 dapat memperkuat daya saing dan ekonomi desa melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor.

“Kami mengapresiasi BRI yang hingga saat ini masih menjadi juara umum dalam pembinaan desa-desa di Indonesia dengan jumlah lebih dari 5.200 desa,” katanya dalam Kick Off Desa BRILiaN 2026 yang digelar secara hibrida di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.
Menurut dia, program Desa BRILiaN sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pengentasan kemiskinan.
“Kita ini superteam, bukan superman. Karena itu, semua pihak harus terlibat membangun desa,” kata Mendes Yandri yang hadir secara daring.
Ia mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan desa ekspor, desa digitalisasi, desa bebas sampah, dan desa tematik berbasis komoditas unggulan. Ia mencontohkan Banyumas yang telah berhasil mengekspor gula kelapa ke Hongaria dan Spanyol.
Sementara itu, Group Head Social Entrepreneurship and Incubation Division PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Evy Sulistyowati mengatakan program Desa BRILiaN yang dijalankan sejak 2020 bentuk komitmen berkelanjutan BRI dalam mendukung pembangunan desa berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).
“Program Desa BRILiaN bertujuan menghasilkan role model pembangunan desa melalui praktik kepemimpinan desa yang unggul dan semangat kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi desa,” katanya.
Dia menjelaskan program tersebut dijalankan melalui empat pilar utama, yakni penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), digitalisasi desa, pembangunan berkelanjutan, serta inovasi desa.
Menurut dia, hingga saat ini program Desa BRILiaN telah diikuti 5.245 desa yang aktif mengembangkan potensi wilayahnya. Pada tahun 2026, pelaksanaan program dibagi menjadi dua batch dengan target minimal 1.000 desa peserta dari seluruh Indonesia.
Selain itu, BRI juga menjalankan program penguatan UMKM berbasis klaster melalui program Klasterkuhidupku guna memperkuat ekosistem ekonomi desa.
Ditemui usai acara, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Prof Norman Arie Prayogo mengaku bersyukur karena untuk pertama kalinya Unsoed dipercaya sebagai pendamping program Desa BRILiaN.
“Unsoed memiliki visi pengembangan perdesaan berbasis kearifan lokal, sehingga kami sangat berbahagia bisa membangun kerja sama yang baik dengan BRI dan Kementerian Desa,” katanya.
Menurut dia, keterlibatan Unsoed menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembangunan desa di Banyumas dan Jawa Tengah melalui pendekatan akademik dan pendampingan berbasis potensi lokal.
Dalam program tersebut, kata dia, Unsoed berfokus pada pengembangan digitalisasi desa, penguatan KDMP dan BUMDes, serta revitalisasi sektor pertanian, perikanan, perkebunan, hingga pariwisata desa.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed Prof Elly Tugiyanti mengatakan program Desa BRILiaN merupakan kerja sama LPPM Unsoed dengan BRI untuk mendorong desa menjadi lebih maju, mandiri, dan inovatif melalui pendekatan berbasis potensi lokal.
Dalam program Desa BRILiaN 2026, pihaknya mendampingi 545 desa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Desa-desa itu diharapkan akan lebih mampu mandiri, tidak hanya sekadar masalah ekonomi, tetapi juga kelembagaan, pengelolaan keuangan, administrasi, hingga pemanfaatan potensi yang ada,” katanya.
Dia mengatakan pengembangan desa dilakukan secara multidisiplin dengan melibatkan berbagai bidang ilmu dan didukung 24 pusat studi serta 12 fakultas di Unsoed.
Menurut dia, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor perbankan menjadi faktor penting dalam mempercepat pembangunan desa berbasis potensi lokal dan inovasi.





Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026