Logo Header Antaranews Sulteng

BPS: Penduduk Sulteng didominasi generasi Z

Sabtu, 16 Mei 2026 19:12 WIB
Image Print
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, Daryanto memberikan keterangan terkait hasil Survei Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025. (ANTARA/Moh Izfaldi)

Palu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan penduduk Sulawesi Tengah didominasi generasi Z (gen Z), atau kelompok penduduk yang lahir pada rentang akhir 1990-an hingga awal 2010-an.

"Gen Z dominan yaitu sebanyak 26,40 persen, kemudian disusul gen milenial sebanyak 24,41 persen," kata Kepala BPS Sulawesi Tengah Daryanto di Palu, Sabtu.

Angka tersebut diperoleh berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025. Pada tahun tersebut, jumlah penduduk Sulteng tercatat mencapai 3,16 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,17 persen per tahun.

Supas merupakan survei yang dilaksanakan di antara dua periode sensus penduduk, yakni setelah Sensus Penduduk 2020 dan menjelang sensus berikutnya pada 2030.

"Dominasi gen Z dalam struktur penduduk Sulteng menunjukkan, daerah itu memiliki jumlah penduduk usia muda yang cukup besar dan potensial menjadi motor penggerak pembangunan di masa depan," ujarnya.

BPS mencatat Kota Palu merupakan daerah dengan angka kelahiran total terendah di Sulteng, yakni sebesar 2,07 anak per perempuan, sementara angka tertinggi berada di Kabupaten Buol.

"Perbedaan angka kelahiran antarwilayah dipengaruhi berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, akses layanan kesehatan hingga pola kehidupan masyarakat di masing-masing daerah," ucap Daryanto.

BPS juga melaporkan angka ketergantungan penduduk atau dependency ratio di Sulteng berada pada kisaran 46 persen, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 46 penduduk usia nonproduktif.

Penduduk usia nonproduktif tersebut terdiri atas kelompok usia di bawah 15 tahun dan kelompok usia lanjut 65 tahun ke atas.

"Sulawesi Tengah berada pada fase bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif," tuturnya.

Ia mengemukakan bonus demografi dapat menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah, apabila didukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan tersedianya lapangan kerja yang memadai.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan bonus demografi sangat bergantung pada pengelolaan SDM yang baik.

"Perlu menyiapkan kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan, keterampilan tenaga kerja, pelayanan kesehatan maupun penciptaan peluang kerja bagi generasi muda," katanya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026