Logo Header Antaranews Sulteng

Cargo Space Tentukan Daya Saing Komoditas Tuna

Senin, 29 Oktober 2012 12:35 WIB
Image Print
Ilustrasi: Seorang nelayan memikul seekor ikan tuna hasil tangkapannya di sebuah tempat pendaratan ikan. (ANTARANews)
...bila mutu dan volume produksi tuna meningkat secara signifikan dan kontinyu, maka pasti akan terbuka sejumlah peluang bisnis termasuk bisnis cargo udara."

IKAN TUNA akan dihargai tinggi bila dikirim dalam keadaan segar dan secara cepat tiba di tempat tujuan. Semakin cepat tiba di tempat tujuan, maka semakin cepat pula ikan tersebut mendapat penanganan lanjutan, sehingga mutunya dapat dipertahankan.

Karena itu peran cargo udara menjadi penting dan ini sekaligus akan membuka peluang bisnis yang menarik bagi pelaku usaha di daerah ini.

Dalam perdagangan, dikenal ada empat grade atau tingkatan mutu tuna yaitu; grade A akan dihargai 7 - 10 dolar AS; grade B dihargai 4 - 7 dolar AS; Grade C dihargai 2 - 4 dolar AS dan; Grade D dihargai kurang dari 2 dolar AS per kilogramnya. Grade A peruntukannya dikonsumsi segar utamanya oleh bangsa Jepang yang disebut dengan istilah sushi atau sashimi; Grade B dan C disajikan di hotel, restoran dalam bentuk bistik (steak) atau lainnya, olahan seperti tuna kaleng, abon dan olahan lainnya serta dijajakan di pasar modern. Sedangkan Grade D biasa dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Umumnya mutu tuna daerah ini berada pada kisaran Grade B, C dan D dengan nilai antara 1 hingga 4 dolar AS per kilogramnya. Kita berharap bahwa kedepan mutu tuna di daerah ini dapat ditingkatkan mejadi Grade A dan B, sehingga harga yang akan diterima oleh nelayan dapat meningkat dari 1 - 4 dolar AS menjadi 7 - 10 dolar AS per kilogram dan sekaligus berdampak terhadap meningkatnya devisa daerah ini.

Sumberdaya Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah memiliki dua jenis tuna yang bernilai ekonomis tinggi yaitu: yellow fin tuna (tuna sirip kuning) dan big eye tuna (tuna mata besar) dengan potensi sumberdaya menjanjikan yang tersebar pada tiga cluster yaitu (1) Selat Makassar - Laut Sulawesi terutama di wilayah perairan Buol, Tolitoli dan Perbatasan Donggala-Tolitoli; (2) Teluk Tomini terutama di Banggai, Tojo Unauna dan Parigi Moutong yang berbatasan Gorontalo; serta (3) Teluk Tolo terutama Banggai Kepulauan dan Morowali yang berbatasan dengan Maluku.

Diperkirakan terdapat 30.000 ton potensi sumberdaya tuna yang dapat dieksploitasi secara lestari di tiga claster sumberdaya Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.

Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, pada 2011 potensi itu baru termanfaatkan sebesar 2.000 ton, namun ada pula yang menduga bahwa pemanfaatan sumberdaya tersebut sudah mencapai 12.000 ton.

Perbedaan ini disebabkan antara lain banyaknya produksi tuna yang tidak tercatat karena lemahnya sistem pencatatan dan tersebarnya lokasi pendaratan tuna. Selain itu sebahagian hasil produksi merupakan tangkapan nelayan luar Sulteng dan didaratkan di Gorontalo, Bitung, Kendari dan Makassar tanpa termonitor.

Revitalisasi Tuna

Berdasarkan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Industrialisasi Perikanan berbasis blue economic dan visi Pemerintah Sulawesi Tengah Sejajar dengan Provinsi Maju di kasawan Timur berbasis agribisnis dan kelautan, maka ada tiga target yang ingin dicapai terhadap visi itu melalui revitalisasi komoditas tuna.

Target tersebut yaitu (1) Perbaikan data statistik komoditas tuna; (2) Peningkatan mutu; dan (3) peningkatan produksi, yang tentunya bermuara kepada peningkatan pendapatan maupun devisa.

Produksi tuna ditargetkan akan meningkat dari 2.000 ton pada 2011 menjadi 8.000 ton tahun 2016. Demikian pula dengan mutu yang tadinya didominanasi oleh Grade B, C dan D ditargetkan bergeser ke Grade A dan B.

Nilai produksi yang akan diperoleh melalui revitalisasi ini akan meningkat dari 0,6 juta dolar AS atau Rp55,2 miliar (harga rata-rata 3 dolar AS per kg) di tahun 2011 menjadi 5,6 juta dolar AS atau Rp515,2 miliar (harga rata-rata 7 dollar US) di tahun 2016.

Strategi Revitalisasi

Transformasi Sosial atau perubahan paradigma stakeholders terhadap revitalisasi ini merupakan entry point atau pintu masuk terhadap suksesnya revitalisasi tuna. Kaitannya dengan hal itu maka tahapan implementasinya adalah melakukan studi komparasi tentang industrialisasi tuna antara lain di Bitung, Sulawesi Utara, pada akhir 2012 yang dilanjutkan dengan penyusunan Road Map industrialisasi tuna dan diakhiri dengan temu usaha tuna tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di tahun 2013.

Terjadinya transformasi sosial secara baik, akan mempermudah implementasi revitalisasi ini seperti perbaikan data statisktik komoditas tuna, pembangunan infrastruktur seperti penambahan pabrik es, pembangunan mini plant (fasilitas penanganan tuna sebelum di ekspor) maupun pembangunan cold storage di sentra-sentra pendaratan termasuk di Pangkalan Pendaratan Ikan Pantai (P3) di Kabupaten Donggala, Tolitoli dan Luwuk. Demikian halnya dengan program stimulan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berupa modal kerja, sarana-prasarana lainnya seperti rumpon, dan kapal penangkap serta kapal angkut.

Cargo Space dan Produk Lainnya

Keberhasilan melakukan perbaikan data statistik, peningkatan mutu dan peningkatan produksi harus diikuti dengan program pengembangan cargo space untuk muatan kapal udara. Diyakini bahwa bila mutu dan volume produksi tuna meningkat secara signifikan dan kontinyu, maka pasti akan terbuka sejumlah peluang bisnis termasuk bisnis cargo udara.

Oleh karena itu pengembangan bandara udara Mutiara Palu dan Bandara Udara Syukuran Amir di Luwuk yang saat ini terus berjalan, mudah-mudahan telah mempertimbangkan tersedianya akses cargo dan pergudangan untuk ekspor kan (tuna) segar.

Sejumlah produk perikanan lainnya seperti ikan karang hidup (kerapu), lobster hidup dan sidat atau masapi yang potensinya sangat menjanjikan di daerah ini akan memperbesar variasi dan volume komoditi ekspor yang menggunakan cargo udara, bahkan tidak hanya komoditas perikanan juga beberapa komoditas pertanian terutama jenis hortikultura yang dimiliki daerah ini berpeluang dikembangkan seperti anggur, mangga sampai kepada sayuran.

Peran Kadin dan Lembaga Keuangan juga akan menentukan terhadap lahirnya sejumlah investasi terkait dengan industrialisasi tuna dan komoditas lainnya. Satu contoh konkrit berkembangnya usaha angkutan udara Susi Air diawali dengan usaha cargo udara yang membawa komoditas perikanan seperti tuna, udang, kerapu hidup dan lobster dari Kabupaten Pangandararan ke Jakarta yang hanya memerlukan waktu sekitar satu jam dan selanjutnya di ekspor ke mancanegara pada penerbangan pertama.

Sebelumnya komoditas tersebut dikirim ke Jakarta melalui angkutan darat yang memerlukan waktu sampai dengan 15 jam, dan perusahaan Susi tersebut kehilangan kesempatan karena tidak mendapatkan harga terbaik di negara tujuan, karena mutunya telah menurun. Saat ini perusahaan Susi Air sudah melebar ke usaha carter pesawat dan angkutan penumpang.

Kita semua berharap bahwa pengembangan komoditas yang memiliki prospek ekspor dapat dirancang secara terintegrasi lintas sektor, pusat-daerah dan terintegrasi hulu-hilir, untuk selanjutnya menunjang perwujudan visi-misi Pemerintah Sulawesi Tengah 2011-2016 yang akan bermuara kepada kesejahteraan masyarakat sebesar-besarnya. Semoga. *) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026