
Tahun Kelabu Brimob Sulteng Oleh Riski Maruto

Palu, (antarasulteng.com) - Bendera Merah Putih masih berkibar setengah tiang di halaman Mako Brimob Polda Sulawesi Tengah Jalan Trans Sulawesi Kota Palu, Jumat.
Bendera setengah tiang juga berkibar di Mapolda Sulawesi Tengah serta seluruh Polres yang ada di provinsi ini.
Brimob Polda Sulawesi Tengah sedang berkabung. Empat prajurit terbaiknya gugur saat sedang bertugas di daerah konflik Poso.
Empat dari sembilan prajurit tewas diberondong kelompok sipil bersenjata saat berpatroli di antara Desa Tambarana dan Desa Kalora pada 20 Desember 2012.
Keempat korban tewas itu adalah Briptu Ruslan, Briptu Winarto, Briptu Eko Wijaya Sumarno serta Briptu I Wayan Putu Aryawan sudah dimakamkan dan mendapatkan kenaikan satu pangkat lebih tinggi.
Sebagian besar terkena tembakan di daerah vital, yakni kepala, dada dan perut.
Sementara itu lima dari sembilan Brimob yang selamat saat terjadi baku tembak adalah Bripka Agus Sutrasto, Briptu Ilham Agus, Briptu Yulianto Pamungkas, Briptu Lungguh Unggara, dan Briptu Siswandi.
Briptu Lungguh Unggara menderita luka tembak di kaki kiri dan saat ini masih berobat jalan di rumah sakit.
Sementara Briptu Siswandi saat ini sedang menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati Jakarta Timur karena mendapat luka tembakan di mulut hingga tembus ke rahang.
Siswandi sempat mendapat semangat dari rekan-rekan sesama Brimob agar tegar selama menjalani perawatan.
Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Dewa Parsana nyaris meneteskan air mata ketika memberikan penghormatan kepada Brigadir Anumerta Winarto saat disemayamkan di Polda Sulawesi Tengah sebelum diterbangkan ke Semarang.
Dengan mata memerah, jenderal bintang satu ini masih menyempatkan menjawab pertanyaan wartawan terkait tewasnya anggota brimob.
Kapolda mengatakan, kasus di Poso bukanlah konflik horisontal atau konflik antaragama melainkan paham ideologi yang disalahartikan oleh kelompok tertentu.
Kelompok sipil bersenjata di Poso saat ini menyatakan perang melawan terhadap kepolisian terutama Densus 88 Antiteror yang saat ini menjadi garda terdepan dalam memberantas gerakan radikal.
Bahkan kelompok tersebut menantang polisi untuk melakukan perang terbuka di hutan-hutan Poso.
"Kami tidak mau terpancing karena di hutan itu sudah disiapkan jebakan-jebakan maut. Ini memerlukan strategi khusus," kata mantan Direktur Reskrim Polda Jawa Tengah ini.
Kekerasan meningkat
Selama dua bulan terakhir, teror kepada kepolisian kian meningkat di Kabupaten Poso.
Kekerasan itu berawal dari ditemukannya jasad dua anggota Polres Poso Brigadir Sudirman dan Briptu Andi Sapa di Dusun Tamanjeka, pada 16 Oktober 2012.
Kedua polisi itu dikubur dalam satu lobang sedalam kurang dari satu meter.
Keduanya tewas mengenaskan dengan mengalami luka sayatan benda tajam di leher dan di beberapa bagian tubuhnya.
Selanjutnya insiden ledakan bom di Pos Lalu Lintas Polres Poso pada 22 Oktober 2012 yang melukai seorang polisi dan seorang Satpam BRI.
Sementara, pada 15 November 2012, rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara juga diberondong tembakan oleh kelompok tak dikenal.
Meski selamat dari maut, terjangan peluru sempat melewati di antara kedua kaki Kapolsek IPTU Bastian Faruklabi.
Insiden paling tragis terjadi pada 20 Desember 2012, empat anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah tewas diberondong tembakan oleh kelompok sipil bersenjata di Poso.
Berapa lagi korban kekerasan terhadap polisi Poso itu akan terus berjatuhan?
Gubernur Sulawesi Tengah, Komnas HAM RI dan sejumlah LSM mendesak Kapolri untuk mengevaluasi kinerja Polda Sulawesi Tengah terkait adanya sejumlah korban jiwa dari kepolisian.
"Mau berapa lagi polisi yang menjadi korban di Poso?" kata Gubernur Longki Djanggola.
Dia juga meminta Kepala Polri menevaluasi kinerja Polda Sulawesi Tengah agar tidak timbul korban lagi saat melakukan operasi penegakan hukum di Poso.
Komisioner Komnas HAM RI Siane Indriane juga mengecam ketidakprofesionalan dan kelalaian aparat kepolisian.
Dia mendesak agar dilakukan pengusutan tuntas tentang penyebab terbunuhnya empat anggota Brimob karena dinilai ada kejanggalan.
"Jika tidak mampu, sebaiknya Kapolri segera memecat Kapolda Sulteng," kata Siane.
Dia mencatat ada ketidakberesan prosedur hingga menyebabkan jatuhnya korban berusia muda yang hanya menjalankan perintah atasan.
"Stop. Jangan lagi ada korban," katanya yang juga mengindikasikan ketidakkompakan di internal aparat.
Menanggapi itu, Dewa Parsana mengaku sangat berterimakasih atas kritikan tersebut, dan itu membuktikan kepedulian masyarakat terhadap Polda Sulawesi Tengah.
"Yang jelas kita menerima semua kritikan demi kemajuan bersama," katanya.
Wakil Komandan Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah AKBP Hudaya mengatakan patroli yang dilakukan sembilan anggota Brimob yang mengendarai lima sepeda motor pada 20 Desember 2012 itu sudah sesuai prosedur tetap dan telah mendapat arahan dari pimpinan pasukan.
Dia memperkirakan regu patroli itu diserang kawanan bersenjata dengan memanfaatkan kelengahan petugas ketika sedang melintas di tikungan yang menanjak.
"Jadi saat melaju pelan, anggota kita diserbu meski sempat melakukan perlawanan," katanya.
Hudaya mengatakan pasukan yang sedang berpatroli itu dilengkapi rompi antipeluru dan helm pelindung namun masih terdapat korban jiwa.
Polda Sulawesi Tengah mengaku sedang mengevaluasi diri agar lebih baik dalam melakukan operasi penegakkan hukum di Kabupaten Poso.
Dewa Parsana mengatakan evaluasi yang dilakukan adalah mengenai cara bertindak aparat saat melakukan tugas agar lebih sempurna.
"Jadi yang dievaluasi bukan manusianya tetapi cara bertindak di lapangan," katanya.
Bendera Merah Putih saat ini masih berkibar setengah tiang. Kita berharap bendera itu kembali berkibar ke pucuk tiang untuk mengobarkan semangat dalam menegakkan hukum dan pengamanan di Kabupaten Poso.
Duka di akhir tahun ini hendaknya tidak berkepanjangan, seiring kembali berkibarnya Merah Putih di ujung tiang. (R026/SKD)
Pewarta :
Editor:
Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
