Logo Header Antaranews Sulteng

Ketika Rasa Cokelat Tak Manis Lagi

Sabtu, 12 Mei 2012 00:22 WIB
Image Print
Lulu Setiawati saat memamerkan produknya (ANTARA Sulteng/Riski Maruto)
Ini rasa baru, meski agak aneh di lidah," kata Salahuddin, seorang penikmat cokelta pedas.

Cokelat berisi kacang mede, kacang almond, atau kacang tanah pasti banyak ditemui di pasaran. Tapi bagaimana jika cokelat itu berisi biji cabe merah atau bubuk jahe?

Rasa yang aneh dan membakar lidah pasti akan terbayang saat mencicipi cokelat batangan tersebut.

Sejumlah pengusaha skala rumah tangga di Sulawesi Tengah yang menciptakan cokelat rasa pedas itu mengaku hanya ingin menawarkan pilihan rasa kepada konsumen.

Lulu Setiawati, pembuat cokelat rasa jahe mengatakan, rasa pedas itu tercipta ketika ia mencoba membuat produk dan memberikannya kepada sejumlah tetangga di sekitarnya.

Saat itu, katanya, ada tetangga mengatakan rasanya aneh dan terlalu pedas.

Namun ada juga yang mengatakan cokelat rasa jahe itu tidak pernah dijumpai di Kota Palu sehingga bisa diproduksi secara massal dan dipasarkan di toko.

Sejak saat itu, Lulu membuat puluhan cokelat berbagai jenis, termasuk yang memiliki rasa jahe yang diperkenalkannya dengan istilah cokelat herbal.

"Alhamdulillah, produk saya bisa diterima di masyarakat dan permintaannya terus meningkat," katanya.

Lulu mengatakan, setiap hari mampu membuat 100-an batang cokelat rasa jahe, dan ratusan cokelat lainnya dengan berbagai bentuk dan rasa.

Produksi rumah tangga ibu beranak satu ini saat ini telah menyebar di 20 toko di Kota Palu.

Untuk menjaga kualitas produk, Lulu juga telah mendaftarkan cokelat buatannya di Dinas Perindagkop dan UMKM Sulawesi Tengah serta telah mendapat izin dari Dinas Kesehatan setempat.

Lulu mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp5 juta per bulan dari hasil kreasinya membuat cokelat di rumahnya yang berada di Perumahan Tinggede III, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

"Kalau lagi rame seperti saat Valentine dan Lebaran penghasilannya bisa untuk ongkos mudik dan jalan-jalan ke Surabaya," katanya.

Sementara Asghar, pencipta cokelat rasa cabe, mengatakan produk buatannya diterima masyarakat, terbukti dengan stabilnya produksi coklat batangan yang dijual Rp7.500,00 per batang itu.

Menurut dia, masyarakat mungkin telah bosan dengan rasa cokelat yang manis sehingga ia memutuskan untuk membuat cokelat rasa cabe.


Banyak Peminat


Khadijah, pengelola Galeri UMKM Sulawesi Tengah di Kota Palu mengatakan, cokelat berasa "aneh" menjadi buruan warga setempat yang ingin mencoba rasa baru.

Di Galeri UMKM yang dijaganya, terdapat berbagai variasi rasa cokelat, seperti rasa cabe, rasa jahe, rasa nangka, rasa kopi, serta cokelat rasa cokelat.

Cokelat rasa cokelat di sini adalah berupa cokelat batangan yang di dalamnya terdapat biji kakao.

"Rasanya memang agak pahit tapi sangat bagus bagi pencinta cokelat sejati karena rasa cokelatnya masih orisinil," kata Khadijah.

Di Galeri UMKM Sulawesi Tengah sendiri terdapat berbagai produk cokelat dan jajanan khas daerah ini yang dihasilkan dari industri rumah tangga.

Cokelat rasa pedas saat ini banyak diminati warga Kota Palu karena rasanya yang tidak seperti pada umumnya.

"Ini rasa baru, meski agak aneh di lidah," kata Salahuddin saat mencicipi cokelat pedas itu.

Cokelat pedas itu berasal dari cabe atau jahe yang ditumbuk halus dan dijadikan serbuk kemudian dicampur dengan cokelat.

Salahuddin mengatakan, meski rasa cokelat batangan itu pedas namun keaslian rasa cokelat tetap terjaga. "Jadi rasanya pedas, manis dan pahit yang ditemukan dalam setiap gigitan," kata Salahuddin.

Warga Palu lainnya, Sunandar, mengatakan cokelat rasa pedas jahe sangat cocok dinikmati pada cuaca hujan atau mendung karena bisa menghangatkan badan.

"Pedasnya bisa diterima di semua lidah, dari anak-anak hingga orang dewasa," katanya.

Dia menuturkan, saat mengunyah cokelat rasa cabe tidak terasa pedas di mulut, namun begitu ditelan pedasnya akan terasa di tenggorokan.

"Susah kalau diceritakan, lebih coba sendiri saja," katanya.

Menurut dia, cokelat berasa manis sudah banyak ditemui di berbagai tempat sementara cokelat yang rasanya pedas juga sudah mulai dikenal masyarakat.

"Ini bisa menjadi pilihan baru bagi masyarakat," kata Sunandar yang membeli dua batang cokelat rasa cabe dan jahe.


Lapangan Kerja


Adanya sejumlah pengusaha industri rumah tangga itu tentu saja akan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Lulu Setiawati mengaku kekrurangan tenaga kerja untuk membungkus cokelat dan mengantar ke sejumlah toko.

Saat ini Lulu hanya dibantu seorang pegawai, padahal untuk bisa memproduksi cokelat berbagai jenis dan mengantarkannya hingga ke toko membutuhkan hingga empat pegawai.

"Kita tetap membuat cokelat sambil mencari tenaga kerja baru," kata Lulu.

Mengenai bahan baku, Lulu mengaku tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkannya karena Sulawesi Tengah adalah penghasil kakao terbesar di Tanah Air.

"Banyak biji kakao atau cokelat setengah yang dijual di masyarakat," katanya.

Saat ini industri rumah tangga yang bergerak di bidang makanan terbuat dari cokelat di Kota Palu dan sekitarnya mencapai belasan unit.

Kepala Dinas Perindagkop UMKM Sulawesi Tengah Hadjir Hadde mengaku terus mendorong masyarakat untuk menciptakan produk-produk baru melalui industri rumah tangga.

"Kita memiliki berbagai produk unggulan seperti cokelat dan bawang goreng, jadi industri rumah tangga dituntut untuk lebih kreatif dalam membuat produk baru agar diterima masyarakat," katanya.

Dia mengatakan, pemerintah akan membantu pelaku industri rumah tangga melalui pelaksanaan pameran dan pemasaran. Adanya sejumlah pameran tentu saja akan lebih memperkenalkan produk rumah tangga kepada masyarakat.

Namun demikian, dia juga mengimbau kepada pelaku industri rumah tangga untuk meningkatkan kualitas produk, yakni dengan cara memperbaiki kemasan, meningkatkan rasa, serta melengkapi ijin dari instansi terkait.

Cokelat pedas saat ini menjadi fenomena baru di masyarakat Kota Palu dan sekitarnya karena rasanya yang tidak biasa.

Untuk menciptakan peluang, pebisnis terkadang harus melawan arus dengan menciptakan sesuatu yang tidak lazim namun bisa berterima di masyarakat, seperti cokelat pedas. Bisa saja suatu saat akan tercipta cokelat rasa pete atau cokelat rasa jengkol. (R026)



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026