Logo Header Antaranews Sulteng

KLB PSSI Dan Sejuta Harapan

Minggu, 17 Maret 2013 12:09 WIB
Image Print
Ilustrasi (ANTARANews)

Warung kopi yang terletak di Jln Balai Kota Palu, Sulawesi Tengah sejak pukul 08.00WITA terlihat cukup ramai.

Kebanyakan pengunjungnya adalah kaum adam berusia diatas 30 tahun dan ada pula beberapa ibu yang menggunakan kostum olahraga.

Mereka datang tidak sendirian, tetapi bersama suami usai berolahraga jalan pagi dan sebelum pulang ke rumah singgah dulu di warung kopi sekadar menghangatkan dan menyegarkan tubuh.

Yafet M (52), salah satu diantara pengunjung warung kopi terlihat sedang asyik berbincang-bincang dengan beberapa pria lainnya.

Mereka ternyata sedang membicarakan seputar masalah persepakbolaan di tanah air yang dalam beberapa tahun terakhir terus terpuruk.

"Kapan ya Timnas kita bisa kembali bersinar di kanca persepakbolaan Asia dan dunia," kata pria kelahiran Kabupaten Poso, daerah yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Palu.

Menurut dia, salah satu faktor yang ikut mempengaruhi kemerosotan prestasi persepakbolaan nasional (Timnas) karena konflik di tubuh PSSI yang hingga kini belum juga berakhir.

Mereka bukan sibuk untuk memajukan dan mengangkat kembali prestasi Timnas, tetapi lebih pada kepentingan kelompok, golongan dan pribadi.

Sementara di satu sisi, prestasi Timnas semakin terpuruk jauh dibawa negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura , Thailand dan Vietnam.

Bahkan berdasarkan peringkat FIFA, Indonesia hanya berada di posisi ke-166 jauh dibawa Vietnam. "Siapa yang bertanggungjawab atas kemerosotan prestasi kalau bukan PSSI dan KPSI," katanya.

Hal senada juga disampaikan Fredico, mantan pemain salah satu klub sepakbola di Palu. Ia mengatakan pada 17 Maret 2013 akan dilaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Jakarta.

Tentu setiap daerah dipastikan mengirimkan peserta untuk menyalurkan aspirasi guna menyelematkan persepakbolaan nasional.

Tidak terkecuali, Sulawesi Tengah juga tidak ketinggalan karena ada dua orang pengurus sepakbola di provinsi yang terletak di pulau Sulawesi itu punya hak suara dalam kongres itu.

Sebagai seorang mantan pemain sepakbola dan juga anak bangsa, tentu sangat berharap KLB yang dilaksanakan di Ibu Kota Negara Indonesia tersebut dapat membuahkan hasil yang pengembirakan.

KLB di Jakarta bisa menjadi titik awal untuk mengakhiri kegelapan sepak bola nasional. Jutaan rakyat Indonesia selama ini muak dengan konflik melanda PSSI yang telah menyebabkan prestasi sepakbola nasional bukan meningkat, tetapi terus terpuruk.

Para petinggi sepak bola Indonesia, Fredico terlalu disibukkan dengan perselisihan sehingga tak ada prestasi membanggakan yang diraih.

Ini bukanlah kali pertama kongres digelar ditengah ancaman sanksi FIFA, karena sebelumnya 10 Desember 2012, kongres pun dilaksanakan.

Hanya saja, kala itu kongres terbelah dua. PSSI menggelar kongres di Palangkaraya, sedangkan KPSI di Jakarta.

Beruntung, FIFA masih memberikan dispensasi kepada Indonesia. Otoritas sepak bola tertinggi dunia tersebut memperpanjang tenggat waktu kepada Indonesia untuk menemukan solusi permasalahan hingga 20 Maret 2013, atau ketika Komite Eksekutif FIFA menggelar rapat di Zurich, Swiss. Pada rapat itu, FIFA akan menentukan nasib sepak bola Indonesia.

Selamatkan Indonesia

Kongres Luar Biasa (KLB) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 17 Maret 2013 bertujuan untuk menyelematkan Indonesia agar tidak menerima hukuman dari FIFA.

"Itu sebenarnya tujuan utama yang sangat diharapkan dari hasil KLB nanti," kata Kasmuddin, salah seorang dari dua wakil Sulteng yang akan mengikuti KLB PSSI di Jakarta.

Ia mengatakan ada empat agenda penting yang nantinya akan dibicarakan pada KLB tersebut yakni penyatuan liga, revisi statuta, pembubaran KPSI dan pengembalian empat komite eksekutif.

Sulteng sendiri, kata Kasmuddin, mendukung KLB dan sangat berharap semua permasalahan dan konflik yang terjadi selama ini terselesaikan dengan baik di forum KLB.

"Kami mau agar persepakbolaan di tanah air bisa berkembang," katanya.

Menurut dia, bagaimana mungkin persepakbolaan di tanah air akan berjalan dengan bagus kalau selama ini hanya dipusingkan dengan konflik yang tak kunjung berakhir.

Hal senada disampaikan Ketua Persbul Abdullah Batalipu yang juga memiliki hak suara di KLB.

Ia berharap dualisme organisasi sepakbola nasional yakni PSSI dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) bisa terselesaikan sehingga persepakbolaan di tanah air berjalan lancar dan Timnas bisa kembali bersinar di berbagai kejuaraan.

Dualisme organisasi di tubuh PSSI dan juga dualismen liga yang selama ini terjadi harus segera disatukan kembali.

Jangan mementingkan keegoisan masing-masing, tetapi sudah waktunya sekarang ini berpikir bagaimana agar persepakbolaan di tanah air tercinta ini semakin berkembang.

Sekali lagi, mari kita bersama-sama menyatukan pikiran dan kekuatan demi kemajuan persepakbolaan di Indonesia. Jangan lagi ada yang mementingkan diri sendiri, tetapi fokus pada kepentingan kelangsungan dan kejayaan sepakbola nasional.

Selamat melaksanakan KLB PSSI semoga semua konflik yang terjadi dapat diselaikan secara damai dan mufakat demi menyelamatkan Indonesia dari sanksi FIFA dan juga mengangkat serta mengharumkan Timnas di kanca sepakbola Asia, bahkan dunia.(BK03/SKD)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026