Logo Header Antaranews Sulteng

Habib: Islam Masih Terpecah Belah

Selasa, 22 Mei 2012 14:21 WIB
Image Print
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah Habib Saggaf Aljufri saat berbicara di acara workshop radikalisasi agama di Palu, Selasa (22/5). ((foto : adha nadjemuddin))
"Kita harus bekerja keras dulu untuk bersatu. Jangan kita bicara menegakkan syariat Islam jika kita tidak bersatu," kata Habib Saggaf pada workshop membangun kesadaran dan strategi dalam menghadapi gerakan radikalisasi agama di Palu, Selasa.

Palu - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah Habib Saggaf Aljufri mengatakan, kelemahan umat Islam di Indonesia saat ini sehingga sulit menegakkan syariat Islam salah satunya karena Islam belum bersatu dan masih memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip.

"Kita harus bekerja keras dulu untuk bersatu. Jangan kita bicara menegakkan syariat Islam jika kita tidak bersatu," kata Habib Saggaf pada workshop membangun kesadaran dan strategi dalam menghadapi gerakan radikalisasi agama di Palu, Selasa.

Workshop yang dihadiri dari berbagai kelompok agama tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Agama Pusat, cendekiawan dan tokoh agama di daerah.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi perwakilan agama-agama di Sulawesi Tengah.

Pada kesempatan itu Habib Saggaf mengatakan, di dalam agama Islam sendiri masih terdapat berbagai macam aliran atau kelompok seperti wahabi, sunni dan syiah. Masalahnya kata Ketua Utama Alkhairaat itu, masing-masing kelompok kerap masih menyalahkan kelompok yang lainnya.

Masalah yang dipersoalkan pun kadang-kadang tidak substantif, sehingga kelihatannya masalah tersebut menjadi masalah prinsip. Padahal sesungguhnya masalah itu hanya masalah sepel.

"Masalahnya hanya masalah qunut atau tidak qunut, berjenggot dan tidak berjenggot, barzanji dan tidak barzanji," kata Saggaf.

Padahal kata ulama itu, jika masing-masing kelompok memahami dengan benar tentang agama maka tidak ada masalah yang perlu diperdebatkan.

"Yang barzanji silahkan. Yang tidak barzanji juga silahkan. Alkhairaat misalnya, kebetulan mengajarkan barzanji. Jangan kita fanatik," katanya.

Saggaf menegaskan Islam adalah agama toleransi yang menghormati dan menjunjung tinggi perbedaan. Dulu kata dia, ketika pendiri Alkhairaat Said Idrus bin Salim Aljufri masih hidup, pernah mengajak seorang guru di luar agama Islam untuk mengajar di Alkhairaat.

Dia mengatakan toleransi yang diterapkan dalam Islam bukan toleransi "ngawur", tetapi harus dilandasi dengan kualitas iman.

Saat ini kata Saggaf, meskipun Islam mayoritas di Indonesia tetapi masih minoritas dalam kualitas iman.

"Tugas kita sekarang meng-Islamkan orang Islam karena kita baru Islam KTP (kartu tanda penduduk)," katanya.

Menurut Saggaf keinginan sebagian umat Islam untuk menjadikan Indonesia sebagai negara ber-syariat Islam harusnya melalui proses tahapan. Dia mengatakan, jika semua umat Islam sudah menyadari akan pentingnya syariat Islam maka dengan sendirinya syariat Islam akan terlaksana di Indonesia.

"Kalau semua umat Islam ini sudah baik, maka dengan sendirinya syariat Islam akan dijalankan. Oleh sebab itu mari kita mulai memperbaiki dari kita sendiri dan keluarga," katanya.

Dia mengatakan, dalam menegakkan syariat Islam ada skala prioritas yang harus didahulukan.

"Bukan sebaliknya, mendahulukan yang tidak prioritas," katanya.(A055)



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026