Logo Header Antaranews Sulteng

Melihat Sulawesi Tengah Lewat Bingkai

Selasa, 9 April 2013 12:38 WIB
Image Print
Sejumlah warga melintasi jalan setapak yang curam membawa jerigen untuk mengambil air bersih di Dusun III Desa Towale Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu (19/12). (ANTARASulteng/Mohamad Hamzah)
pemerintah setempat harus kerja keras melanjutkan yang sudah baik dan membenahi yang masih kurang baik," kata Basri.

Palu (antarasulteng.com) - Seorang bocah laki-laki sedang duduk di ranjang rumah sakit dengan perut buncit, mirip perempuan hamil sembilan bulan.

Urat perut bocah tersebut tampak jelas karena kulitnya kian tipis akibat pembesaran tumor ganas yang tak kunjung terobati.

Kondisi anak penyakitan asal Kabupaten Donggala itu tertuang dalam sebuah foto hasil jepretan Muhammad Taufan yang dipampang dalam pameran foto menyambut HUT ke-49 Provinsi Sulawesi Tengah selama sepekan hingga 13 April 2013.

Hasil bidikan Taufan pada pertengahan 2011 itu ternyata menggugah pemerintah setempat untuk mengobati si bocah dengan membiayai pembedahannya.

Namun beberapa hari setelah cairan dikeluarkan dari perut buncit itu, bocah tadi meninggal dunia karena penyakitnya sudah akut karena terlambat mendapat penanganan.

Foto yang dipamerkan selanjutnya adalah gambar sekelompok kecil manusia yang memanggul alat pikulan yang di kiri-kanannya terdapat jeriken air kosong.

Mereka berjalan menuruni jalan setapak di perbukitan untuk mencari air bersih.

Foto karya Mohamad Hamzah itu menunjukan betapa susahnya sebagian warga mendapat sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Pada foto berukuran 10R itu, terlihat di sekeliling para pencari air tidak ada perumahan dan tumbuhan. Mungkin saja mereka mencari air belasan kilometer dari rumahnya.

Lain lagi foto hasil jepretan Ola Gondronk yang membidik seorang pria sedang menembakkan senjata rakitan ke arah tertentu.

Foto itu diambil pada saat terjadi bentrok antarwarga di Kabupaten Sigi beberapa bulan silam.

Senjata rakitan yang dalam istilah setempat disebut "dum-dum" marak digunakan saat bentrok antarwarga di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah.

Bentrok yang kerap terjadi itu sering menimbulkan korban jiwa namun masyarakat tak bosan-bosan melakukan tindakan yang tidak ada gunanya itu.

Asap mengepul yang keluar dari moncong senjata berbentuk mirip pistol dengan laras sepanjang sekitar 60 cm itu menunjukkan benda tersebut berbahaya apabila letusannya mengenai orang di depannya.

Pemandangan lain juga disampaikan Roni Shandy, jurnalis surat kabar harian ini mencoba memperlihatkan kondisi Kota Palu yang mulai dilanda kemacetan lalu lintas di jalan-jalan tertentu.

Roni memotret kondisi jalan Emmy Saelan yang saat itu dilanda kemacetan lalu lintas. Kendaraan hanya bisa merambat pelan karena tidak ada petugas yang mengatur.

Kemacetan itu terjadi di depan sebuah pusat perbelanjaan Kota Palu yang kebetulan terdapat dua persimpangan jalan tanpa lampu pengatur lalu lintas sehingga kerap terjadi kemacetan.

Kemacetan mulai dirasakan warga Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah sekitar dua tahun ini menyusul meningkatkan jumlah kendaraan yang tanpa diimbangi pengaturan lalu lintas atau pelebaran jalan.

Kondisi itulah yang coba diperlihatkan oleh Roni Shandy dengan memotret kemacetan dari jembatan penyeberangan yang juga jarang difungsikan.

Sementara itu, jauh di tenggara Sulawesi Tengah, tampak seorang ibu bersama dua bocah yang kemungkinan adalah anak kandungnya berjalan menyusuri perkampungan transmigrasi di Kabupaten Morowali.

Kawasan perumahan transmigrasi itu terlihat sepi, tidak ada masyarakat yang lalu-lalang, dan berdasarkan "caption" foto karya Ilham Noosy, warga transmigran mulai meninggalkan kampungnya karena lahan garapan yang tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Kritik pemerintah

Dalam pameran yang berlangsung selama sepekan hingga 13 April 2013, terpampang 60 foto karya jurnalis dan warga Sulawesi Tengah.

Pameran bertajuk "Sulawesi Tengah Menuju Setengah Abad" tersebut berlangsung di lantai dasar Kantor Gubernur Sulawesi Tengah yang saban hari dilewati Gubernur Longki Djanggola, Wakil Gubernur Sudarto dan pejabat lain yang berkunjung ke gedung tersebut.

Koordinator pameran sekaligus Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sulawesi Tengah Basri Marzuki mengatakan foto-foto yang dipamerkan merupakan kejadian atau kondisi riil serta fakta yang ada di masyarakat provinsi ini.

"Bukan hanya foto hasil pembangunan yang sudah baik selang 49 tahun, melainkan fakta-fakta sosial yang masih harus dibenahi pada pembangunan selanjutnya," ujar Basri.

Berbagai foto itu mengkritisi sisi lain keberhasilan pembangunan Sulawesi Tengah dari sisi kesehatan, pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Menurutnya, pemerintah setempat harus kerja keras, melanjutkan yang sudah baik dan membenahi yang masih kurang baik.

Provinsi Sulawesi Tengah kini berumur 49 tahun, sebuah usia tergolong matang untuk bisa menunjukkan jati diri di tengah pesatnya perkembangan jaman.

Provinsi yang memiliki 10 kabupaten dan satu kota ini memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 7,83 pada akhir 2012 atau di atas rata-rata nasional. Sebuah prestasi yang selalu dibanggakan pemimpin provinsi ini.

Namun di balik pesatnya pertumbuhan ekonomi itu masih banyak tercecer warga miskin yang jumlahnya mencapai 400 ribu orang dari 2,8 juta jiwa penduduk.

Selain itu masih banyak pengangguran, daerah yang belum tersentuh pelayanan kesehatan serta warga yang belum menikmati basahnya air bersih.

Sementara pada foto karya Mohammad Awal diperlihatkan Gubernur Longki Djanggola menunduk dan penuh perhatian mendengarkan bisikan dari seorang warga.

Entah apa yang dibisikkan warga itu kepada Longki, hanya si pembisik dan pendengarnya yang mengetahuinya.

Bisa saja, warga itu menagih janji-janji kepada Longki Djanggola saat masa kampanye selama pilkada. Mungkin terjemahan seperti itulah yang coba ditawarkan Mohammad Awal, sang fotografer, kepada masyarakat.

Longki sendiri dalam visi-misi pemerintahannya 2011-2016 bertekad mensejajarkan daerah ini dengan provinsi maju di kawasan timur Indonesia melalui agrobisnis dan kelautan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. (R026)



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026