Suara Petasan Ganggu Satwa
Sabtu, 10 Agustus 2013 15:11 WIB
(FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)
Sukabumi (antarasulteng.com) - Gaduhnya pesta kembang api saat perayaan malam takbiran yang
ledakannya sampai wilayah konservasi ternyata mempengaruhi satwa liar
khuusnya satwa yang di lindungi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGGP).
Akibat ledakan tersebut satwa-satwa yang menghuni TNGGP menjadi stres, walau tidak menyebabkan kematian tetapi bisa mengganggu habitat satwa liar seperti perkembangbiakannya dan mengancam kelangsungan hidup satwa-satwa yang ada di Gunung Gede dan Pangrango.
"Kami meminta pihak kepolisian untuk mengkaji ulang pesta kembang api dan melarang untuk digunakan di lokasi-lokasi dekat dengan hutan atau taman nasional," kata kata aktivis Volunteer Panthera Ligar Sonagar kepada wartawan, Jumat.
Menurut Ligar, selain mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang berada di TNGGP di khawatirkan ledakan kembang api tersebut menyambar pohon kering yang bisa menyebabkan kebakaran hutan. Maka dari itu, para aktivis meminta kepada Balai Besar TNGGP untuk memperketat izin wisatawan yang datang ke lokasi wisata seperti Pondok Halimun yang ada di Desa Sudajaya Girang Kecamatan/Kabupaten Sukabumi.
Lebih lanjut, adapun satwa liar dilindungi yang ada di TNGGP antara lain, Elang Jawa, macan tutul/kumbang, Owa Jawa dan lain-lain. Jika kondisi seperti ini didiamkan maka wisatawan yang datang akan mengulangi tindakan berbahaya bagi kelangsungan hidup satwa liar di sini.
Selain itu, akibat adanya pesta kembang api dengan disertai suara letusan mercon di udara, sejumlah pengunjung di kawasan yang masih alami merasa terganggu. Bahkan beberapa orang diantaranya merasa ketakutan dengan suara-suara ledakan yang memekakan telinga.
Akibat ledakan tersebut satwa-satwa yang menghuni TNGGP menjadi stres, walau tidak menyebabkan kematian tetapi bisa mengganggu habitat satwa liar seperti perkembangbiakannya dan mengancam kelangsungan hidup satwa-satwa yang ada di Gunung Gede dan Pangrango.
"Kami meminta pihak kepolisian untuk mengkaji ulang pesta kembang api dan melarang untuk digunakan di lokasi-lokasi dekat dengan hutan atau taman nasional," kata kata aktivis Volunteer Panthera Ligar Sonagar kepada wartawan, Jumat.
Menurut Ligar, selain mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang berada di TNGGP di khawatirkan ledakan kembang api tersebut menyambar pohon kering yang bisa menyebabkan kebakaran hutan. Maka dari itu, para aktivis meminta kepada Balai Besar TNGGP untuk memperketat izin wisatawan yang datang ke lokasi wisata seperti Pondok Halimun yang ada di Desa Sudajaya Girang Kecamatan/Kabupaten Sukabumi.
Lebih lanjut, adapun satwa liar dilindungi yang ada di TNGGP antara lain, Elang Jawa, macan tutul/kumbang, Owa Jawa dan lain-lain. Jika kondisi seperti ini didiamkan maka wisatawan yang datang akan mengulangi tindakan berbahaya bagi kelangsungan hidup satwa liar di sini.
Selain itu, akibat adanya pesta kembang api dengan disertai suara letusan mercon di udara, sejumlah pengunjung di kawasan yang masih alami merasa terganggu. Bahkan beberapa orang diantaranya merasa ketakutan dengan suara-suara ledakan yang memekakan telinga.
Pewarta : Aditya A Rohman
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Brida Sulteng gandeng Fapetkan Untad riset pakanhijauan untuk Rusa Timor
29 September 2025 12:14 WIB
Pertamina EP DMF berhasil ubah pola hidup masyarakat Kokolomboi lestarikan alam dan satwa endemik Bangkep
21 April 2025 19:08 WIB, 2025
KLHK mulai survei macan tutul di Pulau Jawa untuk dapat data populasi
27 February 2024 11:51 WIB, 2024
Terpopuler - Wisata & Budaya
Lihat Juga
Pepadi Apresiasi Wali Kota Bandarlampung lestarikan budaya Indonesia
23 February 2020 11:31 WIB, 2020
Potensi rugi akibat berkurangnya wisman China mencapai 2,8 miliar dolar
13 February 2020 17:24 WIB, 2020
Wapres dorong dunia pariwisata dapat berinovasi sikapi dampak corona
10 February 2020 16:03 WIB, 2020