Dokter Reisa ingatkan akan risiko pasien COVID-19 terjangkit DBD
Jumat, 3 Juli 2020 19:54 WIB
Tangkapan layar anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dokter Reisa Broto Asmoro, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (3/7/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)
Jakarta (ANTARA) - Dokter Reisa Broto Asmoro meminta agar masyarakat tetap mewaspadai demam berdarah dengue (DBD) karena pasien COVID-19 juga memiliki risiko terinfeksi penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti itu.
"Puncak kasus DBD biasa terjadi menjelang pertengahan tahun seperti sekarang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus COVId-19 yang tinggi," kata anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 itu dalam konferensi pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta pada Jumat.
Dia memberi contoh beberapa provinsi dengan kasus DBD dan COVID-19 yang tinggi yaitu Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
Dia memperingatkan bahwa jumlah kasus DBD di Indonesia terus meningkat dengan data Kementerian Kesehatan memperlihatkan pada pekan ke-27 tahun ini terdapat lebih dari 70.000 kasus dan jumlah kematian hampir 500 orang.
"Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi COVID-19 juga berisiko terinfeksi DBD. Pada prinsipnya upaya untuk mencegahnya adalah menghindari infeksi, dan untuk DBD, gigitan nyamuk," tegas dia.
Dia mengingatkan warga untuk terus waspada karena pandemi membuat petugas sulit untuk datang langsung memberikan penyuluhan dan larvasida untuk memberantas jentik nyamuk. Warga juga disulitkan untuk melakukan pembersihan lingkungan karena pembatasan kegiatan akibat pandemi.
Karena itu, saat masyarakat sudah mulai dapat beraktivitas kembali Reisa berharap agar mulai memperhatikan tempat-tempat nyamuk bertelur seperti saluran air dan lokasi lain yang memiliki simpanan air.
"Puncak kasus DBD biasa terjadi menjelang pertengahan tahun seperti sekarang. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus COVId-19 yang tinggi," kata anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 itu dalam konferensi pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta pada Jumat.
Dia memberi contoh beberapa provinsi dengan kasus DBD dan COVID-19 yang tinggi yaitu Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
Dia memperingatkan bahwa jumlah kasus DBD di Indonesia terus meningkat dengan data Kementerian Kesehatan memperlihatkan pada pekan ke-27 tahun ini terdapat lebih dari 70.000 kasus dan jumlah kematian hampir 500 orang.
"Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi COVID-19 juga berisiko terinfeksi DBD. Pada prinsipnya upaya untuk mencegahnya adalah menghindari infeksi, dan untuk DBD, gigitan nyamuk," tegas dia.
Dia mengingatkan warga untuk terus waspada karena pandemi membuat petugas sulit untuk datang langsung memberikan penyuluhan dan larvasida untuk memberantas jentik nyamuk. Warga juga disulitkan untuk melakukan pembersihan lingkungan karena pembatasan kegiatan akibat pandemi.
Karena itu, saat masyarakat sudah mulai dapat beraktivitas kembali Reisa berharap agar mulai memperhatikan tempat-tempat nyamuk bertelur seperti saluran air dan lokasi lain yang memiliki simpanan air.
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
CPM dan Puskesmas Talise lakukan fogging di Kelurahan Tondo untuk cegah DBD
24 July 2025 12:48 WIB, 2025
Epidemiolog ingatkan masyarakat waspada demam berdarah di musim hujan
21 November 2024 12:31 WIB, 2024
Adib berbagi pengalaman berobat DBD dengan Jaminan Kesehatan Nasional
30 October 2024 13:30 WIB, 2024
Anaknya sembuh dari DBD berkat BPJS Kesehatan gratis dari Pemkot Palu
07 August 2024 12:37 WIB, 2024