WVI Dan Pemkab Sigi Bangun Demplot Kelor
Kamis, 2 Juni 2016 11:56 WIB
Tanam kelor: Manager Program Wahana Visi Indonesia (WVI) Kabupaten Sigi, Sbtarina Dwi Febryanti (kanan) menanam bibit kelor di lokasi demplot di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Sigi. (Foto ANTARA/Anas Masa
Palu, (antarasulteng.com) - Lembaga non-profit Wahana Visi Indonesia (WVI) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membangun demplot pengembangan tanaman kelor sebagai komoditas dagang yang bernilai ekonomi tinggi.
Masyarakat Kota Palu selama ini memanfaatkan daun kelor hanya sebagai sayuran, padahal tanaman ini bernilai ekonomis tinggi, kata Manager Program WVI Sigi Sabtarina Dwi Febriyanti, Kamis.
Lokasi kebun percontohan budidaya kelor terletak di Pegunungan Moringa Lukubara, Desa Balane, Kecamatan Kinovaro.
Penanaman perdana bibit kelor dilakukan Kepala Bidang Pengawasan Pemantauan Konservasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sigi, Yoke A Mangandaheng dan Manager Program WVI Sigi, Sabtarina Dwi Febriyanti.
Sabtarina mengatakan untuk tahap pertama penanaman bibit kelor sebanyak 500 pohon pada areal seluas setengah hektare. Lokasi yang dijadikan areal budidaya tanaman kelor merupakan lahan milik masyarakat setempat.
Bibit yang dikembangkan ada dua jenis yaitu bibit kelor lokal dan juga didatangkan dari Kupang.
"Kita akan lihat apakah bibit dari daerah lain bisa cocok dikembangkan di daerah ini dengan kondisi struktur tanah yang berbeda," kata dia.
Namun melihat kondisi tanah yang ada di wilayah Pegunungan Lukubara, sepertinya cocok untuk budidaya kelor baik bibit kelor lokal maupun dari Kupang.
"Bahkan pemerintah desa sudah berjanji jika ini berhasil tumbuh dengan baik, maka luas areal lahan budidaya kelor akan ditambah," katanya.
Soal lahan untuk pengembangan kelor di desa itu, menurut Kepala Desa Balane Arman S Puru yang dikutip Sabtarina, luas sekali.
Jadi ke depan, jika demplot ini berhasil, dipastikan kelor akan dikembangkan secara besar-besaran di wilayah itu dan juga wilayah lainnya.
Bahkan, rencananya sesuai dengan program dari BLH Kabupaten Sigi akan dikembangkan di dua desa lain yakni Sibedi dan Padende masing-masing tahap awal 500 pohon.
Dari segi ekonomi, komoditi ini termasuk yang sangat menjanjikan karena pangsa pasar tidak hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Berdasarkan hasil kunjungannya ke salah satu petani di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtarina mengatakan bahwa kalau kelor yang ditanam dari biji bisa bertahan sampai 70 tahun.
Berbada dengan kelor yang ditanam dari hasil stek batang kelor yang sudah ada hanya bisa bertahan sampai 30 tahun. Karena itu, yang akan dikembangkan di Kabupaten Sigi adalah kelor yang berasal dari biji.
Selain itu, kata dia, semua bagian pohon kelor bisa dimanfaatkan mulai dari daun, bunga, batang, biji sampai akar antara lain untuk obat deabetes, rematik, kolestrol dan juga bahan baku komestik dan minyak.
Khusus minyak kelor untuk pelumas, harganya cukup mahal sekitar Rp1,5 juta per 10 mililiter.
Dia juga menambahkan permintaan pasar mancanegara untuk komoditi kelor di NTT cukup tinggi dan petani di daerah itu belum mampu memenuhi permintaan itu.
Sementara Kepala Bidang Pengawasan Pemantauan Konservasi Sumber Daya Alam BLH Kabupaten Sigi, Yoke A Mangadaheng menyambut positif program yang dilakukan oleh WVI di daerah itu.
Program-program WVI selama melakukan pendampingan di sejumlah desa di beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi selama ini sangat membantu pemerintah dan masyarakat.
Masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi, khususnya di tiga kecamatan Marawola, Marawola Barat dan Kinovaro selama beberapa tahun terakhir ini telah banyak menerima manfaat dari kehadiran WVI.
Bukan hanya ekonomi masyarakat yang terus diberdayakan dengan berbagai kegiatan usaha dan keterampilan, tetapi juga anak-anak usia sekolah dibina untuk masa depan mereka.
Menyangkut program pengembangan tanaman kelor, Yoke mengatakan selain untuk mendukung program "Sigi Hijau" yang diluncurkan Pemkab Sigi pada 2016 ini, juga untuk memanfaatkan lahan tidur dan kritis.
Pengembngan tanaman kelor pada 2016 ini baru dilakukan di tiga desa yakni Balane, Kecamatan Kinovaro dan Desa Padende serta Sibedi di Kecamatan Marawola.
Tetapi ke depan nanti jika memang program ini mendpat respon besar dari masyarakat, maka akan dilakukan lagi di lima desa di Kabupaten Sigi.
Ia juga mengatakan bahwa soal pasar kelor tidak susah karena permintaan konsumen di sejumlah negara cukup tinggi dan sampai sekarang petani belum mampu memenuhi kebutuhan pasar itu. (BK03)
Masyarakat Kota Palu selama ini memanfaatkan daun kelor hanya sebagai sayuran, padahal tanaman ini bernilai ekonomis tinggi, kata Manager Program WVI Sigi Sabtarina Dwi Febriyanti, Kamis.
Lokasi kebun percontohan budidaya kelor terletak di Pegunungan Moringa Lukubara, Desa Balane, Kecamatan Kinovaro.
Penanaman perdana bibit kelor dilakukan Kepala Bidang Pengawasan Pemantauan Konservasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sigi, Yoke A Mangandaheng dan Manager Program WVI Sigi, Sabtarina Dwi Febriyanti.
Sabtarina mengatakan untuk tahap pertama penanaman bibit kelor sebanyak 500 pohon pada areal seluas setengah hektare. Lokasi yang dijadikan areal budidaya tanaman kelor merupakan lahan milik masyarakat setempat.
Bibit yang dikembangkan ada dua jenis yaitu bibit kelor lokal dan juga didatangkan dari Kupang.
"Kita akan lihat apakah bibit dari daerah lain bisa cocok dikembangkan di daerah ini dengan kondisi struktur tanah yang berbeda," kata dia.
Namun melihat kondisi tanah yang ada di wilayah Pegunungan Lukubara, sepertinya cocok untuk budidaya kelor baik bibit kelor lokal maupun dari Kupang.
"Bahkan pemerintah desa sudah berjanji jika ini berhasil tumbuh dengan baik, maka luas areal lahan budidaya kelor akan ditambah," katanya.
Soal lahan untuk pengembangan kelor di desa itu, menurut Kepala Desa Balane Arman S Puru yang dikutip Sabtarina, luas sekali.
Jadi ke depan, jika demplot ini berhasil, dipastikan kelor akan dikembangkan secara besar-besaran di wilayah itu dan juga wilayah lainnya.
Bahkan, rencananya sesuai dengan program dari BLH Kabupaten Sigi akan dikembangkan di dua desa lain yakni Sibedi dan Padende masing-masing tahap awal 500 pohon.
Dari segi ekonomi, komoditi ini termasuk yang sangat menjanjikan karena pangsa pasar tidak hanya dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Berdasarkan hasil kunjungannya ke salah satu petani di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtarina mengatakan bahwa kalau kelor yang ditanam dari biji bisa bertahan sampai 70 tahun.
Berbada dengan kelor yang ditanam dari hasil stek batang kelor yang sudah ada hanya bisa bertahan sampai 30 tahun. Karena itu, yang akan dikembangkan di Kabupaten Sigi adalah kelor yang berasal dari biji.
Selain itu, kata dia, semua bagian pohon kelor bisa dimanfaatkan mulai dari daun, bunga, batang, biji sampai akar antara lain untuk obat deabetes, rematik, kolestrol dan juga bahan baku komestik dan minyak.
Khusus minyak kelor untuk pelumas, harganya cukup mahal sekitar Rp1,5 juta per 10 mililiter.
Dia juga menambahkan permintaan pasar mancanegara untuk komoditi kelor di NTT cukup tinggi dan petani di daerah itu belum mampu memenuhi permintaan itu.
Sementara Kepala Bidang Pengawasan Pemantauan Konservasi Sumber Daya Alam BLH Kabupaten Sigi, Yoke A Mangadaheng menyambut positif program yang dilakukan oleh WVI di daerah itu.
Program-program WVI selama melakukan pendampingan di sejumlah desa di beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi selama ini sangat membantu pemerintah dan masyarakat.
Masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi, khususnya di tiga kecamatan Marawola, Marawola Barat dan Kinovaro selama beberapa tahun terakhir ini telah banyak menerima manfaat dari kehadiran WVI.
Bukan hanya ekonomi masyarakat yang terus diberdayakan dengan berbagai kegiatan usaha dan keterampilan, tetapi juga anak-anak usia sekolah dibina untuk masa depan mereka.
Menyangkut program pengembangan tanaman kelor, Yoke mengatakan selain untuk mendukung program "Sigi Hijau" yang diluncurkan Pemkab Sigi pada 2016 ini, juga untuk memanfaatkan lahan tidur dan kritis.
Pengembngan tanaman kelor pada 2016 ini baru dilakukan di tiga desa yakni Balane, Kecamatan Kinovaro dan Desa Padende serta Sibedi di Kecamatan Marawola.
Tetapi ke depan nanti jika memang program ini mendpat respon besar dari masyarakat, maka akan dilakukan lagi di lima desa di Kabupaten Sigi.
Ia juga mengatakan bahwa soal pasar kelor tidak susah karena permintaan konsumen di sejumlah negara cukup tinggi dan sampai sekarang petani belum mampu memenuhi kebutuhan pasar itu. (BK03)
Pewarta : Anas Masa
Editor : Anas Masa
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020