Palu (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah tumbuh sebesar 8,32 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan I 2026.

“Nilai perekonomian Sulteng berdasarkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) triwulan I tahun 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp110.267,82 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp57.438,68 miliar,” kata Kepala BPS Sulteng Daryanto dalam kegiatan rilis resmi di Palu, Selasa.

Ia mengatakan jika dibandingkan triwulan I 2025, ekonomi Sulteng tumbuh positif sebesar 8,32 persen pada triwulan I 2026. Angka ini meski melambat dibandingkan periode sebelumnya, masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen.

Ia menyebut tiga lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi Sulteng, yakni industri pengolahan sebesar 43,43 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 16,19 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 14,17 persen.

“Ketiga lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi sebesar 73,79 persen terhadap perekonomian Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Dari sisi produksi, lanjut dia, industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,09 persen sejalan adanya peningkatan produksi komoditas logam dasar, diikuti pertambangan dan penggalian sebesar 3,42 persen serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 1,92 persen.

“Pada triwulan I 2026 secara tahunan, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 5,94 persen,” ujarnya.

Sementara dari sisi pengeluaran, kata dia, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,03 persen, diikuti ekspor barang dan jasa sebesar 11,95 persen.

Kemudian konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 8,01 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,44 persen, serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 1,96 persen.

Secara struktur, perekonomian Sulawesi Tengah dari sisi pengeluaran masih didominasi oleh komponen ekspor barang dan jasa dengan kontribusi sebesar 115,12 persen, diikuti PMTB sebesar 37,72 persen dan konsumsi rumah tangga sebesar 27,15 persen.

Namun demikian, ia juga menyebutkan secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan I-2026 mengalami kontraksi sebesar 6,98 persen dibandingkan triwulan IV 2025.

Ia menambahkan, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 18,85 persen, diikuti industri pengolahan sebesar 11,28 persen dan pertambangan serta penggalian sebesar 7,46 persen.