
Respons Moody's, BCA jamin pertumbuhan kredit sehat
Rabu, 11 Februari 2026 14:40 WIB

Jakarta (ANTARA) - Merespons turunnya outlook BCA berdasarkan lembaga pemeringkat Moody’s, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menjamin postur pertumbuhan kredit BCA berada pada proses yang sehat, serta mengacu kepada prinsip kehati-hatian (prudence).
“Kami tetap akan menjaga postur loan growth (pertumbuhan kredit) kami berada pada proses yang sehat dan bisa kami pertanggungjawabkan,” ujar Hera ketika ditemui di sela-sela peluncuran Ocean by BCA yang digelar di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, saat ini Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah BCA masih terjaga, bisnis BCA berjalan dengan sangat baik, dan hingga saat ini BCA tidak merasakan ada efek apa pun dari pertumbuhan kredit tersebut.
Hera juga menjamin bahwa kredit yang diberikan sudah melewati proses kehati-hatian dan ketaatan, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebih.
“BCA bisa meyakinkan bahwa kredit yang kami berikan itu sudah melewati proses yang prudence (hati-hati). Kekhawatiran berlebihan menurut saya tidak dibutuhkan,” ucapnya.
Dia juga menegaskan bahwa BCA taat terhadap apa pun yang menjadi persyaratan dasar dalam memberikan kredit yang berkualitas, aman, dan nyaman untuk para debiturnya.
“Dan kami akan tetap menjaga itu dalam track yang memang saat ini sudah kami jaga,” kata Hera.
Ia pun merasa turunnya outlook BCA dari stabil menjadi negatif merupakan hak Moody’s untuk memberikan penilaian dalam konteks makro ekonomi Indonesia.
Selaku salah satu bagian dari pelaku utama bisnis di Indonesia, lanjut dia, BCA mengikuti arus perdagangan dan arus ekonomi Indonesia.
“Jadi, kami merasa bahwa itu (penurunan peringkat) adalah hak Moody’s untuk memberikan penilaian,” kata Hera.
Sebagai informasi, lembaga pemeringkat Moody’s pada Kamis (5/2) mengumumkan untuk mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.
Sejalan dengan langkah tersebut, Moody’s juga merevisi outlook lima bank di Indonesia menjadi negatif, antara lain Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Central Asia (BCA), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Alasan Moody’s menurunkan outlook BCA dari stabil ke negatif adalah pertumbuhan kredit yang pesat selama periode 2023–2025 pada segmen korporasi dan UMKM.
Menurut Moody’s, ROTA (Return on Total Assets) BCA akan turun tipis menjadi sekitar 3,5 persen pada 2026.
Adapun kinerja intermediasi perbankan pada 2025 tercatat tumbuh positif yakni sebesar 9,63 persen (year on year/yoy) menjadi Rp8.586 triliun. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,83 persen yoy menjadi Rp10.059 triliun.
Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
