Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala (USK) Abu Bakar mengatakan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor mempercepat tekanan terhadap sektor kopi.
Sebelumnya sektor tersebut sudah terdampak perubahan iklim, sehingga berpotensi menurunkan produktivitas kopi Gayo di dataran tinggi Aceh.
“Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas,” kata Abu Bakar dalam keterangannya pada Rabu.
Ia menjelaskan banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 turut berdampak pada kawasan dataran tinggi Gayo yang mencakup Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah sebagai sentra produksi kopi arabika.
Selain kehilangan tanaman, kata dia, petani juga menghadapi risiko penurunan kualitas hasil panen karena tanaman yang terdampak air berlebih cenderung mengalami stres sehingga memengaruhi pembentukan buah kopi.
Abu Bakar menyebutkan perubahan pola curah hujan memperburuk kondisi tersebut. Berdasarkan data jangka panjang, terjadi peningkatan curah hujan tahunan, namun distribusinya tidak merata sehingga hujan intens dalam waktu singkat meningkatkan potensi longsor di wilayah perbukitan tempat kopi ditanam.
Menurut dia, kondisi tersebut juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit, seperti karat daun dan penggerek buah, yang semakin menekan hasil produksi.
Sementara itu, seorang petani kopi di Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah, Zubaidah (59), mengaku sebagian kebun kopinya rusak akibat banjir disertai material longsor.
“Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak,” kata Zubaidah.
Ia menyebutkan dari total 20 rante kebun kopi miliknya, sekitar delapan rante mengalami kerusakan.
Selain merusak tanaman, material longsor menutup permukaan tanah dan berpotensi mengganggu kesuburan lahan sehingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.
Zubaidah menambahkan akses jalan yang sempat terputus selama beberapa hari juga menghambat distribusi hasil kebun serta pasokan kebutuhan petani.
Sejumlah petani mulai melakukan upaya pemulihan dengan membersihkan lahan tertimbun material dan menanam kembali tanaman yang rusak, meski proses tersebut membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.
Petani juga mulai menerapkan langkah adaptasi seperti penggunaan tanaman naungan dan sistem tumpang sari untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan risiko kerusakan lahan.
Abu Bakar menilai dengan kopi sebagai penopang ekonomi utama di dataran tinggi Gayo, dampak bencana hidrometeorologi berpotensi memengaruhi produksi regional dalam jangka menengah jika pemulihan tidak dilakukan secara cepat.