Sigi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) segera menerapkan program adaptasi perubahan iklim di enam desa di daerah tersebut dengan melibatkan konsorsium KOLABORASI.
Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae mengatakan program adaptasi perubahan iklim merupakan salah satu upaya memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak krisis iklim, khususnya di sektor pertanian dan wilayah pedesaan.
"Jadi program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan kekeringan yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat," kata Rizal saat ditemui di Dolo, Rabu.
Ia mengemukakan nantinya program tersebut akan difokuskan pada tiga pilar utama yakni penguatan dukungan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah, penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di tingkat desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.
"Sudah ada 1.500 penerima manfaat ditargetkan akan terlibat dalam program ini yang tersebar di enam desa seperti Desa Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo," ucapnya.
Ia menuturkan pentingnya sinergitas antara pemerintah daerah dengan konsorsium Kolaborasi dalam implementasi program adaptasi perubahan iklim tersebut.
Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah yang cukup rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama ancaman banjir dan kekeringan yang kerap mempengaruhi sektor pertanian masyarakat.
"Tentunya dengan adanya keterbatasan fiskal daerah, program ini menjadi penyemangat pemerintah daerah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi," sebutnya.
Sementara itu Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Franky Zamzani menyebutkan bahwa program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh praktik baik dalam pelaksanaan adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.
Menurut dia, pemerintah pusat mendorong pendekatan adaptasi perubahan iklim yang tidak hanya berorientasi pada kebijakan nasional, tetapi juga mampu menjawab persoalan riil di tingkat masyarakat.
"Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur," kata Franky.
Ia menjelaskan program tersebut menjadi salah satu model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang inklusif dan tepat sasaran.
"Tentunya pendekatan yang diterapkan dalam program ini ke depan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan," ujarnya.
Diketahui Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung sampai dengan April 2028.
"Harapannya program ini mampu memperkuat fondasi kolaborasi multipihak dalam mewujudkan daerah yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang," tuturnya.
Konsorsium KOLABORASI merupakan gabungan sejumlah lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, yakni Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Water Stewardship Indonesia (WSI), serta Earth Innovation Institute (EII).