Wow... Ada Sandal Kesehatan Dari Kulit Durian
Rabu, 19 Desember 2012 20:34 WIB
Ilustrasi (ANTARA/Arif Pribadi)
Semarang - Dua pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Kebon Dalem Semarang mengolah kulit buah durian menjadi sandal kesehatan yang memiliki beragam manfaat.
"Kami ingin memanfaatkan kulit durian yang sebelumnya terbuang percuma. Daripada dibuang, lebih baik jika dimanfaatkan," kata Alan Setiawan (14), siswa pengkreasi sandal durian di Semarang, Rabu.
Menurut siswa kelas X itu, pembuatan sandal kesehatan itu relatif cukup mudah, yakni dengan menempelkan kulit-kulit durian yang sebelumnya sudah dipoles di atas bakiak (sandal kayu) yang dibeli di pasar.
Dibantu Calvin Yanuar (14) kawan sekelasnya, mereka memulai dengan mengampelas kulit durian agar durinya tidak terlalu tajam, kemudian langsung ditempelkan pada bakiak yang sudah dipersiapkan.
Duri-duri kulit durian yang sudah diampelas itu menjadi sarana refleksi kaki yang cukup efektif karena sanggup "memijat" titik-titik syaraf di telapak kaki saat memakai sandal itu untuk berjalan.
Alan mengaku bahwa banyak yang tertarik dengan sandal kesehatan kreasi mereka, terutama kalangan guru dan orang tua siswa yang mengetahui jika kedua siswa itu mampu mengolah kulit durian jadi sandal kesehatan.
Meski demikian, dia mengatakan bahwa dirinya tetap mengutamakan tugas utamanya, yakni belajar, sementara pesanan dilayani jika waktunya senggang, misalnya, sedang tidak disibukkan dengan tugas-tugas dan ujian sekolah.
"Apalagi, proses membuatnya juga mudah. Kalau sedang longgar, kami membuat sendiri sandal kayu untuk alasnya. Ya, tidak lama juga membuatnya, paling sekitar 15 menit sudah jadi sepasang," katanya.
Namun, dia mengaku tidak jarang mereka memilih membeli bakiak jadi di pasar untuk bahan baku yang kemudian ditempelinya dengan kulit durian sebagai alas jika memang tidak sempat membuat sandal kayu.
"Kalau membuat sandal kayu sendiri bisa disesuaikan dengan ukuran yang diinginkan. Ya, memang butuh proses. Kalau beli langsung bakiak jadi, ya, ukurannya sudah ditentukan, tinggal ditempel kulit durian," katanya.
Untuk mencari kulit durian, kata dia, bukan perkara yang sulit, sebab saat musim durian seperti sekarang banyak sekali penjual buah beraroma menyengat itu di pasar dan pinggir-pinggir jalan.
Ia mengaku tinggal meminta kulit durian yang sudah tidak terpakai itu dari para penjual, biasanya pada sore hari saat sampah-sampah kulit durian sudah terkumpul dalam jumlah cukup banyak.
Alan mengaku memiliki kiat jitu untuk menghilangkan aroma durian yang menyengat dengan cairan khusus, yakni boraks, meski tidak sampai 100 persen menghilangkan aroma khas durian yang melekat.
"Sandal kesehatan dari kulit durian ini kami jual Rp15 ribu/pasang. Kami hanya sekadar berkreasi, sekaligus daur ulang limbah. Sandal kesehatan ini paling tahan enam bulan karena lama-lama kulit durian busuk," kata Alan.(KR-ZLS)
"Kami ingin memanfaatkan kulit durian yang sebelumnya terbuang percuma. Daripada dibuang, lebih baik jika dimanfaatkan," kata Alan Setiawan (14), siswa pengkreasi sandal durian di Semarang, Rabu.
Menurut siswa kelas X itu, pembuatan sandal kesehatan itu relatif cukup mudah, yakni dengan menempelkan kulit-kulit durian yang sebelumnya sudah dipoles di atas bakiak (sandal kayu) yang dibeli di pasar.
Dibantu Calvin Yanuar (14) kawan sekelasnya, mereka memulai dengan mengampelas kulit durian agar durinya tidak terlalu tajam, kemudian langsung ditempelkan pada bakiak yang sudah dipersiapkan.
Duri-duri kulit durian yang sudah diampelas itu menjadi sarana refleksi kaki yang cukup efektif karena sanggup "memijat" titik-titik syaraf di telapak kaki saat memakai sandal itu untuk berjalan.
Alan mengaku bahwa banyak yang tertarik dengan sandal kesehatan kreasi mereka, terutama kalangan guru dan orang tua siswa yang mengetahui jika kedua siswa itu mampu mengolah kulit durian jadi sandal kesehatan.
Meski demikian, dia mengatakan bahwa dirinya tetap mengutamakan tugas utamanya, yakni belajar, sementara pesanan dilayani jika waktunya senggang, misalnya, sedang tidak disibukkan dengan tugas-tugas dan ujian sekolah.
"Apalagi, proses membuatnya juga mudah. Kalau sedang longgar, kami membuat sendiri sandal kayu untuk alasnya. Ya, tidak lama juga membuatnya, paling sekitar 15 menit sudah jadi sepasang," katanya.
Namun, dia mengaku tidak jarang mereka memilih membeli bakiak jadi di pasar untuk bahan baku yang kemudian ditempelinya dengan kulit durian sebagai alas jika memang tidak sempat membuat sandal kayu.
"Kalau membuat sandal kayu sendiri bisa disesuaikan dengan ukuran yang diinginkan. Ya, memang butuh proses. Kalau beli langsung bakiak jadi, ya, ukurannya sudah ditentukan, tinggal ditempel kulit durian," katanya.
Untuk mencari kulit durian, kata dia, bukan perkara yang sulit, sebab saat musim durian seperti sekarang banyak sekali penjual buah beraroma menyengat itu di pasar dan pinggir-pinggir jalan.
Ia mengaku tinggal meminta kulit durian yang sudah tidak terpakai itu dari para penjual, biasanya pada sore hari saat sampah-sampah kulit durian sudah terkumpul dalam jumlah cukup banyak.
Alan mengaku memiliki kiat jitu untuk menghilangkan aroma durian yang menyengat dengan cairan khusus, yakni boraks, meski tidak sampai 100 persen menghilangkan aroma khas durian yang melekat.
"Sandal kesehatan dari kulit durian ini kami jual Rp15 ribu/pasang. Kami hanya sekadar berkreasi, sekaligus daur ulang limbah. Sandal kesehatan ini paling tahan enam bulan karena lama-lama kulit durian busuk," kata Alan.(KR-ZLS)
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkum Sulteng kawal pendaftaran IG Kopi Batui-Durian Asaan Pagimana Banggai
29 January 2026 14:54 WIB
Apdurin terus berkomitmen jaga pasar ekspor durian beku Indonesia di Tiongkok
09 January 2026 8:04 WIB
Terpopuler - Pendidikan & Iptek
Lihat Juga
Studi tiru ke Yogyakarta, Imigrasi Palu perkuat kesiapan rute Internasional
20 February 2026 19:50 WIB
Pemprov Sulteng segera bayarkan UKT 2.173 mahasiswa UIN Datokarama Palu penerima beasiswa
11 February 2026 12:48 WIB