
Alfius, Satu Guru Untuk Satu Sekolah

"Kalau tidak ada yang bersedia, biarlah saya mengajar sendiri di sini hingga akhir hayat," kata pria yang saat ini melanjutkan studi di Universitas Terbuka milik Uiversitas Tadulako Palu ini.
Setiap hari dia berdiri mengajar di enam kelas, dari kelas satu sampai kelas enam. Lelaki inipun tak memilih-milih mata pelajaran karena dia pun mampu mengajar semua mata pelajaran.
Dialah Alfius, satu guru untuk semua murid di satu sekolah.
Meski statusnya hanya guru honorer, Alfius (40 tahun) seorang diri rela mengajar SD Bala Keselamatan di Desa Lawe, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Ditemui baru-baru ini di Palu, Alfius mengatakan bahwa SD Bala Keselamatan Lawe saat ini memiliki 89 murid yang terbagi dalam enam kelas.
Setiap pagi ia memulai harinya dengan mengajar murid kelas I dan kelas II yang digabung dalam satu ruangan sementara kelas lainnya menunggu giliran untuk diberikan ilmu.
Sebenarnya ada seorang kepala sekolah namun sudah beberapa tahun ini menderita stroke sehingga tidak bisa mengajar.
"Jadi saya mengajar seorang diri murid kelas I hingga kelas VI," kata pria kelahiran Desa Lawe, Kabupaten Sigi, 24 Februari 1972 ini.
Lelaki yang mengajar sejak 2005 ini menuturkan, saat memberi pelajaran di kelas, sejumlah murid di kelas yang lain terpaksa menganggur dan menunggu pelajaran selesai.
Guru yang pernah digaji Rp75 ribu per bulan ini mengaku harus mengatur jam belajar anak didiknya masuk sekolah agar pemberian pelajaran bisa maksimal.
"Beginilah mengajar seorang diri, harus pintar-pintar membagi waktu," kata ayah dari Chandra (8 tahun) dan Citro (3 tahun) ini.
Pria yang pernah mendapat penghargaan dari Pemkab Sigi atas dedikasinya mengajar di sekolah terpencil ini berharap ada guru lain yang bisa mengajar di SD Bala Keselamatan Lawe agar murid-murid bisa maksimal menyerap ilmu.
"Kalau tidak ada yang bersedia, biarlah saya mengajar sendiri di sini hingga akhir hayat," kata pria yang saat ini melanjutkan studi di Universitas Terbuka milik Uiversitas Tadulako Palu ini.
Setiap Sabtu usai mengajar, Alfius harus menempuh pendidikan di perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuannya mengajar. Program studi yang diambil adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), sesuai keahliannya.
Desa Lawe di mana Alfius hidup bersama istri dan kedua anaknya adalah daerah terpencil dan terisolsi. Untuk menuju Desa Lawe, dibutuhkan waktu 10 jam dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Itupun cuma bisa ditempuh menggunakan sepeda motor.
Berharap jadi PNS
Meski menikmati statusnyas sebagai honorer, dalam hati kecil, Alfius tetap ingin diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Saat ini Alfius mendapat honor Rp800 ribu per bulan untuk jerih payahnya mengajar siswa satu sekolah. Seharunya dia diupah enam kali dari honornya saat ini, sesuai jumlah kelas yang diajar.
Jika hanya mengandalkan upah dari pekerjaannya sebagai guru honorer, Alfius mengaku tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sekeluarganya.
Sepulang dari sekolah, pria yang pernah bekerja di perusahaan minyak di Kalimantan ini harus bekerja lagi di kebun coklat yang berada tidak jauh dari rumahnya. Namun demikian, Alfius mengaku pekerjaan utamanya adalah sebagai guru.
Ia juga mengenang ketika diberi honor sebesar Rp75 ribu saat ia mulai mengajar pada 2005. Dia tidak mengambil honor tersebut, selain nominalnya sedikit, ia juga harus bersusah payah ke Kota Palu untuk mengambil upah tersebut.
Untuk menuju Kota Palu dari Desa Lawe dibutuhkan waktu sekitar 10 jam.
"Jadi saya memutuskan untuk tidak mengambil honor tersebut karena tidak sebanding dengan perjalanan yang saya tempuh," katanya.
Alfius mengaku tidak putus asa dengan kondisi itu karena mengajar dan mencoba mencerdaskan warga sekitar sudah menjadi tekad hidupnya.
Dia juga mengisahkan awal mula ketertarikannya mengajar di SD Bala Keselamatan Lawe.
Sepulang dari perantauan di Kalimantan pada 2005, Alfius melihat gedung sekolah nampak kotor dan di sekelilingnya ditumbuhi rumput dan ilalang.
"Hanya sapi dan kambing yang 'sekolah' di gedung itu," kata suami Sherly ini.
Pada awal ia mengajar, murid di sekolah itu hanya sekitar 40 anak. Kini jumlah siswa terus meningkat hingga dua kali lipat. Dia lalu mulai mengusulkan renovasi gedung sekolah. Saat ini proses pembangunan sudah berlangsung hingga 50 persen.
Alfius berharap dengan adanya gedung baru itu, minat anak-anak untuk belajar semakin tinggi.
"Biarpun saya mengajar seorang diri, saya tidak akan berhenti. Hanya kematian yang bisa menghentikan saya mengajar," katanya.
Dia mampu mengajar semua mata pelajaran. Dia mengajar murid dari kelas I hingga kelas VI dalam sehari. Dia juga menjadi guru untuk istri dan kedua anaknya. Alfius, satu guru untuk semua. (R026)
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
