
Krisis dan Teknologi Supra

Teknologi itu terbukti dapat memproduksi udang vaname secara efisien dengan produktifitas 153 ton/ha/musim tanam (4 bulan) meskipun pada kondisi iklim yang cukup ekstrim."
NILAI TUKAR terus melemah hingga menembus angka Rp14.500 per dolar AS dan diperparah musim penghujan belum yang tak kunjung tiba, sehingga berdampak terhadap turunnya kinerja ekspor komoditas agro dan perikanan karena proses budidaya terganggu dan akhirnya mengancam pasokan bahan baku ke industri prosessing.
Untuk meredam krisis, diperlukan tambahan deposit dolar ke dalam negeri antara lain melalui peningkatan volume dan nilai ekspor komoditas termasuk udang. Tercatat ekspor perikanan Indonesia tahun 2014 sekitar 4,7 miliar dolar AS dan separuhnya disumbangkan oleh udang dari bahan baku sekitar 250.000 ton.
Melemahnya nilai tukar membuat ongkos produksi meningkat karena hampir 60 persen input produksi seperti induk udang, tepung ikan, kincir, pompa air dan peralatan lainnya masih diimpor. Namun ini bukan persoalan karena diimbangi dengan harga jual yang mengikuti nilai tukar.
Selain itu, berkurangnya suplai bahan baku ikut mendongkrak harga. Kini udang vaname ukuran 50 ekor per kilogram di tingkat pembudidaya dihargai Rp80.000,- per kilogram yang sebelumnya sekitar Rp60.000,-.
Panjangnya musim kering menyebabkan salinitas (kadar garam) air tambak meningkat tajam dan beda temperatur air siang dan malam menjadi ekstrim. Kedua variabel lingkungan ini menghambat pertumbuhan udang sehingga memerlukan waktu lebih lama dari biasanya dan ongkos lebih mahal untuk mencapai ukuran tertentu, bahkan di beberapa kasus menyebabkan kematian massal. Oleh karena itu diperlukan teknologi budidaya yang dapat diimplementasikan untuk memproduksi udang meskipun kondisi iklim tidak menunjang.
Teknologi Supra
Ada empat klasifikasi teknologi budidaya udang yaitu teknologi sederhana, semi intensif, intensif dan supra intensif. Penerapan teknologi supra dapat mencapai produktifitas 150 ton per ha/musim tanam atau 300 kali lipat dari produktifitas teknologi sederhana; 60 kali teknologi semi intensif serta 10 kali teknologi intensif.
Tingginya produktifitas teknologi ini kuncinya antara lain terletak pada kemampuan mengendalikan lingkungan internal budidaya agar homogen secara vertikal dan horisontal. Karena itu luasan tambak sengaja dirancang berukuran relatif kecil antara 100-1000 meter persegi dengan kedalaman air 2,5-3 meter, menggunakan Central Draind (pembuang limbah mekanis) agar lingkungan internal tambak senantiasa bersih sehingga udang tetap nyaman, meskipun ditebar dengan kepadatan tinggi mencapai 1.000 ekor per meter persegi.
Teknologi budidaya udang supra intensif adalah temuan Dr. Ir Hasanuddin Atjo, MP tahun 2011 melalui kajian panjang (2004-20010) di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Teknologi itu terbukti dapat memproduksi udang vaname secara efisien dengan produktifitas 153 ton/ha/musim tanam (4 bulan) meskipun pada kondisi iklim yang cukup ekstrim seperti saat ini dan tercatat sebagai teknologi berproduktivitas tertinggi dunia.
Karena itu cara budidaya seperti ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam rangka menjaga dan meningkatkan pasokan bahan baku ke industri hilir guna peningkatan perolehan devisa, penyerapan tenaga kerja serta sebagai jawaban upaya menekan konversi lahan mangrove menjadi tambak teknologi sederhana yang masih marak. Kini teknologi ini telah direplikasi di Sulteng, Sulsel, NTT dan menyusul sejumlah provinsi lainnya dalam skala yang masih terbatas, bahkan yang perlu 'diwaspadai' adalah beberapa pelaku usaha dari Tiongkok, Malaysia, Vietnam dan Korea Selatan telah melirik teknologi ini.
Peran Pemerintah
Bila ditargetkan dalam kurun lima tahun (2015-2020) secara nasional terbangun tambak udang teknologi supra setara 5.000 ha dan diasumsikan produktifitasnya 100 ton saja /ha/musim tanam, maka dalam setahun akan ada ketambahan produksi sebesar 1.000.000 ton atau meningkat menjadi tiga kali lipat.
Efek domino dari peningkatan produksi ini adalah diperlukan kehadiran sejumlah industri seperti induk udang (brodstock) dan benih (hatchery); industri peralatan dan mesin; industri pakan yang efisien; industri prosessing dan industri ikutan. Semua ini tentunya akan menarik masuknya investasi baru atau relokasi, membuka lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi sekaligus menunjang suksesnya obsesi menjadi poros maritim dunia dengan tol lautnya.
Hal yang terpenting dari upaya meredam krisis oleh kontribusi subsektor perikanan umumnya dan khususnya udang adalah bagaimana Pemerintah dapat berperan sebagai 'dirigen' yang mampu mengharmonisasikan nada dan gerak peran stakeholder lainnya termasuk menjamin keamanan berinvestasi melalui legalitas tata ruang-rencana zonasi pesisir serta pengendalian konflik sosial ; kemudahan berinvestasi seperti perizinan; penyediaan infrastruktur dasar (listrik, air bersih, dan transportasi); serta menciptakan kondisi agar lembaga keuangan lebih percaya diri dan tertarik membiayai komoditas ini karena bisnis ini masih dipandang 'high risk' belum 'high calculate.'
Selain itu diperlukan peningkatan kapasitas pelaku usaha yang sudah ada serta rekruitmen pelaku usaha baru yang berorientasi kepada penerapan teknologi maju sebagaimana program Pemerintah 'mencetak sejuta wirausaha muda'. Kehadiran sebuah inkubator bisnis dan inovasi sangat diperlukan guna melahirkan pelaku usaha dan operator atau tenaga teknis yang berparadigma industrial, sekaligus sebagai jawaban agar luaran Program Strata 1, Diploma dan SMK berkompetensi perikanan dapat bekerja di bidangnya.
Persoalan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi yang bermuara kepada kemajuan sebuah bangsa hanya dapat dijawab dengan teknologi. Ajakan Presiden/Wapres Jokowi-JK untuk 'kerja, kerja dan kerja' bermakna bahwa semua komponen harus segera bekerja secara cerdas, keras, mawas, tuntas dan ikhlas. Akhir kata 'saya bisa, kita bisa dan pasti bisa.' *Ketua Shrimp Club Indonesia Wilayah Sulawesi dan Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng. (R007)
Pewarta : DR Ir Hasanuddin Atjo, MP *)
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
