
BPBD Sulteng Mantapkan Kesiapan Hadapi Bencana Alam

Mau tidak mau kita harus siap, sebab semua daerah di Sulteng rawan bencana banjir, tanah longsor dan gempa bumi,
Palu, (antarasulteng.com) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Tengah terus melakukan pemantapan kesiapan dalam menghadapi bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Mau tidak mau kita harus siap, sebab semua daerah di Sulteng rawan bencana banjir, tanah longsor dan gempa bumi," kata Kepala BPBD Sulteng, Bartholomeus Tandigala di Palu, Kamis.
Dikatakan, ke-13 kabupaten/kota di Provinsi Sulteng rawan bencana alam. Kota Palu juga rawan bencana banjir, karena berbtasan langsung dengan Kabupaten Sigi yang selama ini memang termasuk paling rawan banjir dan tanah longsor serta gempa bumi.
Kabupaten Sigi banyak sungai dan ada beberapa sungai yang menyatu bermuara di Sungai Palu. Meski di Palu tidak ada hujan, sewaktu-waktu bisa mendapat banjir kiriman jika di hulu sungai terjadi peningkatan intensitas curah hujan seperi yang terjadi beberapa tahun lalu.
Menghadapi berbagai fenomena alam yang sewaktu-waktu terjadi disaat musim hujan, BPBD baik provinsi, kabupaten dan kota di seluruh wilayah Sulteng beberapa bulan terakhir terus gencar melaksanakan koordinasi dan sosialisasi kepada masyarakat.
Sosialisasi dimaksud adalah memberikan pemahanan dan pencerahan kepda masyarakat bagaimana dan apa yang dilakukan ketika terjadi bencana alam.
Dengan adanya sosialisasi tersebut, kata Bartholomeus, paling tidak masyarakat, khususnya yang selama ini berada di wilayah-wilayah yang rawan bencana alam banjir, tanah longsor dan gempa bumi sudah siap bila terjadi bencana.
Dengan sendirinya,paking tidak mereka bisa menolong dirinya dan keluarga untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akibat dari bencana alam.
Misalnya, ketika banjir bandang, mereka sudah bisa menyelamatkan sendiri diri dan keluarganya dengan mengungsi ke tempat yang aman.
Selain itu, dalam kegiatan sosialisasi juga memberikan imbauan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan di wilayahnya dengan tidak menebang atau sembarangan membuka lahan di kawasan hutan, termasuk di kawasan hutan lindung yang memang dilarang keras untuk warga membuka untuk kepentingan apapun itu.
Bukan hanya itu, kami juga terus mengingatkan masyarakat di kabupaten dan kota di Sulteng agar berhenti membakar lahan guna mencegah terjadinya kebakaran hutan seperti yang terjadi musim kemarau panjang 2015.
Akibat dari ada warga yang membakar lahan kebun, akhirnya api meluas membakar kebun milik warga lain dan hutan sekitarnya.
Seperti yang terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una, Tolitoli, Banggai, Donggala dan Parigi Moutong pada 2015. Sumber api karena ada warga membersihkan kebun dengan membakar.
Juga karena ulah sebagian warga yang membuat putung rokok sembarangan dan membakar padang ilalang untuk kebutuhan pakan ternak.
"Semua ini yang kami sosialisasikan kepada masyarakat supaya tidak lagi terjadi pada 2016 ini,"kata Bartholomeus putra berdarah Toraja yang kini telah meraih doktor padasalah satu perguruan tinggi di Tanah Air itu.
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
