Donggala (ANTARA) -
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memfokuskan program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk penanganan masalah stunting pada anak.
“Lebih bagus kita buatkan MBG khusus untuk anak stunting. Jangan disamaratakan. Karena ibu yang paling tahu apa yang dimakan anaknya. Negara hadir, pemerintah bantu, tapi tetap berbasis keluarga,” kata Gubernur Sulteng Anwar Hafid saat pencanangan program inovasi Berani Pelita Hati untuk peduli kesehatan ibu dan anak di Posyandu Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sabtu.
Dia menjelaskan rencana penguatan Program MBG yang diarahkan lebih fokus untuk anak-anak stunting, dengan pendekatan yang tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan kondisi gizi masing-masing anak.
Dia pun meminta jajaran perangkat daerah untuk segera menyiapkan skema tersebut, termasuk melibatkan pemerintah desa, tim pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK) dan organisasi perangkat daerah (OPD), agar bantuan gizi dapat langsung menyentuh keluarga sasaran.
Dia pun membagikan kisah masa kecilnya, untuk menguatkan para orang tua agar tidak takut atau minder ketika anaknya mengalami stunting. Kata dia, stunting bukan penyakit menular dan bukan aib, melainkan kondisi yang harus ditangani bersama melalui gotong royong dan intervensi yang tepat.
“Kalau ada rakyat kita seperti itu, harus dibantu, bukan dijauhi. Jangan sampai pencanangan hari ini berhenti sampai di sini,” ujarnya.
Gubernur menetapkan target evaluasi enam bulan ke depan, tepatnya Juli 2026. Ia berjanji akan kembali ke Desa Nupabomba untuk melihat langsung hasil intervensi.
“Saya mau datang lagi enam bulan ke depan. Yang hari ini tercatat 29 anak stunting di Nupabomba, saya berharap sudah tidak ada lagi,” katanya menegaskan.
Sebagai langkah konkret, Gubernur mengusulkan pola pendampingan langsung satu OPD satu anak, dengan estimasi bantuan sekitar Rp15.000 per hari atau Rp400–450 ribu per bulan per anak, yang diberikan langsung kepada ibu dengan pendampingan PKK dan tenaga kesehatan.
“OPD jangan datang ke rumah binaan dengan tangan kosong. Bawa telur, buah, susu. Bukan hanya anaknya yang diurus, ibunya juga harus kita perhatikan,” pesannya.
Program tersebut akan dijadikan pilot project di Desa Nupabomba dan Desa Ganti, sebelum direplikasi ke desa-desa lain di Sulawesi Tengah.
