Palu (ANTARA) -
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) mengelar Tabligh Akbar dan dzikir bersama masyarakat jelang pergantian tahun 2025 ke tahun 2026.
“Sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian, malam ini kita berkumpul di rumah Allah untuk berdoa bersama. Kita memohon agar Sulawesi Tengah senantiasa dalam lindungan-Nya, aman, damai, dan rukun, sekaligus mendoakan saudara-saudara kita yang sedang diuji agar diberi kekuatan lahir dan batin,” kata Gubernur Sulteng Anwar Hafid di Masjid Raya Baitul Khairaat Palu, Rabu malam.
Tabligh Akbar tersebut menghadirkan penceramah Ustadz Ruslan Demanto, Hadir pula Gubernur Sulawesi Tengah ke-2 Bandjela Paliudju, Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sekretaris Daerah Novalina, unsur Forkopimda Sulteng, dan ribuan masyarakat Kota Palu dan kabupaten sekitar.
Gubernur menjelaskan, pemerintah provinsi sejak awal telah mengimbau agar perayaan malam tahun baru dilakukan secara sederhana dan penuh empati. Hal tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang tengah berjuang bangkit dari bencana alam, sebagaimana yang pernah dialami Sulawesi Tengah pada 2018 silam.
Gubernur menyampaikan bahwa sebelum menghadiri Tabligh Akbar, dirinya bersama Kapolda melakukan patroli untuk memantau situasi keamanan Kota Palu. Ia mengaku bersyukur karena suasana kota relatif tenang, yang menurutnya menjadi tanda meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merayakan pergantian tahun dengan cara yang lebih bermakna.
Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat yang dengan kesadaran sendiri memilih mengisi malam pergantian tahun di masjid, meninggalkan tradisi euforia di luar yang selama ini kerap dilakukan. Menurutnya, hal ini menjadi refleksi spiritual yang penting untuk menyongsong tahun baru dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih baik.
Sementara itu, dalam tausiahnya, Ustadz Ruslan Demanto mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum muhasabah diri. Ia mengingatkan bahwa setinggi apa pun jabatan dan status seseorang, hakikatnya tetaplah seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Ustadz Ruslan menekankan bahwa Allah sering menguji manusia melalui dua hal, yakni harta dan kedudukan. Banyak orang, kata dia, berubah sikap ketika merasa memiliki segalanya, hingga lupa untuk rendah hati dan menjaga adab terhadap sesama.
“Kalau ingin hidup tenang dan bahagia, jangan pernah merasa ‘ada’ atau ingin selalu dianggap ada. Ketika seseorang sudah merasa tinggi, sering kali cara bicara, sikap, dan perilaku berubah, dan itu tidak disukai oleh Allah,” pesannya.
Tabligh Akbar dan dzikir bersama itu berlangsung hingga menjelang pergantian tahun, ditutup dengan doa untuk keselamatan, keberkahan, serta harapan agar Sulawesi Tengah dan seluruh negeri senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT di tahun yang akan datang.
